Ririn, sahabatku saat SMA, tiba-tiba muncul di rumahku. Terkejut pastilah aku. Dia memintaku untuk menemani berkunjung ke panti jompo. Belum sempat aku bertanya-tanya dia sudah mendahului berkata, “Tak perlu banyak tanya dulu, nanti aku ceritakan”. Mendengar kata panti jompo di benakku yang terlintas kumpulan lansia, sakit-sakitan dan tanpa keluarga yang mengurusnya.
Di perjalanan menuju panti jompo, Ririn bercerita dengan terpaksa ia menitipkan ibunya di sana. Memang panti jompo dalam lingkunganku merupakan sebutan tempat yang asing, bahkan di kotaku hanya ada beberapa tempat saja. Itupun belum pernah satupun aku mengunjunginya, seumur-umur baru pertama kali ini.
Hampir semua teman-teman di sekitarku–saat berbincang tentang panti jompo–berpendapat tidak berniat menitipkan orang tua mereka di panti jompo. Apakah menitipkan orang tua yang sudah lanjut usia di panti jompo bisa dikategorikan menghormati orang tua? Bahkan, bisa jadi dianggap sebagai anak durhaka.
Ada doktrin dalam agama yang aku anut tentang menghormati orang tua, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Qur’an Surat Al Isra’ ayat 23). Surah inilah yang menjadi salah satu dasar bagaimana berperilaku kepada orang tua dalam Islam.
Salah satu bentuk menghormati orang tua adalah berbuat baik dengan merawat saat mereka sudah lanjut usia. Kita tunjukkan segala upaya agar orang tua tetap nyaman, aman dan bahagia dalam kebersamaan keluarga. Dari beberapa anak yang dimiliki, orang tua biasanya akan menetap di salah satu anaknya.
Jangan sampai kita menyia-nyiakan orang tua yang sudah banyak berjasa pada kehidupan kita. Jangan sampai menjadi golongan anak durhaka. Kurang lebih seperti itulah ringkasan setiap kali mengkaji ayat itu. Penjelasan-penjelasan tersebut membuat banyak orang tidak setuju jika menitipkan orang tua ke panti jompo.
Bagaimana dengan keputusan Ririn yang menitipkan ibunya di panti jompo? Ririn menyebut kata terpaksa berulang-ulang dalam ceritanya. Artinya dalam lubuk hatinya ia tidak ingin menitipkan orang tua tunggalnya (ibu) di panti jompo. Kondisi keluarga Ririn yang jauh dari sanak saudara, single parent dengan satu anak balita, membuat keputusan terpaksa menitipkan ibunya di panti jompo.
Saat di panti jompo. Ibunya Ririn terlihat senang menyambut kedatangan kami. Dari cerita ibunya Ririn, di panti jompo itu ada banyak teman, makanan terjamin, cek kesehatan pun secara rutin. Tidak ada tanda-tanda kemarahan seorang ibu yang dititipkan di panti jompo oleh anaknya.
Suasana bersahaja, lingkungan bersih dan selalu ada kegiatan rutin memanfaatkan waktu di sela-sela istirahat. Betul saja jika para lansia bahagia meski tidak bersama keluarga mereka. Tapi sebahagia apapun keberadaan lansia di panti jompo, terkadang ada saat tidak nyaman yaitu saat kangen datang tiba-tiba.
Tidak bisa dimungkiri, sifat dan perilaku orang lanjut usia sering kali labil dan kekanak-kanakan. Demikian juga yang berkaitan dengan rasa. Mereka lebih sensitif. Sehingga saat bahagia yang dirasakan bisa cepat berubah menjadi kesedihan terutama saat rasa kangen muncul.
Itu juga yang dapat aku simpulkan dari kalimat ibunya Ririn. Beliau berkali-kali meminta agar sering-sering ditengok. Terbukti ada titik air mata yang hampir jatuh saat kami berpamitan. Jika kondisinya seperti ini bukankah menitipkan orang tua ke panti jompo tidak bisa disebut anak durhaka ?
Mungkin, mereka yang masih bersikukuh bahwa menitipkan orang tua di panti jompo, tergolong anak durhaka karena budaya menitipkan orang-orang tua di panti-panti jompo bukanlah model dari sistem sosial timur dan dianggap sebagai produk sistem sosial barat yang individualis materialistik. Bagaimana disebut anak durhaka, kalau orang tua yang dititipkan merasa lebih baik, senang dan legowo menerima kenyataan bahwa berada di panti jompo adalah untuk kebaikannya juga.
Siti Nurhidayah, tenaga pendidik di SMP Muhammadiyah Keling Jepara, Jawa Tengah
[red/rien]

