“Naluri dan rasa cinta seorang anak, seperti apa pun sejarah telah mencatat masa lalu orang tuanya, ia akan terus berbakti dengan cara yang mampu ia lakukan.”
Tidak bisa kita pungkiri, keindahan Korea Selatan sebagai tujuan wisata selalu menjadi daftar destinasi yang wajib dikunjungi. Kunjungan wisatawan asing ke Korea Selatan tidak hanya bertujuan untuk berjalan-jalan, menikmati kuliner khas Korea, budaya K-Pop, wisata belanja, dan wisata kecantikan, tetapi juga untuk memperoleh pengetahuan dari berbagai tempat bersejarah yang terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.
Hwaseong Fortress atau Benteng Hwaseong merupakan salah satu destinasi wisata bersejarah yang terkenal di Korea Selatan. Selain memiliki arsitektur yang megah, benteng ini menyimpan kisah sejarah yang sarat akan nilai pengabdian dan penghormatan. Benteng yang terbuat dari batu granit ini memiliki panjang sekitar 5,74 km dan terletak di Suwon, sekitar 40 km dari Seoul. Benteng tersebut dibangun antara tahun 1794 hingga 1796 pada masa pemerintahan Jeongjo. Selain membangun Benteng Hwaseong, Raja Jeongjo juga mendirikan Hwaseong Haenggung, sebuah istana peristirahatan yang menjadi bagian penting dari kompleks bersejarah tersebut.
Keberadaan istana tersebut tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah yang melandasi pembangunan Benteng Hwaseong. Istana ini dibangun tepat di dekat makam ayah Raja Jeongjo, yaitu Raja Sado, di Hyeonryungwon. Benteng Hwaseong sendiri pada awalnya dirancang untuk menangkis serangan tembakan meriam musuh. Namun, benteng yang tampak kokoh dan megah ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertahanan, melainkan juga didirikan sebagai perwujudan rasa cinta dan penghormatan mendalam Raja Jeongjo kepada ayahnya, Raja Sado.
Benteng Granit Nan Megah, Sebagai Cara Berbakti Pada Orang Tua
Sado Seeja atau Raja Sado, lahir sebagai putra kedua penguasa Dinasti Joseon yang memerintah pada tahun 1694 hingga 1776. Pangeran Sado lahir pada 13 Februari 1735, setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, Pangeran Hyojang pada 1728 karena sakit. Tentu saja kelahiran Pangeran Sado menjadi kabar gembira, karena kematian saudara laki-laki pertamanya telah menyebabkan krisis penerus tahta bagi kelangsungan Dinasti. Kelahiran Raja Sado disambut antusias dengan serta merta mengangkatnya sebagai putra mahkota begitu ia lahir.
Menjadi putra mahkota ternyata tak seindah seperti dalam kisah-kisah dongeng kehidupan istana. Pangeran Sado, dituduh telah melakukan rangkaian perbuatan keji dan menderita gangguan mental dan meninggal pada usia 27 tahun. Putri Hyegyeong sebagai istrinya, kemudian menuliskan memoar yang menceritakan, bahwa Pangeran Sado mengalami kecemasan akibat hubungan yang tidak harmonis antara ia dan ayahnya sendiri, Raja Yeongjo. Dari memoar tersebut telah dikisahkan bahwasanya Raja Yeongjo adalah seorang ayah yang tidak pernah merasa puas atas semua pencapaian putranya sendiri.
Tidak hanya sampai di situ, Pangeran Sado juga tidak diperkenankan untuk hadir dalam berbagai urusan kerajaan, bahkan dilarang berkunjung ke makam leluhurnya. Pangeran Sado adalah seorang anak sekaligus putra mahkota yang sering mendapat perlakuan buruk oleh ayahnya sendiri. Ia sering kali dipermalukan di hadapan para kasim, dayang dan hadapan orang banyak. Hal ini menjadi penyebab, kesehatan mental Pangeran Sado semakin memburuk, sehingga banyak melakukan perbuatan-perbuatan di luar nalar yang merusak reputasinya sebagai putra mahkota.
Tidak hanya sampai di situ, Pangeran Sado kemudian mendapat tuduhan berusaha membunuh ayahnya Raja Yeongjo. Namun sang ayah tidak menetapkan Pangeran Sado sebagai penjahat, karena dapat berakibat anak serta istrinya juga akan terancam dibunuh atau diasingkan. Alasan inilah Raja Yeongjo memerintahkan menangkap dan mengurung Pangeran Sado di dalam peti beras yang sempit. Membiarkannya di sana kelaparan, dan meninggal secara tragis dengan sendirinya tepat di hari ke-8. Secara tidak langsung, Raja Yeongjo telah membunuh putranya sendiri, namun ada pula yang mengatakan, bahwa Pangeran Sado hanyalah korban dari konspirasi lawan politiknya.
Pangeran Sado wafat secara tragis, namun anaknya Raja Jeongjo berhasil naik tahta menggantikan kakeknya. Raja Jeongjo berinisiatif memindahkan makam Pangeran Sado dan membangun Benteng Hwaseong sebagai penjaga bagi makam ayahnya itu. Raja Jeongjo pun terus berusaha membersihkan nama baik ayahnya, hal ini jelas terlihat dari pernyataanya ketika naik tahta. “Saya adalah anak Pangeran Sado” Ia pun menunjukan rasa cinta dan bakti pada ayahnya dengan memindahkan makam Pangeran Sado ke tempat yang lebih layak bagi seorang raja. Makam Pangeran Sado dan istrinya diberi nama Hyeollyungwon, kemudian berubah nama menjadi Yung Neung melansir dari IDN TIMES.science.com.
Benteng dan Istana Megah Sebagai Bukti Luka dan Bakti Anak Manusia
Berkesempatan mengunjungi salah satu tempat bersejarah yang masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 1997, tentu memiliki kesan mendalam bagi saya. saya tidak merasa rugi telah membeli tiket masuk seharga W7500 yaitu Rp95,000, dan sudah termasuk naik kereta berkeliling Kota Suwon. Memasuki gerbang Istana Hwaseong Haenggung, saya terkagum-kagum. Selain istana juga menjadi tempat peristirahatan Raja Jeongjo ketika berziarah ke makam ayahnya Pangeran Sado.
Hwaseong Haenggung juga menjadi salah satu latar tempat pembuatan drama korea yang begitu populer berjudul Jewel in The Palace. Memasuki gerbang istana yang besar, disambut suara burung gagak yang bertengger di sebuah pohon yang telah ratusan tahun berada di sana, merupakan pengalaman mengesankan. Saya seperti dibawa mesin waktu menikmati masa-masa kejayaan Dinasti Joseon. Berjalan pelan-pelan, sambil membaca setiap informasi sejarah yang ditinggalkan pada setiap bangunan yang ada di sana.
Romantisasi yang sempurna, karena pada istana ini terdapat diorama, berupa adegan-adegan yang mengisahkan kehidupan istana pada masa itu. Mengelilingi sejumlah ruangan terbuat dari kayu, menambah eksotisme bangunan lama khas Korea. Pada setiap ruang istana selalu terdapat diorama yang menyesuaikan tema serta kegunaan bangunan tersebut di masa silam. Saya dapat melihat sejumlah peralatan masak, dapur istana, hingga menu-menu sajian makanan ala kerajaan Korea. Istana Hwaseong sangat pantas menyandang gelar world heritage, wisatawan diajak menjelajahi lorong waktu, dan bisa sekaligus berolahraga.
Mendaki bukit Hwaesong yang terdapat di belakang istana merupakan pengalaman yang menantang. Mengajak kita berswa foto sambil menikmati keindahan kuil peninggalan Dinasti Joeson, dan Kota Suwon yang tertata apik, dari atas bukit. Rasa lelah menaiki anak ribuan anak tangga hingga ke atas puncak bukit serta merta sirna, karena panorama yang terlalu memikat dan sulit untuk saya gambarkan. Udara sejuk senjakala Korea Selatan, membuat suasana semakin syahdu dan romatis, sulit rasanya beranjak dari sini, sementara hari kian gelap.
Kegiatan yang tak kalah berkesan adalah menyaksikan tembok benteng sejauh 5,2 km yang mengelilingi Kota Suwon. Saya duduk berjejer di dalam kereta, dan tak henti-hentinya merekam sejumlah video melalui ponsel di tangan saya. Sepasang mata ini terus menikmati keindahan susunan batu-batu granit yang terdiri atas empat gerbang menghadap ke arah mata angin yang berbeda. Luar biasa! Tidak heran jika benteng ini kemudian menjadi Situs Bersejarah No. 3. Terutama saat musim gugur tiba, berbagai pertunjukan diselenggarakan di benteng Hwaseong. Benteng yang didirikan sebagai tanda bakti anak terhadap orang tua.
Tidak cuma sampai pada fakta tempat ini bersejaran, namun saya dapat merasakan semilir angin sejuk musim dingin yang membawa pesan kesedihan mendalam. Duka lara dan nasib yang malang dari seorang pangeran dari dinasti yang besar yang pernah ada di dunia di masa lalu. Kota setenang dan secantik Suwon, sangat pantas menjadi tempat peristirahatan terakhir anak manusia yang mengalami kepahitan semasa hidupnya di dunia. Menceritakan betapa pahitnya perjalanan seorang anak manusia, ternyata dapat dialami oleh siapapun tanpa terkecuali. Tidak memilih apakah ia seorang bangsawan, atau ia seorang pangeran.
Takdir yang pilu tidak memilih apakah ia raja yang diagung-agungkan dengan segala kemewahan hidupnya, atau hanyalah seorang anak manusia biasa. Berbagai sumber sejarah yang saya baca mengenai Pangeran Sado, membuat saya memasukkan Benteng Hwaseong ke dalam daftar tempat bersejarah yang wajib saya datangi di Korea Selatan. Dari sana saya bisa merasakan betapa pahit dan getir hidup seorang anak yang harus memuaskan hasrat dan ambisi seorang ayah. Ambisi yang akhirnya membunuh darah dagingnya sendiri dengan cara tragis dan mengenaskan.
Seorang Raja yang berkuasa secara mutlak justru menjadi algojo bagi putranya sendiri. Pangeran Sado adalah contoh nyata seorang anak yang harus menanggung berbagai tuduhan. Ia harus menerima gelar sebagai pangeran dengan gangguan mental, sekaligus seorang penjahat. Semua akibat seorang ayah yang tidak pernah menerima kekurangan dan kelebihan darah dagingnya sendiri. Saya menarik nafas dalam-dalam, senja turut menundukkan kepalanya. Rasa sedih menyergap saya hingga ke dasar hati. Seakan ikut merasakan duka seorang anak yang selalu dianggap tidak memiliki kemampuan lantas ditinggalkan, dikorbankan demi kehormatan kerajaan.
Begitu pula tangis ratapan terdalam Raja Jeongjo, yang terus bergaung dalam kebisuan. Ia harus terus belajar menerima kenyataan, bahwa sejarah mencatat ayahnya sebagai pangeran yang melakukan kejahatan. Jalan penghiburan yang ia tempuh adalah, membangun benteng granit dan istana dengan arsitektur gaya tradisional Timur dan Barat. Seorang anak yang berharap kelak bangunan yang ia dirikan akan masyhur dan memeluk sisa-sisa tulang belulang sang ayah. Begitulah kira-kira pesan yang sampai di benak saya. Naluri dan rasa cinta seorang anak, seperti apa pun sejarah telah mencatat masa lalu orang tuanya, ia akan terus berbakti dengan cara yang mampu ia lakukan.
Seorang anak yang menjadi raja, melukiskan betapa besar kasih sayang yang ia punya. Sementara bagaimana dengan saya? Pertanyaan besar menggelayut di dada, terus terang saya tidak kalah hanya karena saya bukan raja atau ratu sultana. Petang sibuk memeluk, sepanjang arah pulang dari Kota Suwon menuju Seoul, mata saya berkaca-kaca. Saya pun sibuk bertanya-tanya, dengan cara apa saya akan berbakti pada orang tua yang masih ada di dunia. [Red/RW]
Arum Abygail, Seorang Ibu yang suka menulis apa saja.