Setahun belakangan, obrolan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence, A.I.) ramai dalam obrolan sehari-hari di berbagai komunitas di sekitar kita. Walaupun masih banyak yang belum tahu pasti tentang apa itu kecerdasan buatan, dan hanya meraba-raba isu yang meliputinya, kita telah bisa merasakan hangatnya topik ini, terutama yang berkaitan dengan dunia kerja.
Sebagian dari mereka yang pro pada dasarnya telah melihat manfaat yang diberikan oleh A.I. Sebagaimana teknologi lainnya, A.I. berfungsi untuk membuat pekerjaan manusia semakin efektif dan efisien. Dengan memberikan perintah dan kata kunci yang sesuai, A.I. dapat mengerjakan proposal, laporan, atau deskripsi produk, misalnya, dalam waktu yang sangat singkat.
Tak bisa dimungkiri, teknologi A.I. membuat kita semua terpukau. Teknologi ini begitu convenient, kita bahkan bisa memanfaatkannya untuk iseng-iseng, memasukkan kata kunci tertentu hanya untuk mengetahui hasil seperti apa yang akan muncul darinya. Ia membuat otak kita tak lagi harus ngoyo untuk mengerjakan hal-hal yang enggan kita pikirkan. Lagi-lagi, tinggal klak-klik-klak-klik sedikit, semuanya bisa cepat beres.
Problem Etis yang Terlewatkan
Teknologi adalah sesuatu yang identik dengan kemajuan, dan kemajuan selalu menjadi sesuatu yang trendy (secara common sense, sulit membayangkan ada orang-orang yang mendambakan kemunduran, hehe). Dengan demikian, orang-orang cenderung melekatkan dirinya pada trendinya kemajuan teknologi, setidaknya seperti sering kita lihat bagaimana sebagian orang memperbarui gawainya, bukan karena rusak, tapi karena sudah tertinggal dari teknologi terbaru.
Dan begitu pula yang terjadi saat perbincangan tentang A.I. mulai menghangat. Beberapa rekan tentu saja mencoba menggunakan A.I. dan membagikan hasilnya kepada teman-temannya yang lain. Disengaja maupun tidak, pada dasarnya mereka telah mendemonstrasikan bahwa dirinya telah mampu mengadopsi kemajuan teknologi termutakhir, dan telah menjadi bagian dari sesuatu yang trendi.
Seorang kawan bahkan tak ragu mengunggah sebuah tulisan di kanal medianya, dengan mencantumkan pada bagian akhirnya bahwa tulisan tersebut dibuat menggunakan Chat GPT, salah satu layanan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (syukurlah, keterangan tersebut dicantumkan). Tentu saja, ada banyak motivasi orang memanfaatkan kecerdasan buatan, membuat konten adalah salah satunya.
Jika kecerdasan dibuat untuk sekadar membuat konten, yang tujuannya meningkatkan traffic dan engagement, mungkin masalah ini tak perlu terlalu dipusingkan. Apalagi jika dicantumkan bahwa pembuatannya memang memanfaatkan kecerdasan buatan, seperti kawan tadi. Namun, problemnya muncul ketika seorang kreator konten (penulis, atau bahkan seniman?) memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat sesuatu yang diakui sebagai karya intelektualnya.
Pertanyaannya, sejauh mana secara etis peran kecerdasan buatan boleh dimanfaatkan dalam pembuatan sebuah karya? Mungkinkah kita mengetahui bahwa sebuah karya dibikin dengan bantuan kecerdasan buatan? Apakah memanfaatkan kecerdasan buatan itu memang bisa dibenarkan secara etis? Saya khawatir, jangan-jangan trendinya teknologi telah membuat kita melupakan nalar kritis kita.
Rick Beato dan Keresahan tentang Autotune
Persoalan terkait kecerdasan buatan tadi, tidak bisa tidak mengingatkan saya kepada situasi yang mirip yakni terkait teknologi musik belakangan ini. Rick Beato, seorang penggiat musik sekaligus Youtuber yang cukup tersohor, beberapa kali mengeluhkan penggunaan autotune yang berlebihan untuk mengoreksi nada seorang penyanyi dalam berbagai produksi musik.
Sejak dipopulerkan oleh Cher dalam single Believe pada 1998, autotune terus dikembangkan dan belakangan digunakan dalam kadar yang bisa dibilang eksesif. Sekarang, berkat autotune, semua orang bisa bernyanyi tanpa takut menghasilkan nada yang sumbang. Teknologi juga memungkinkan ketukan drum yang berlarian bisa dirapikan bak dimainkan oleh robot. Dengan mesin bernama komputer yang tersedia di rumah-rumah, sekarang setiap orang bisa memproduksi musik dan mendaku diri musisi.
Lagi-lagi, tak ada yang salah jika semua orang bisa membuat musiknya sendiri dari rumah. Masalahnya, produksi musik tidak lagi sepenuhnya mengandalkan kemampuan dan selera si pembuatnya, namun juga didikte oleh pilihan-pilihan yang tersaji dalam komputer. Proses kreatif justru dikungkung oleh teknologi, terseragamkan oleh pilihan-pilihan yang tersedia dalam software, sehingga kreativitas musikal jadi kehilangan harganya.
Tidak hanya itu, keterampilan (craftsmanship) dalam bermusik menjadi tak penting lagi. Orang-orang semakin tak peduli dengan dedikasi mengenai bagaimana sebuah karya musik dibikin, bagaimana peliknya sound masing-masing instrumen diproduksi dan diolah demi membangun sebuah atmosfer musikal, apalagi menyangkut detil-detil teknis lainnya.
Dan sebagai akibatnya, seperti berbagai hal lainnya, semakin banyak orang “mengonsumsi” musik demi sensasionalitasnya belaka. Sebagai bagian dari sesuatu yang trendi, banyak orang memutar musik yang sedang viral bukan lagi karena lagunya enak atau relatable dengan kehidupannya, tapi karena yang penting bisa dipenggal-penggal dan direproduksi sebagai latar video TikTok, yang meski berpeluang numpang viral, tetap akan terlupakan seminggu kemudian.
Punahnya Subjektivitas
Dari racauan Rick Beato tentang teknologi musik tadi, kita juga bisa melihat bahwa ketika produksi sebuah karya semakin bergantung pada teknologi, maka rentan semakin tipis pula unsur subjektivitas para pembuatnya.
Padahal, subjektivitas (baca: karakter) sebagai individu manusia adalah salah satu elemen terpenting yang bisa membuat sebuah karya melekat dalam sanubari para penikmatnya. Elemen subjektif ini pulalah yang membuat sebuah karya masih terus dinikmati dan diperbincangkan dalam puluhan hingga ratusan tahun setelahnya.
Tanpa elemen subjektif yang kuat, teknologi akan mudah mengambil alih kendali. Gejalanya sudah bisa kita raba: Orang tak lagi peduli apakah sebuah karya dibuat oleh manusia atau mesin.
Elemen subjektif ini tidak hanya sekadar diproduksi, tapi juga harus dikenali dan dinikmati oleh para konsumennya. Masih ada sedikit waktu bagi kita sebelum kecerdasan buatan mampu meniru elemen subjektif ini (jangankan cuma tulisan, A.I. bahkan sudah bisa membuat musik sendiri). Ketika masa itu tiba, artinya kita telah sama sekali tergantikan oleh kecerdasan buatan.
Semakin sering kita memanfaatkan kecerdasan buatan, maka masa itu akan semakin cepat datang. Akan semakin cepat pula kecerdasan buatan belajar dengan menyerap data-data yang kita berikan tanpa sadar. Akhirnya, kita semakin bergantung pada mesin berpikir ini, membuat otak kita semakin pasif dalam mengolah informasi. Hal ini terasa semakin mengerikan jika mengingat bahwa teknologi seringkali dikuasai dan dimanipulasi oleh mereka-mereka yang berkuasa.
***
Naif jika mengatakan bahwa teknologi adalah sesuatu yang bebas nilai. Justru sebaliknya, teknologi tidak pernah bebas nilai. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia mencapai tujuannya. Artinya, teknologi selalu berkelindan dengan kepentingan manusia, dan kepentingan—dalam apapun intensinya—akan selalu politis.
Pendeknya, penciptaan teknologi tak bisa lepas dari unsur politis yang memungkinkan eksistensinya. Pun tak terkecuali kecerdasan buatan yang sedang ramai kita bicarakan ini. Sebagaimana banyak hal di dunia ini, teknologi juga akan dihadapkan pada hubungan-hubungan kuasa dalam wacananya: Apakah kita akan dengan mudah berkompromi, bernegosiasi, atau beresistensi sama sekali?
Sayangnya, kita masih sering melihat teknologi semata-mata sebagai keniscayaan jaman, di mana manusia hanya harus beradaptasi dan menerimanya. Padahal, teknologi selalu politis dan mesti dipandang melalui kacamata yang kritis. Manusia mestinya tidak merelakan dirinya hanya menjadi konsumen (baca: objek) atas teknologi, tapi mestinya juga harus memanfaatkannya secara kritis, punya kuasa dan mampu mengintervensi teknologi yang diciptakannya sendiri.
Jadi, gimana cara mengintervensi kecerdasan buatan ini?
Ya, nggak tahu. Kok tanya saya? Hahaha.
Bhagaskoro Pradipto, pemabuk wacana, tinggal di Badung, Bali.
[red/rien]

