“Ternyata, kampung halamanku tidak lagi ramah kepada makhluk cantik sepertimu. Mereka memilih mengurung perempuan dengan alasan demi keamanan dan membiarkan macan bebas di luar sana.”
Sudah berbulan-bulan aku mencarimu, perempuan yang selalu menari-nari dalam kepala. Perempuan berambut hitam panjang, berkulit pualam dengan bibir cherry yang segar. Hampir setiap malam, kamu menyelinap di bawah alam sadarku kemudian menggerayangi tubuhku seperti orang kalap dan menyisakan lengket juga basah pada kasurku di pagi hari. Setelah rutin mengajakku bertualang hingga payah, kini kamu menghilang.
Sudah dua minggu dan aku sulit melacak keberadaanmu. Aku tak hapal parasmu, tak ingat namamu apalagi alamatmu. Aku hanya mengingat aroma tubuhmu serta lincahnya gerakanmu saat merayap di atasku. Aku mencoba menyelidiki keberadaanmu di antara sosok perempuan-perempuan yang kutemui di tempat kerja atau yang berpapasan di jalan. Akan tetapi tidak ada yang sama, tak ada yang seperti kamu.
Mungkin aku memang terlambat untuk menyadari pentingnya kamu dalam kehidupanku. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menemukanmu. Sebentar lagi usiaku memasuki 40 tahun, usia yang sangat matang. Seharusnya kamu berhenti bermain-main di dalam mimpiku karena aku sudah menunggumu sejak lima belas tahun lalu.
***
Aku memutuskan untuk mencarimu di kampung halaman, tempat yang kuanggap paling ramah terhadap perempuan. Setelah melewati perjalanan panjang beserta dengan prosesnya yang rumit, aku tiba di sebuah kota kecil di sebuah pulau terpencil yang banyak ditinggal pergi pemudanya.
Hampir sebagian besar laki-laki berusia produktif di kota ini pergi merantau, mencari penghidupan yang dianggap lebih layak dan menyisakan para orang tua yang masih aktif menggarap ladang dan sawah, serta wanita-wanita yang sebagian besar tidak bekerja. Namun, sejak kedatanganku di dermaga itu tiga hari lalu, sama sekali tak kutemukan seorang perempuan di pulau ini. Mungkinkah aku bisa menemukanmu di sini?
Kota ini tak banyak berubah. Pembangunan kotanya masih begitu-begitu saja. Infrastruktur juga masih ala kadarnya. Bentuk pasar, rumah ibadah masih seperti sepuluh tahun lalu saat aku meninggalkan kota ini untuk merantau. Hanya aktivitasnya saja yang terlihat lebih sepi.
“Sudah sejak satu tahun lalu tidak ada perempuan di kota ini,” ujar Pak Jajang saat kami duduk di warung kopi Mang Udin suatu sore.
Di warung ini pun sama, tidak ada perempuan. Mang Udin, pemilik warung melayani sendiri pelanggan-pelanggannya. Padahal saat aku masih remaja, warung ini selalu ramai bahkan isu yang kudengar Mang Udin tidak hanya menjual kopi tapi juga “susu segar”. Namun, yang kulihat hari ini berbeda. Mang Udin hanya menjual kopi, gorengan, dan tidak ada “susu segar” yang disajikan.
“Pada ke mana perempuannya, Pak?” tanyaku penasaran.
Pak Jajang hanya menghela napas panjang dan belum menjawab pertanyaanku. Begitu juga Mang Udin yang kala itu ikut duduk bersama kami. Sore itu pengunjung sedang sepi dan Mang Udin punya waktu untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan.
“Perempuan-perempuan itu ada, tidak pergi ke mana-mana.”
Mang Udin menjawab sambil menyesap rokoknya. Dia menoleh pada lelaki kurus di sebelahnya. Pak Jajang kemudian menceritakan sebuah cerita yang membuat dahiku berkerut.
“Begini …”
Pak Jajang memulai kisahnya.
“Satu tahun lalu kota ini kedatangan tiga ekor macan. Macannya belang-belang, dengan taring tajam dan kuku-kuku yang panjang. Macan-macan itu semuanya jantan dan suka mengaum. Suara auman membuat siapa saja yang mendengar akan merinding dan bersembunyi ketakutan. Macan-macan itu sering berjalan berkeliling kota.”
Pak Jajang menghentikan ceritanya untuk menyesap rokok di tangannya.
“Awalnya, semua orang akan lari takut jika bertemu dengan sang macan. Tetapi lambat laun, melihat macan-macan itu jinak dan bersahabat, orang-orang mulai tidak takut. Macan-macan itu tidak menerkam sehingga mereka bebas bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Mereka sudah bisa hidup berdampingan bersama sang macan. Namun, ketenangan itu hanya terjadi selama tujuh hari. Pada hari kedelapan, seorang perempuan ditemukan mati di dekat taman kota. Bajunya koyak, tubuhnya tercabik-cabik. Diduga, dia mati setelah diserang macan.”
Aku memperbaiki posisi dudukku, menyimak dengan antusias cerita Pak Jajang, sambil berdoa bukan kamu yang tewas diserang macan.
“Penduduk kota gempar dan bertanya-tanya. Kenapa ada korban serangan macan, padahal selama satu minggu mereka aman. Dua malam setelahnya, seorang perempuan yang pulang bekerja di malam hari juga ditemukan tewas mengenaskan. Perempuan itu juga mati diduga diterkam macan. Semakin lama, semakin banyak korban perempuan yang meninggal. Namun, penduduk kota yang pernah bertemu macan memberi kesaksian bahwa macan tidak menyerang. Kemudian mereka membuat asumsi-asumsi, mungkin perempuan-perempuan itu berjalan di tempat gelap sehingga sang macan keliru menerkam, mungkin perempuan-perempuan itu mengganggu macan sehingga sang macan berhasrat menyerang atau mungkin perempuan-perempuan itu sengaja menyerang macan terlebih dahulu sehingga macan menjadi marah dan balik menerkam.”
Pak Jajang menoleh ke arahku yang terus mengamatinya dengan dahi berkerut.
“Asumsi-asumsi terus berkembang, tetapi tidak ada satupun yang berani menangkap macan. Semakin lama korban semakin banyak. Bahkan korbannya tidak lagi perempuan yang berjalan sendirian di tempat gelap atau perempuan yang pulang terlalu malam. Macan mulai menyerang perempuan di siang hari juga di tempat-tempat umum dan ramai.”
Aku bergidik mendengar cerita Pak Jajang.
“Bisa habis kalau begini perempuan di kampung ini,” selorohku menyela cerita.
Pak Jajang dan Mang Udin mengangguk bersamaan.
“Kenapa macannya tidak ditangkap? Kenapa malah dibiarkan saja?” tanyaku sambil menoleh ke arah Pak Jajang dan Mang Udin secara bersamaan.
Mereka saling pandang, bingung. Membuatku semakin berkernyit tak mengerti. Tak kuduga, Pak Jajang tertawa diikuti oleh Mang Udin.
“Macan salahnya apa? Selama ini mereka, kaum laki-laki, aman-aman saja bekerja atau beraktivitas. Tidak ada serangan macan. Kenapa macan harus ditangkap?”
Mang Udin balik bertanya kepadaku. Keningku kembali berkerut, apalagi jika memikirkan keberadaanmu yang semakin tidak jelas.
“Bukankah banyak korban serangan macan?” tanyaku kebingungan.
Pak Jajang dan Mang Udin lagi-lagi tertawa.
“Macan tidak menyerang orang sembarangan, yang diserang pasti yang mengganggu dan perempuan-perempuan itu barangkali iseng mengganggu macan makanya diserang.” Mang Udin menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya. Pak Jajang mengangguk, setuju.
Aku terbatuk-batuk, bukan hanya karena asap kretek Mang Udin menyesakkan dadaku tetapi jawaban Pak Jajang dan Mang Udin membuat otakku yang tumpul semakin berkarat. Mereka kemudian menjelaskan bahwa sekarang sudah tidak ada lagi korban macan. Penduduk kota telah memutuskan untuk membiarkan macan bebas berkeliaran dan melarang perempuan keluar rumah demi melindungi mereka.
Perempuan-perempuan yang bekerja di luar rumah dipaksa berhenti. Perempuan dilarang berada di jalan-jalan, pasar, toko, warung, dan sekolah. Bahkan di tempat ibadah tidak ada lagi perempuan. Mereka harus di dalam rumah supaya aman. Jika mereka memaksa keluar dan menjadi korban terkaman macan berarti itu sudah pilihannya. Sebagai hewan buas, naluri macan memang menyerang, yang harus waspada, ya, korbannya. Maka agar aman, perempuan-perempuan itu yang harus dikurung di dalam rumah. Begitu penuturan Pak Jajang dan Mang Udin mengakhiri ceritanya.
Seketika aku seperti sedang berada di Taman Safari, di mana macan buas berkeliaran sedangkan manusia justru dikurung di dalam mobil demi keamanan saat berkunjung. Ternyata, kampung halamanku tidak lagi ramah kepada makhluk cantik sepertimu. Mereka memilih mengurung perempuan dengan alasan demi keamanan dan membiarkan macan bebas di luar sana. Lalu, aku harus mencarimu ke mana, duhai perempuan pengisi mimpi malamku?
Puspa Seruni, pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di beberapa media.
[red/af-na]

