“Sebelum membuka usaha bimbingan belajar, penting sekali untuk menyesuaikan antara pangsa pasar dan lokasi bimbingan belajar.”
Beberapa waktu lalu, seorang mentor mengajukan surat pengunduran diri setelah sekian lama menjadi staf pengajar matematika di bimbingan belajar yang saya kelola. Alasan yang menjadikan dirinya harus mengambil opsi tersebut adalah menikah dan berencana mendirikan bimbingan belajar sendiri bersama beberapa temannya.
Saya jadi teringat saat kuliah dulu, beberapa teman satu angkatan yang memiliki kemampuan akademis cukup tinggi, sepakat bekerjasama mendirikan bimbingan belajar dengan sponsor utama seorang dosen senior di kampus kami. Tetapi, sayangnya bimbingan belajar itu tak bertahan lama.
Padahal, sudah ada banyak faktor yang seharusnya bisa mendukung keberlanjutannya, seperti pendukung utama yang notabene adalah dosen senior yang cukup punya nama, staf pengelola sekaligus pengajar yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir dengan kemampuan akademis tinggi, juga lokasi bimbingan belajar yang cukup dekat dengan sekolah dan tempat kos. Tetapi, ternyata beberapa faktor tersebut tak cukup kuat untuk mendukung keberlanjutan kegiatan belajar mengajar, sampai akhirnya bimbingan belajar terpaksa ditutup karena semakin sedikit siswanya.
Bimbingan belajar memang memiliki pangsa pasar dan prospek yang cukup stabil. Selama masih ada orang-orang yang belajar, usaha bimbingan belajar masih memiliki banyak peluang untuk digarap dengan maksimal. Jadi, wajar jika banyak yang masih konsisten berkecimpung di bidang ini. Saya salah satunya, hehe.
Karena telah menekuni dunia bimbingan belajar sejak 2009, saya jadi ingin membagikan beberapa wejangan yang mungkin berguna bagi mentor yang mengundurkan diri tersebut, terkait niatnya mendirikan bimbingan belajar sendiri. Dan karena saya baik hati, wejangan tersebut saya bagikan di sini.
# Wajib menyukai dunia pendidikan
Memulai sesuatu lebih sulit daripada meneruskan apa yang sudah ada. Akan ada banyak momen yang membuat kita tersenyum saat sedang berproses. Tapi jangan lupa, akan ada juga saat-saat di mana kita harus jatuh bangun, jungkir balik, bahkan terkadang harus salto dan terjun bebas saat terjadi kendala.
Jadi, penting sekali memulai sesuatu dengan dasar suka, karena dengan begitu, pasti ada hati yang kita tambatkan di sana. Pada saat kita bertemu dengan kendala, kesulitan, dan hambatan, kita masih bisa bersenang hati menikmati prosesnya, mencari solusinya, sampai akhirnya menemukan jalan keluar. Karena ada “hati” yang berharap bahwa proses ini akan menemukan hasilnya.
Saat dihadapkan dengan anak-anak yang kesulitan dalam belajar, berisik, banyak tingkah, atau mungkin orang tua yang kurang kooperatif, maka dengan suka hati kita berusaha mencari beragam solusi untuk kendala-kendala tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin kita akan menemukan formula yang menjadi resep rahasia untuk menjadikan bimbingan belajar kita “berbeda”.
# Sanggup menakar kemampuan
Seringkali kita tergiur untuk memulai bimbingan belajar karena melihat kesuksesan bimbingan belajar yang telah memiliki nama besar. Sebut saja Primagama, Neutron, Ganesha Operation, atau yang sedang gencar beriklan saat ini, Ruang Guru.
Nama-nama tersebut tidak serta merta menjadi besar begitu saja. Ada banyak proses berliku yang harus dilewati. Dan tentu saja, ada banyak sekali sumber daya yang harus dikerahkan, baik materi, infrastruktur, sistem, hingga sumber daya manusia yang mengelolanya.
Jadi, penting sekali untuk menakar sampai di mana batas kemampuan kita agar tidak kejeglong di kemudian hari. Jika baru bisa memulai dengan diri sendiri sebagai pendiri sekaligus tenaga pengajar, sekaligus administrasi, sambil jadi OB juga, ya tidak apa-apa.
# Jeli membaca peluang pasar
Prinsip kerja usaha bimbingan belajar sebenarnya sama saja dengan berbagai macam usaha yang lain. Pasar yang tepat menjadi salah satu kunci keberhasilannya.
Sebelum membuka usaha bimbingan belajar, penting sekali untuk menyesuaikan antara pangsa pasar dan lokasi bimbingan belajar. Terkadang kita hanya berpikir tentang lokasi strategis tanpa berpikir tentang peluang pasar yang mungkin bisa digarap di lokasi tersebut.
Bayangkan saja sederetan kemudahan yang bisa kita dapatkan jika mendirikan bimbingan belajar siswa sekolah di lokasi yang dekat dengan permukiman dan sekolah. Sebaliknya, akan ada deretan panjang effort yang harus dikerahkan jika mendirikan bimbingan belajar di lokasi yang dekat dengan perindustrian.
# Mematangkan manajemen income
Selain modal yang digelontorkan sebagai persiapan di awal, setiap usaha pasti memerlukan dana untuk operasional. Hal ini penting untuk dipikirkan agar kita tahu apa, bagaimana, dan berapa besaran penghasilan yang harus didapatkan. Lain cerita jika bimbingan belajar yang didirikan adalah sebuah kegiatan kemanusiaan, yang memang biasanya mendapatkan biaya operasional dari donatur.
Besaran dana operasional akan berpengaruh kepada besaran biaya les, sistem pembayaran, dan penagihan yang akan diterapkan. Jangan sampai dalam perjalanannya terjadi ketimpangan, kecolongan, atau kebocoran.
# Sistem pembelajaran
Satu hal penting lagi yang harus dipikirkan di awal adalah konsep pembelajaran. Kegiatan utama sebuah bimbingan belajar adalah kegiatan pembelajaran. Maka, sudah seharusnya sebuah bimbingan belajar memiliki konsep dan strategi pembelajaran sebagai dasar dari kegiatannya.
Sekilas, semua bimbingan belajar mungkin terlihat sama saja. Padahal, sebenarnya selalu ada ciri khas yang menjadikan bimbingan belajar tersebut berbeda. Selalu ada alasan khusus yang mempengaruhi siswa atau orang tua dalam memilih bimbingan belajar.
Kumon, misalnya, salah satu brand bimbingan belajar yang cukup banyak cabangnya di seluruh Indonesia. Kumon menitikberatkan pembelajaran pada Matematika dan Bahasa Inggris. Maka, para orang tua dan siswa yang ingin secara spesifik mendapatkan bimbingan di dua mata pelajaran tersebut, akan menjatuhkan pilihan pertamanya pada Kumon.
Memulai lembaga bimbingan belajar pada dasarnya sama seperti memulai bidang usaha lainnya, ada banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang. Sebenarnya mudah saja jika hanya asal memulai, pokoknya asal jalan saja. Tetapi sayang, kan, jika modal tenaga, waktu, dan pikiran yang dikeluarkan menguap begitu saja hanya karena pengerjaan yang asal-asalan. (red/pap-bp)
Dinul Qoyimah, ibu rumah tangga & pemilik bimbingan belajar. Tinggal di Kudus.