Menciptakan Kebahagiaan Kita Sendiri

“Kebahagiaan justru terletak pada bagaimana kita menerima dan menikmati hidup sesuai dengan apa yang kita miliki.”

Beberapa waktu lalu, saya mendengar kisah seseorang yang merasa tidak berharga hanya karena sebuah konten yang ia lihat di media sosial TikTok. Bukan karena dirinya kurang baik, tetapi karena kehidupan yang dijalaninya dianggap terlalu biasa jika dibandingkan dengan standar yang dibentuk media sosial. Seolah-olah kebahagiaan hanya diukur dari seberapa banyak barang mewah yang dimiliki atau seberapa sering seseorang bepergian ke luar negeri. Bahkan, ada yang sampai bercerai karena merasa pasangannya tidak bisa memenuhi ekspektasi seperti yang ditampilkan orang lain di media sosial.

Fenomena ini bukan sesuatu yang asing bagi saya. Saya pun pernah merasa tertinggal ketika melihat orang-orang di TikTok yang hidupnya tampak sempurna—rumah besar, liburan ke tempat eksotis, atau tubuh yang ideal. Padahal, saya sadar tidak semua yang ditampilkan di media sosial benar-benar sesuai dengan kenyataan. Bisa saja hanya sebuah konten yang sengaja disusun agar tampak lebih menarik dan mengesankan.

TikTok memang bisa menjadi sumber inspirasi dalam banyak hal—bisnis, pendidikan, bahkan motivasi hidup. Namun, ada sisi lain yang bisa membuat kita kehilangan jati diri, terutama ketika standar yang ditampilkan terasa tidak realistis. Salah satunya adalah standar kecantikan. Saya sering melihat tren yang menampilkan perempuan dengan wajah sempurna ala artis Korea—kulit putih mulus, hidung mancung, mata besar. 

Tak heran jika banyak yang berlomba-lomba memenuhi standar ini dengan menggunakan filter, berdandan berlebihan, atau bahkan membeli produk kecantikan mahal hanya demi terlihat menarik di media sosial. Hal ini bisa berdampak buruk, terutama bagi remaja yang masih labil dalam membangun kepercayaan diri. Mereka bisa saja merasa tidak cukup baik hanya karena tidak sesuai dengan standar kecantikan yang sedang viral.

Selain kecantikan, ada pula tren tubuh ideal atau body goals. Bentuk tubuh dengan perut rata, pinggang kecil, dan otot kencang seakan menjadi patokan utama. Banyak yang akhirnya terjebak dalam diet ketat atau olahraga ekstrem, meski kondisi tubuh dan genetik mereka tidak memungkinkan. Olahraga itu bagus untuk kesehatan jiwa dan raga, namun jika dilakukan tidak dengan proporsional malah justru akan mencederai diri sendiri.

Tak hanya itu, standar kekayaan juga menjadi hal yang sering dipamerkan. Saya sering melihat orang-orang memamerkan barang mewah—tas branded, mobil mahal, atau rumah megah. Seakan-akan, sukses hanya bisa diukur dari seberapa banyak materi yang kita miliki. Bahkan, tren flexing ini semakin marak, di mana seseorang berpura-pura kaya demi konten. Tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam gaya hidup konsumtif atau bahkan berutang hanya untuk terlihat “mampu”. Jika memang seseorang benar-benar kaya, tidak masalah. Tapi bagaimana jika tidak? Bukankah itu justru akan merugikan diri sendiri dan orang lain?

Selain materi, hubungan asmara pun tak luput dari standar media sosial. Banyak pasangan membagikan momen romantis mereka, seperti membuat kejutan, hadiah mahal, atau makan malam mewah adalah tolak ukur kebahagiaan. Padahal, hubungan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh hal-hal tersebut. Sayangnya, banyak orang yang akhirnya merasa tidak puas dengan pasangannya karena membandingkan hubungan mereka dengan yang ditampilkan di media sosial. 

Saya pernah mendengar cerita seseorang, yang sampai memilih untuk bercerai karena merasa standar yang dibentuk TikTok sudah menetapkan ekspektasi yang tak realistis. Menurut ceritanya, pasangannya dianggap “kurang perhatian” atau “belum cukup memenuhi standar” layaknya yang sering terlihat di media sosial. Akibatnya ia berpikir bahwa ia tak bisa mendapatkan kebahagiaan yang diidam-idamkan. Akhirnya, tekanan untuk memenuhi standar tersebut justru mengikis keintiman dan kebahagiaan sejati dalam hubungan mereka.

Masalah utama dari semua kebahagian semu itu adalah bagaimana banyak orang rela melakukan apa saja demi memenuhi standar-standar tersebut, bahkan tanpa berpikir panjang. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk membeli produk kecantikan, mengikuti diet ekstrem, atau membeli barang mahal demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Bahkan, ada yang sampai kehilangan jati diri karena terlalu sibuk mengejar validasi dari media sosial.

Padahal, kebahagiaan sejati tidak bergantung pada barang bermerek, perjalanan ke luar negeri, atau hubungan yang tampak sempurna di media sosial. Kebahagiaan justru terletak pada bagaimana kita menerima dan menikmati hidup sesuai dengan apa yang kita miliki. Daripada terus-menerus mengejar standar yang ditentukan oleh orang lain, bukankah lebih baik jika kita menciptakan standar kebahagiaan kita sendiri? 

Hidup bukan tentang seberapa “wah” kita terlihat di media sosial, tetapi bagaimana kita bisa merasa damai dan bahagia dengan diri sendiri. Mari kita mulai menjalani hidup dengan cara kita sendiri, bukan berdasarkan ekspektasi yang dibentuk oleh TikTok atau media sosial lainnya. [red]

Clara Silka Abel Secanti, biasa dipanggil Clara.