Kucing Yang Baik

“Mereka berlaku baik kepadamu karena kamu berhasil membuat mereka senang dengan menangkap tikus, membuat rumahnya tidak banyak tikus.”

Aku adalah salah satu dari sekian banyak kucing kampung yang beruntung. Pemilikku suka membelai kepalaku, memberiku jatah makan walaupun terkadang memberiku sisa makanan mereka dan yang pasti mereka tidak pernah mengusirku. Aku anggap itu wujud kasih sayangnya kepadaku dan itu membuatku bersyukur.

Pemilikku bernama Melita dan suaminya bernama Mawardi. Mereka tidak seperti pemilikku yang dulu yang suka mengusirku ketika malam tiba karena khawatir aku berak sembarangan, atau ketahuan tidur di kasur, atau memecahkan peralatan makan mereka karena berusaha menangkap cicak. Melita dan suaminya justru sebaliknya, mereka senang akan kehadiranku. Terlebih ketika seekor tikus berhasil kutangkap.

Sebagai kucing yang baik, tentu saja aku tidak mau mencuri walaupun ada lauk yang dibiarkan begitu saja di piring. Sebab, Melita mempunyai kebiasaan membiarkan lauk yang telah selesai dimasak untuk didinginkan, kemudian setelah benar-benar dingin barulah ia taruh di tempat tertutup. Sebutan mencuri aku tahu dari tetangga yang tak sengaja kudengar ketika aku sedang tiduran di teras. Tetangga itu melempar sandal ke arah kucing yang lari membawa lauk. Tetangga itu bilang, “Dasar pencuri, awas saja kalau tertangkap, kupotong kaki depannya.”

Uh, ngeri sekali. Aku takut hal itu terjadi kepadaku. Bayangkan saja kami bangsa kucing saat makan, tentu kami butuh kaki depan untuk menginjak bagian tertentu bila makanan itu lebar dan kenyal. Lalu kami potong menggunakan gigi, kemudian barulah kami kunyah. Sebenarnya kami tidak bermaksud mencuri. Kami hanya berpikir bahwa mereka tidak mau memakannya jadi kami yang makan. 

Sebagai kucing yang baik, aku pun berdoa agar Tuhan mengabulkan apa yang diinginkan Melita sebagaimana ia yang setiap malam berdoa dengan menyebut nama Tuhan sambil menangis. Ia sangat ingin hidupnya bahagia dan sukses agar nantinya sanggup membeli rumah. Sedangkan rumah ini, mereka mengontraknya dan sudah dua bulan menunggak pembayaran. Aku yang saat itu sedang tidur di atas keset diam-diam mengaminkan doanya sekaligus turut berdoa untuk diriku juga agar kelak, ketika mereka sukses, mereka mau membuatkan rumah kecil untukku tidur dan memberikan makanan yang menyehatkan buluku seperti iklan di televisi.

***

Suatu hari aku merasa bahwa ternyata Melita tidak betul-betul menyukaiku. Ia mungkin adalah sebagian dari orang yang menyukai kucing atas dasar mengikuti apa yang diperintahkan agama mereka. Ajaran itu kuketahui ketika ada tetangga yang membawa spesies kucing berkepala bulat, telinga pendek berbentuk segitiga, hidung yang pesek, mata berwarna biru, dan kaki yang pendek; serta tubuhnya dipenuhi bulu-bulu putih yang panjang. Namun, walaupun tubuhnya berbulu putih, tetapi muka, kaki dan ekornya berwarna agak kehitaman.

“Mereka hanya memperlakukanmu sewajarnya,” kata kucing itu. “Mereka berlaku baik kepadamu karena kamu berhasil membuat mereka senang dengan menangkap tikus, membuat rumahnya tidak banyak tikus.”

Aku ngeyel, “Mereka sungguh orang baik, buktinya mereka tidak pernah memukul dan mengusirku.”

“Mereka tetaplah jahat kepadamu. Mereka hanya taat kepada agama yang dianut. Kau harus tahu, memukul kucing itu adalah perbuatan dosa. Itu yang kudengar saat mereka mendengarkan siaran ceramah di radio.”

“Kamu lihat dari mana bahwa mereka jahat?”

“Lihatlah aku! Aku sangat berbeda denganmu yang berbulu pendek. Walaupun kita sama-sama kucing berbulu putih, bermata biru. Namun beda spesies, beda nasib. Aku dimandikan, diberi keranjang, dikasih tempat untuk buang air besar, makanan yang bergizi sehingga aku sehat dan cantik. Dan yang istimewa aku punya nama … oh, iya, perkenalkan namaku Misty.”

Aku diam, ia menjulurkan kaki depannya. Aku tidak bisa meraih kaki depannya. Bukan aku berlaku sombong, tapi aku merasa tidak pantas berjabat tangan dengannya karena aku sadar tidak memiliki nama. Melita hanya memanggilku “pus”, itu saja. Yang bahkan bila ia berucap “pus”, bisa saja semua kucing menyahut dan menoleh, bukan berarti memanggilku.

Lalu ia meninggalkanku karena pemiliknya memanggilnya dari dalam. Aku tidak mengikutinya, aku malu jika harus mengikutinya ke dalam karena perbandingan kami terlalu jauh. Aku lebih memilih tiduran di keset teras, berharap dapat tidur dan begitu bangun, mereka sudah pergi. Namun, pemilik kucing itu membuatku tak bisa tidur. 

“Tuh, lihat bulunya bagus, bersih dan aku tidak apa-apa jika ia tidur di ranjangku.”

Sial, ia malah mempengaruhi Melita, kataku dalam hati.

“Hmm … mungkin lain kali saja, soalnya aku masih mengontrak.”

“Aku bisa berbagi makanan denganmu. Kaulihat kucingmu, ia kurus, bulunya pendek dan roboh. Ditambah ia kurang sehat. Katamu ia pandai menangkap tikus dan cicak tetapi bagaimana jadinya nanti jika ia menangkap cicak yang ia lihat di tembok kamarmu. Ia pasti naik ke ranjang. Dan apa jadinya jika kakinya yang kotor tak pernah kaumandikan menginjak kasurmu?”

Mendengar semua penuturannya, aku mendapatkan kebenaran bahwa ia akan memberikan kucing yang serupa dengan Misty. Dan rumah ini pun sepertinya sudah tidak pantas aku inapi. Kuputuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini saat ini juga tanpa pamit. Biarlah ia mengadopsi kucing lain yang lebih cantik dan bersih.

***

Aku meregangkan otot dengan kedua mata berusaha terbuka. Tak kusangka malam datang disambut hujan deras. Beruntungnya aku tertidur di sofa teras tetangga yang tak jauh dari rumah Melita. Sepertinya ia tidak mencariku. Sudah jelas ia dapat kucing baru. Aku merasa kedinginan dan baru kusadari juga bahwa perutku belum diisi sejak tadi siang.

Di sisi kiri teras, ada kucing jenis tabby mendekat. Langkahnya yang mengendap-endap sembari mendirikan ekor dan bulunya meremang, dengan erangan suaranya yang khas membuatku takut. Lalu dengan cepat ia berlari mendekat. Aku melompat menghindarinya dan berteduh di bawah pohon mangga. Kulihat ia membelakangi sofa, menyemprotkan air yang keluar dari kelaminnya ke punggung sofa, kemudian memosisikan diri untuk tiduran di tempatku tadi. Oh, ini rumahnya, pikirku.

Hawa dingin membuatku merindukan keset yang dulu kutempati di rumah Melita. Meski tak beraling-aling namun sedikit hangat karena tidak langsung menyentuh ubin dan rumahnya mampu membentengi hujan sehingga tidak mengenaiku. Aku memutuskan menerobos hujan dengan berjalan cepat, menepi sebentar di bawah pohon, melompati genangan air, lalu berjalan lewat pinggiran rumah yang atasnya masih tertutup genting dan seng. Aku berharap pintu rumah Melita terbuka, sehingga diriku bisa masuk meminta makan sekaligus tempat berteduh.

Namun setibanya di teras, nasibku ternyata tidaklah baik. Pintunya tertutup. Aku melompat ke sofa teras lalu memanjat ke atas punggung sofa yang menempel pada jendela. Gorden yang masih tersingkap membuatku bisa mengintip ke dalam dan barangkali Melita bisa mendengar ngeongan atau keberadaanku bisa menarik perhatiannya.

Cahaya lampu yang hangat menyapaku. Kulihat ia sedang berjongkok di lantai dengan sebuah nampan tempat makanku di depannya. Tangan kanannya mengambil sebuah bungkusan dan menuangkan isinya ke nampan. Samar-samar kudengar ia berucap “pus”. Aku menjawab, tapi tampaknya ia tidak mendengar. Mungkin karena derasnya hujan, ia tidak mendengar suaraku. Berkali-kali aku mengeong dengan harapan ia bisa menoleh dan melihatku di sini. Tetapi ia tetap tidak menoleh. Apakah mungkin ia sebenarnya mendengar, tetapi mengira yang mengeong adalah kucing liar?

Dugaanku ternyata salah. Ia memang tidak memanggilku. Ia memanggil kucing kecil yang baru keluar dari arah bagian dalam. Kucing kecil berjenis tabby yang kurus itu berlari kecil dan langsung memakan jatahku. Dari dalam, Mawardi yang masih berbalut handuk di pinggangnya datang sembari berbicara. Ia menanyakan keberadaanku dan bertanya dari mana Melita mendapatkan makanan kucing itu.

“Aku tidak tahu, tidak biasanya ia pergi sampai malam. Padahal makanan yang dikasih tetangga ini seharusnya untuknya. Namun aku tidak melihatnya sejak tadi siang. Sebelum magrib tadi aku berusaha mencarinya, tetapi yang kulihat malah kucing kecil ini di teras. Aku kasihan padanya, jadi kusuruh saja masuk,” terang Melita.

Aku terus mengeong dari luar jendela. Dari dalam hati aku bertekad tidak akan pergi lagi dari rumah ini. Kuharap hujan akan segera reda dan mereka bisa mendengar ngeonganku supaya mereka tahu bahwa aku di sini. [red/BP]

Muhamad Subchi, tinggal di Kebumen. Suka menulis, memotret, dan kadang juga menggambar.