Resesi dan Warung Bu Eni

“Sektor informal tersebut sudah terbukti tangguh ketika Indonesia menghadapi resesi akibat Covid-19.”

“Waduh, sepertinya resesi ini akan berdampak ke daerah kita,” ucap pak Wawan, pelanggan warung nasi bu Eni. Saya mengangguk-angguk mendengar cerita pria paruh baya itu sambil menikmati ikan tongkol goreng balado.

Sesekali, bu Eni, si pemilik warung menimpali, “Apaan itu resesi?” tanya ibu tiga anak ini. “Gangguan ekonomi, nanti kalau resesi terjadi, usaha bu Eni bisa tutup,” jawab pak Wawan sambil menghembuskan asap rokoknya. “Ihhh, mengerikan atuh! Bagaimana saya cari makan lagi kalau warung tutup?” jawab bu Eni lagi dengan logat Sundanya yang kental. 

Rupanya, ribut-ribut soal resesi itu tidak hanya menjadi urusan pengamat ekonomi dan pengambil kebijakan saja, tapi sudah sampai ke warung makan langganan saya yang jauh dari pusat kota.

Apakah benar yang disampaikan pak Wawan itu? Apakah warung makan bu Eni, warung sembako bu Aing, gerobak cilok kang Anu akan tutup?

Sebelum sampai ke situ, kita singgung sedikit, apa itu resesi? Ada yang menyebutnya guncangan ekonomi, ada yang menyebutnya gangguan ekonomi. Secara sederhana, resesi dapat kita maknai sebagai situasi melemahnya perekonomian suatu wilayah, dalam konteks ini, perekonomian Indonesia.

Menurut teori ekonomi makro, secara agregat, kegiatan perekonomian baik dalam skala besar seperti perdagangan ekspor-impor, pertambangan, maupun dalam skala kecil seperti warung nasi bu Eni, warung sembako bu Aing, gerobak cilok kang Anu, menghasilkan suatu perekonomian negara. 

Ada banyak sekali variabel yang dapat menyebabkan atau mempengaruhi resesi ini, demikian juga dampaknya. 

Salah satu yang harus diwaspadai ketika kinerja ekonomi melemah adalah terjadinya pengurangan tenaga kerja yang merupakan input bagi perusahaan. Hal itu, disebabkan karena total biaya yang dikeluarkan perusahaan berpotensi lebih besar daripada total penerimaan.

Perusahaan tidak mampu beroperasi di atas angka minimal biaya variabel. Mau tidak mau, untuk menghindari kerugian dalam jangka panjang, perusahaan mengurangi input tenaga kerja, syukur-syukur tidak sampai berhenti beroperasi.

Hal inilah yang perlu diwaspadai. Pengurangan jumlah tenaga kerja akan berdampak pada pendapatan rumah tangga. Pekerja yang dihentikan hubungan kerja oleh perusahaan akan menjadi pengangguran. 

Dalam skala yang yang lebih besar, pengangguran akan menyebabkan pengurangan konsumsi dan simpanan rumah tangga. Pada situasi inilah guncangan ekonomi akan menimbulkan dampak yang berbahaya.

***

Guncangan ekonomi ini sudah beberapa kali terjadi. Saya mulai dari periode 1929-1933. Pada saat itu, keuangan global ambruk. Menariknya, beberapa orang yang menjadi “korban” dari resesi itu di kemudian hari dikenal sebagai ekonom yang tidak alang-kepalang. Pertama, misalnya, John Maynard Keynes, yang harus kehilangan sebagian uangnya karena nilai mata uang jatuh terpuruk. Dan, yang kedua adalah Friedrich Hayek.

Bahkan, nama kedua sempat “dikucilkan” karena prediksinya terhadap resesi yang akan segera berakhir tidak segera terbukti. Dia bukan hanya kehilangan sebagian besar hartanya, namun prediksinya yang keliru menjatuhkan namanya.

Menariknya, di masa-masa pelik itu pula lahir ekonom-ekonom besar yang hasil pemikirannya menjadi rujukan bagi bank sentral untuk mengendalikan kebijakan moneter, menjadi pijakan ekonom, analis ekonomi, pasar saham, sampai masuk ke dalam diktat kuliah.

Pemikiran mereka tidak hanya menjadi bahan kajian, namun juga meletakkan konsep dasar dalam belajar ilmu ekonomi, terutama makro.

Ekonom tidak satu suara dalam menyikapi persoalan guncangan ekonomi ini. Pertengkaran intelektual yang paling seru itu melibatkan Keynes dan Hayek. Keynes mengkritik kebijakan pandangan klasik Departemen Keuangan Amerika Serikat yang secara pasif menunggu ekonomi pulih karena mereka percaya bahwa ekonomi akan terkoreksi dalam jangka panjang. 

Keynes mengoreksi pendapat Adam Smith yang membiarkan pasar mengoreksi. Menurut Keynes, pemerintah perlu campur tangan untuk “membantu” perekonomian, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Keynes percaya kepada politisi untuk memperbaiki situasi, tentunya melalui seperangkat kebijakan.

Gagasan Keynes tersebut dibantah oleh Hayek. Menurut ekonom berkebangsaan Austria ini, pemerintah tidak perlu campur tangan, bahkan tidak mempercayai politisi untuk menyelesaikan persoalan ekonomi. Perekonomian akan mengoreksi dirinya sendiri. Campur tangan pemerintah justru memperburuk situasi. Pemotongan suku bunga misalnya, yang dianggap sebagai kebijakan pemerintah justru menimbulkan ketimpangan, pelaku ekonomi ramai-ramai meminjam uang. 

Dengan karakteristik yang berbeda, krisis ekonomi terus terjadi pada masa-masa berikutnya, yang paling parah pada tahun 1997, setidaknya bagi Indonesia. Resesi pada masa itu bukan hanya berdampak pada perekonomian, namun lebih parah menjadi krisis politik, kekuasaan Orde Baru yang sudah berkuasa lebih dari 30 tahun akhirnya terjungkal.

Setelah itu, resesi juga terjadi beberapa kali lagi. Namun, Indonesia masih kuat menghadapinya. 

Lalu, bagaimana untuk masa sekarang? Beberapa negara sudah dinyatakan bangkrut, seperti Sri Lanka. Salah satu yang bisa menyelamatkan Indonesia dari resesi adalah sektor ekonomi yang melibatkan banyak pihak, terutama masyarakat bawah. Keberadaan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seperti warung bu Eni salah satunya. 

Sektor informal tersebut sudah terbukti tangguh ketika Indonesia menghadapi resesi akibat Covid-19. Di saat perusahaan besar memilih berhenti beroperasi, sektor UMKM ini justru menggeliat. 

Selanjutnya, pada sektor pertanian, kita boleh saja berbeda pendapat mengenai kontribusi sektor informal dan pertanian terhadap PDB. Namun, sektor tersebut sudah teruji di saat pandemi. 

Keunggulan kedua sektor ini salah satunya karena tidak tergantung kepada impor. Dalam kegiatan perekonomian, angka impor dan ekspor harus dijaga. Jangan sampai impor lebih besar daripada ekspor. 

Dalam hal ini, saya sependapat dengan Keynes, pemerintah harus membuat regulasi. Regulasi itu tidak hanya dalam kerangka “penyelamatan” jangka pendek. Pemerintah harus membuat regulasi yang pada akhirnya baik untuk iklim investasi yang berbasis sumberdaya lokal. Ekspor bahan baku harus dikurangi. Industri manufaktur menggunakan bahan baku lokal. Indonesia harus menjadi eksportir bahan jadi, minimal setengah jadi.

Resesi mungkin saja terjadi, apalagi jika merujuk kepada pendapat Hayek, resesi diperlukan untuk mengoreksi perekonomian itu sendiri. Yang paling penting, bagaimana perekonomian Indonesia bisa tahan menghadapinya. Ini yang menjadi salah satu alasan saya untuk menyempatkan diri makan di warung-warung kecil seperti warung bu Eni, kedai sembako bu Aing, dan gerobak cilok kang Anu. Selain soal harga, rupanya, langkah kecil saya bisa menjadi imunitas menghadapi resesi. 

Alja Yusnadi, Warga KGH, Wakil Ketua MPW Pemuda ICMI Provinsi Aceh.

[red/rien]