“Menjalani hidup lebih pelan dengan menurunkan sedikit kecepatan dalam beraktivitas dan menikmati setiap momen yang sedang berlangsung.”
“Tarik napas panjang, hembuskan, lakukan sebanyak tiga kali, kemudian menghadap ke arah dinding, dan jangan lupa tersenyum. Baru bicara!” si Bos memerintahkan petugas di lapangan melalui telepon.
Saat itu petugas di lapangan akan melaporkan kejadian dan masalah yang terjadi di lapangan. Kami yang berada di sekitar si Bos langsung ngakak membayangkan mbak petugas lapangan melakukan instruksi tersebut. Saya tahu bahwa mbak tersebut berbicara dengan terburu-buru, dan bisa jadi tidak sempat bernapas saat melaporkan situasi, sehingga si Bos memerintahkannya untuk bernapas dengan perlahan dan dalam.
Zaman sekarang, segala bentuk aktivitas dilakukan dengan standar waktu dan kecepatan. Hal ini membuat umat manusia juga terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cepat dan terburu-buru. Barangkali kita juga demikian, tanpa kita sadari. Setiap pagi kita bangun dengan rancangan kegiatan harian dalam otak, sehingga kadang-kadang kita lupa bahwa ada tangan lain yang berperan dan menentukan, apakah rencana kita itu dapat terwujud dengan sempurna atau gagal total.
Hari-hari kerja merupakan hari yang penuh kecepatan. Dimulai dari membangunkan anak-anak untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah, kemudian sang ibu mempersiapkan sarapan dan makanan untuk anggota keluarga. Belum lagi jika sang ibu juga seorang perempuan pekerja. Tentu dia perlu bangun lebih awal agar kebutuhan di pagi hari dapat terpenuhi semua. Tidak heran jika banyak orang terbiasa melakukan semua hal secara cepat dan terburu-buru.
Setelah seharian berada di luar rumah, pada sore hari saat semua orang telah berkumpul, berbagai kegiatan juga dilakukan secara terburu-buru. Keinginan untuk menyelesaikan seabrek tugas rumah tangga dalam keadaan letih, makin mendorong kita untuk bekerja dengan terburu-buru. Tujuannya agar kita bisa beristirahat lebih awal.
Ironisnya, saat waktu untuk beristirahat tiba, kita tidak langsung melakukannya. Kita justru melakukan aktivitas lain yang kita sebut istirahat padahal bukan, yaitu berselancar di media sosial. Akibatnya dapat ditebak, kita akan tidur lebih larut, dan pada pagi hari kita bangun dengan lesu karena tidak mendapatkan istirahat yang berkualitas. Tetap saja, kita akan menyalahkan situasi yang mengharuskan kita untuk senantiasa terburu-buru.
Dalam agama yang saya anut saja telah disebutkan bahwa dalam beribadah kita dituntut untuk tuma’ninah. Thuma’ninah berarti ketenangan atau diam sebentar. Hal ini dilakukan pada beberapa gerakan salat seperti saat ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Maksud dari perintah ini tentu saja kita dilarang melakukan salat secara terburu-buru.
Secara kesehatan, aktivitas yang dilakukan secara terburu-buru akan berakibat tidak baik bagi fisik dan mental. Orang yang selalu terburu-buru akan memunculkan sifat tidak sabar, agresif, seperti dikejar-kejar waktu, dan gelisah. Selain itu sifat terburu-buru juga akan mempengaruhi kesehatan jantung, dan dapat menimbulkan tingkat stres tinggi. Dengan kata lain, kebiasaan terburu-buru akan membuat fisik dan mental kita terganggu.
Terburu-buru dan cepat itu tidak sama. Terburu-buru akan mempengaruhi ritme gerakan fisik dan mental, sedangkan cepat adalah aktivitas yang dilakukan dengan gerak yang lebih cepat namun dapat diukur. Dengan kata lain, terburu-buru lebih ke arah negatif sedangkan cepat lebih ke arah positif. Sedangkan persamaannya adalah segala sesuatu dikerjakan dengan memakai standar waktu.
Ada beberapa cara untuk melatih kita agar bisa menjalani hidup lebih pelan dengan menurunkan sedikit kecepatan dalam beraktivitas dan menikmati setiap momen yang sedang berlangsung, baik itu saat berbicara atau berperilaku. Istilah lainnya, kita dapat melatih diri dan membentuk mindset gaya hidup slow living.
Seperti gerakan slow motion pada film, kita dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat saat diputar dalam kecepatan yang lebih tinggi. Melatih slow living juga merupakan cara hidup dengan mengurangi kecepatan dan merasakan detil-detil setiap aktivitas yang kita lakukan. Namun latihan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, diperlukan konsistensi dan kedisiplinan, agar slow living menjadi bagian dari kebiasaan kita.
Cara pertama adalah dengan melatih pernapasan dalam. Pernapasan dalam ini sering kita dengar pada saat kita melakukan olahraga, khususnya saat pemanasan dan pendinginan. Namun kita tidak selalu bisa melakukan pernapasan dalam.
Pengalaman saya, pada saat pemeriksaan kinerja oleh instansi atasan tempat saya bekerja, saya terlalu cemas dan overthinking. Atasan saya mengingatkan agar saya berbicara dan berperilaku lebih lambat daripada kebiasaan yang saya tampilkan sehari-hari. Saya harus mulai mengerem saat akan berbicara walaupun situasinya tidak kondusif.
Kebiasaan saya yang suka berbicara dengan intonasi yang tinggi, efek berasal dari suku di Sumatera dan di wilayah pesisir, membuat saya harus menahan diri dengan kesadaran penuh saat ingat harus latihan. Di luar dugaan, ternyata menahan dengan kesadaran lebih sulit daripada menahan dengan terpaksa.
Cara kedua adalah dengan meningkatkan waktu untuk beribadah dan berolahraga. Saya mengikuti akun media sosial seorang dokter yang terkena kanker, dan dia tetap melakukan olahraga secara rutin. Menurutnya, saat kita melakukan olahraga, walau dengan terpaksa sekalipun, tetap akan memberikan manfaat kepada tubuh. Dokter tersebut tetap melakukan olahraga secara rutin walaupun terkadang ia merasa malas-malasan, kurang sehat atau terlalu sibuk.
Baginya, olahraga saja memberikan manfaat yang baik walaupun kita lakukan secara terpaksa, apalagi beribadah. Selain bersifat spiritual, ibadah juga berkaitan dengan kesehatan tubuh. Kedua aktivitas ini juga dapat meredam kecepatan gerak kita. Selama beribadah dan berolahraga, tanpa disadari kita sering melakukan self talk atau berbicara dengan diri sendiri, dan secara teknis dua aktivitas ini tidak dapat dilakukan secara cepat, apalagi terburu-buru.
Bagaimanapun, waktu yang kita peroleh telah ditentukan oleh pemilik Semesta dan kita tidak dapat memajukan atau memundurkannya walau hanya sedetik. Sadari setiap aktivitas yang kita lakukan agar dapat menikmati dan mensyukuri betapa besar anugerah yang sudah Tuhan berikan.
Risnawati Ridwan, Ibu rumah tangga yang nyambi jadi abdi negara. Tinggal di Aceh.
[red/sk]
Tulisan yang aku baca utuh. Terima kasih, Bagus dan Bermanfaat. S