Site icon ghibahin.id

Anak: Cerminan Diri Orang Tua

Foto oleh Pavel Danilyuk dari Pexels

“Oleh karena itu jadilah contoh yang baik dalam proses pembelajaran sosial, yaitu proses dan cara di mana anak belajar perilaku, norma sosial, nilai-nilai.”

Kemarin saya marah perihal masalah pekerjaan yang terbengkalai tak kunjung usai, seketika semua kata-kata kasar dan sumbang keluar dari mulut ini. Anak perempuan itu duduk di sudut sofa, dia memandangi ibunya yang sedari tadi nyerocos.

Melihat tatapan gadis kecil itu, saya pun mendadak terdiam dan serta merta menepuk dahi ini agar segera sadar. Stop! Kendalikan amarah di depan anak, karena anak adalah peniru ulung bukan? Katanya orang tua harus memberi contoh yang baik pada anak, menjadi suri tauladan bagi mereka.

Menjadi sosok figur pertama yang akan sering berinteraksi dan memberikan pengaruh besar bagi kehidupan mereka. Ayah dan ibu adalah model bagi anak-anak dalam hal bagaimana berperilaku, bersikap, dan berinteraksi dengan orang lain.

Orang tua harus kerap akrab sama yang namanya sabar, meskipun bersabar juga tidak semudah itu. Orang tua hanya manusia biasa, bisa melakukan kesalahan, lengah, sedih, marah, karena setumpuk rasa lelah yang penuh bergelayut di kedua bahunya. Tanggung jawab sebagai orang tua semakin berat seiring usia anak yang tak pernah berkurang melainkan terus bertambah bukan? 

Perihal Meniru

 Anak-anak adalah makhluk Tuhan yang belum mencapai titik sempurna, baik akal dan pemikirannya. Ayah dan ibu harus terus belajar untuk mau belajar sabar, namun masih ada saja orang tua yang suka mengasari, menyumpah serapah, bahkan tega mendera tubuh anak sendiri dengan siksaan fisik. Akibat dari banyaknya tanggungan, permasalahan pekerjaan sampai ekonomi. Semua itu membuat kesabaran dan kesadaran sebagai orang tua semakin menipis. 

Orang tua tiba-tiba saja menjadi pelupa, bahwa mereka telah menghabiskan banyak tenaga, materi dan air mata dalam proses merawat dan menemani anak sejak mereka bayi hingga dewasa. Jika tidak mau bersabar, tidak terus mengisi ulang bekal kesabaran, maka semua kerja keras kita dari sejak mengandung, melahirkan, merawatnya, semua menjadi sia-sia. Terutama sabar dalam memberikan contoh yang baik pada anak, melatih diri untuk bicara dan bersikap sebagaimana orang tua ingin anak ikut serta juga melakukannya. 

Keluarga adalah lingkungan utama, tempat anak-anak bersandar dan lebih banyak menghabiskan waktu mereka. Anak juga cenderung mengidentifikasi dirinya dengan orang tuanya di sana. Anak-anak berpikir, bahwa dengan meniru perilaku orang tua adalah cara terbaik untuk mewujudkan apa pun yang menjadi impiannya di masa depan. Maka saya perlu mengingat, bahwa anak-anak juga akan meniru perilaku buruk kedua orang tuanya. Terutama keluarga, orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sosial mereka. 

Meniru orang tua adalah salah satu bentuk pembelajaran sosial yang paling kuat. Oleh karena itu jadilah contoh yang baik dalam proses pembelajaran sosial, yaitu proses dan cara di mana anak belajar perilaku, norma sosial, nilai-nilai. Dari sana anak belajar berbagai keterampilan sosial melalui pengamatan dan interaksi dengan orang-orang di sekitar mereka. Anak juga dikenal sebagai seorang pengamat yang jenius, mereka senang mengamati, mendengar, dan meniru perilaku orang tua, orang-orang dewasa yang turut serta berinteraksi dengan mereka. 

Dengan hal ini, anak-anak memahami dan menginternalisasi norma dan nilai-nilai baik di dalam keluarga serta masyarakat pada umumnya. Proses pembelajaran sosial pada tiap anak kemudian akan melibatkan pengembangan empati, etika, pemahaman sosial, dan kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Berilah mereka kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai konteks sosial. Misalnya bermain bersama teman sebaya, berpartisipasi dalam kelompok, dan anggota keluarga. Ini adalah cara paling efektif bagi anak untuk mengembangkan keterampilan sosial sepanjang hidup mereka. 

Cerminan Diri

Pada saat kedua orang tua hanya menginginkan karakter dan sifat-sifat baik pada diri seorang anak, maka setidaknya ayah dan ibu harus terlebih dahulu memiliki semua karakter tersebut. Pada faktanya memang anak-anak tidak hanya mengadaptasi perilaku kedua orang tuanya, akan tetapi juga memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang mereka lihat, dan saksikan sehari-hari. Baik itu perilaku teman-temannya, dan orang dewasa yang mereka lihat, bahkan bapak dan ibu guru mereka di sekolah. 

Oleh karenanya anak tetap memerlukan peran kedua orangtua dalam membentuk karakter awal mereka sebagai manusia dengan keterampilan sosial dan konsep diri yang positif. Sejak anak lahir, mereka telah menyerap nilai-nilai dan keyakinan yang dinyatakan oleh kedua orang tua.  Maka kebutuhan anak atas dukungan dan bimbingan yang konsisten dari orang dewasa khususnya para orang tua, dan caregiver lainnya, menjadi urgensi dan hal yang paling substansial pada hari ini dan masa mendatang.

Dunia anak-anak pada zaman sekarang lebih membutuhkan orang tua yang mau bersabar dan terus belajar memberikan contoh yang baik pada mereka. Bersedia secara persisten membimbing dan merestui mereka dengan doa yang kuat kepada Tuhan.

Kelak mereka telah utuh terpahat menjadi manusia yang berbudi luhur, dan menguasai bagaimana cara berinteraksi secara elok dan patut dalam bermasyarakat. Saya kian menyadari, bahwa sejatinya masyarakat selalu melihat anak-anak sebagai interprestasi citra diri kedua orangnya di rumah. Tentu saja, semoga.

Arum Weni Yekti Lestari, seorang Ibu yang suka menulis apa saja.

Editor: Syaiful Cahyadi

Exit mobile version