*Tahun 1998*
“Itu … itu ada cicinya. Cici, cici cantikkk ayo mo kabur ke mana!”
Perkataan itu terus terngiang-ngiang, membuatku mual sepanjang jalan.
Namun, aku tak boleh berhenti. Aku tak mau mati, tak mau terhina, tidak ….
Derap langkah orang berlarian kian keras saja di telingaku, berbaur dengan teriakan untuk terus berlari sepanjang gang.
Debu berhamburan yang berbaur dengan asap pembakaran ban sana sini, menyergap wajah memburamkan pandangan.
Ketika seseorang dari rombongan penolong tetiba mengangsurkan sebotol air mineral dan berkata, “Ci, cici … ini minum dulu, muka cici pucat sekali. Cici, ayo diminum.”
Tanganku sontak menepis botol sebelum jatuh terjerembab di halaman bangunan asing dengan kubah di atapnya.
*
Terlahir sebagai perempuan Cina Indonesia, bahasa halusnya Tionghoa, menjadi akar pemicu. Kulitku putih susu, rambut lurus tanpa sehelai pun bergelombang, mataku hanya serupa garis, ketika tertawa. Hidungku pun khas Oriental, tak mancung sempurna.
Takdir yang ingin sekali kuhindari, padahal perempuan lain justru merasa iri. Kuingat betul dua aset takdir, berkulit putih dan berambut lurus menjadi standar kecantikan perempuan saat itu.
Perasaan itu tak hanya milikku. Elia lebih bernasib buruk. Teman kecilku itu dipaksa Papanya untuk melakukan bedah plastik demi mengubah mata sipitnya memiliki lipatan ganda, dan hidungnya agar lebih bangir. Sambil menangis tersedu-sedu menolak dibawa ke klinik satu-satunya di Jakarta waktu itu, suara Papanya menggelegar bagai ultimatum.
“Agar kau tak malu sendiri berbeda dari anak perempuan Papa yang lain. Kau ibarat itik buruk rupa dalam keluarga angsa.”
Ingin kukatakan Elia tak pernah malu dengan kondisi mata dan hidungnya. Memaksakan melakukan operasi plastik pada Elia, seperti bentuk penjajahan atas tubuh manusia lain, meski itu dilakukan orang tua kepada anaknya.
Untung Papa, Mamaku tak sampai segila itu. Hal yang sama hanyalah, tak satu pun yang mengajarkan kami, untuk belajar menjadi percaya diri dan menerima kondisi fisik kami, tanpa merasa takut dijahili.
Tanpa sepengetahuan mereka aku membeli sun tan, lalu melumuri sekujur tubuh, dan berjemur di kursi malas bekas kakek di dekat atap, demi mencokelatkan kulitku agar lebih berwarna.
Atau rutinitas memakai scotch tape-selotip khusus kelopak mata–yang menyiksa sebelum berangkat sekolah, demi lipatan-lipatan indah.
Hal itu kulakukan dengan penuh obsesi, yang nyatanya lalu sangat menyakiti. Berjemur rutin membuat kulitku terbakar, mengenakan scotch tape berlebihan membengkakkan mata. Omelan demi omelan yang muncul kemudian mendorongku kian bertahan.
Papa, Mama tak pernah tahu. Di lingkungan rumah di mana tak ada keluarga Cina atau Tionghoa; panggilan Amoy, atau Mei Mei, atau Cici, yang mungkin bagi perempuan Cina lain biasa, menjelma hantu gentayangan bagiku saat hari terang maupun gelap malam.
Seketika aku berlari bila ada yang memanggil, walau mereka tak mengejek. Selalu curiga bila ada suara tawa, dengan prasangka mereka niat menggoda dan menjahili gadis yang berwajah dan berwarna kulit berbeda. Makin aku lari, tentu saja mereka tertawa karena menganggap lucu. Namun bagiku, tindakan itu begitu menakutkan.
“Jangan sombong jadi orang, Jen, kalau dipanggil senyumin aja. Mereka tahu diri untuk nggak bakalan naksir gadis Cina. Mereka pribumi, kita bukan. Beda!”
Tak ada ucapan Papa, Mama untuk meyakinkanku bahwa panggilan itu tanda mereka menghargai warga yang berbeda di kampung pribumi. Seperti halnya panggilan wajar lain, Mbak, Mbok atau Teteh. Aku dibiarkan terus berasumsi sendiri, ditambah bumbu jurang perbedaan.
*
Masih jelas dalam ingatan, mentalku yang kurang baik memburuk ekstrem memasuki Mei 1998. Saat itu aku baru saja lulus kuliah dan banyak membantu di toko bahan bangunan Papa untuk membuat catatan keluar masuk barang. Papa Mama bersepakat, aku tak bisa dipercaya bekerja sendiri di tempat lain, bila pikiranku terus terganggu dan merasa ketakutan.
Ketika kerusuhan pecah dan penjarahan berlangsung di mana-mana, keluarga kami memang diselamatkan para tetangga, diajak berlarian lewat gang-gang kecil, yang tak pernah diketahui sebelumnya
Kami sungguh beruntung. Aman secara fisik. Namun, suara orang yang sedang membongkar rolling door, kata-kata berkonotasi rasis dan seksual, suara tendangan, pukulan, bunyi palu, tang, linggis adalah putaran kaset rusak dari mimpi ke mimpi. Aku kerap mengigau dan menjerit histeris, ketika mengungsi di bangunan yang baru kutahu saat itu disebut masjid.
Masih kuingat, Papa tak belajar juga untuk tak memperberat beban mentalku yang merapuh saat itu. Sekelebat terbayang bagaimana dia keceplosan menceritakan tragedi yang dialami Aylin di hadapanku; bahkan tanpa Mama berupaya mencegahnya
Kata Papa, sahabatku yang sedang hamil muda diserang ketika pulang kerja bersama suaminya. Mobilnya dihadang dan digoyang-goyangkan. Suaminya, Hengki menjadi tameng agar Aylin tidak dipermalukan orang-orang. Itu Cici yang di mobil kita bawa aja, kita kerjain sampai pingsan, rame-rame sampe puas.
Ujar Papa lagi, ketika petugas keamanan melintas dan mengusir kerumunan penyerang, Hengki terluka parah menahan agar istrinya tak ditarik keluar. Aylin syok dan mengalami keguguran di dalam mobil. Keduanya perlu dirawat khusus di rumah sakit tanpa bisa hadir pada upacara kremasi Papa Aylin, yang meninggal sebab serangan stroke ketiga kali, seketika tokonya habis dijarah.
Sesegera Papa usai bercerita, yang kuingat wajahku terasa panas. Sebelum mulai mengamuk dengan memukul dan menendang orang di pengungsian. Banyak orang berusaha memegangi tangan dan kakiku saat itu. Aku … kuingat makin histeris karena membayangkan adegan dihinakan dan tindak kekerasan lain.
Kebencianku akan panggilan Cici, kemuakanku menjadi perempuan Cina kian mencapai puncaknya. Papa dan Mama? Hanya bisa terduduk, saking terkejut dan tak paham apa sebabnya.
*
Sejak saat itu, kondisi mentalku terus memburuk. Nyaris setiap malam aku bermimpi jelek, dikejar, diteriaki, bahkan dihinakan seperti Aylin. Sahabatku itu malah kebalikan dariku, telah berangsur pulih sejak kepindahannya bersama suami ke Kanada.
Papa Mama mencari info sana sini, mengikutkanku berbagai terapi. Kata mereka, beberapa klinik terapi menyimpulkan perlu waktu yang panjang untuk memulihkan jiwaku yang terus gelisah, ketakutan, dan tak henti berkelana.
Akhirnya mereka memutuskan agar aku pindah saja ke luar negeri, tinggal di keluarga paman yang menikah dengan perempuan Australia. Kebetulan keluarga mereka tak memiliki anak.
Mendadak tinggal di budaya yang berbeda dan orang-orang yang kutemui memanggilku sister atau sista, menyamankan pendengaran, dan tentu saja jiwaku.
Tiga bulan, enam bulan, setahun, tiga tahun, progress-ku makin baik. Namun, bergaul dengan lingkungan yang sama sekali berbeda membuatku merindukan Aylin, Elia, teman-temanku dulu, meski kami tetap terhubung lewat email pengganti surat yang sungguh lama sampainya.
Mulailah aku mencari tahu, bertanya-tanya tentang komunitas orang Asia, tepatnya orang Indonesia. Didasari juga keinginan mencocokkan kebenaran akan hal yang sering dibahas di televisi Australia tentang Indonesia, yang diceritakan mulai berubah dan berbenah.
Aku pun rindu berbincang, berceloteh, dengan bahasa pertama yang kukenal saat mulai berkata-kata.
Dengan rindu yang membuncah, suatu hari aku coba berkunjung ke salah satu rumah, dengan pemikiran situasi kondusif dan panggilan orang kepadaku akan bertahan pada sister atau sista.
Ketika pintu terbuka,
“Eh ada cici baru, ayo masuk, Ci! Anggap aja rumah sendiri.”
Sergapan itu spontan membatukan kakiku. Tubuhku menegang, wajahku pucat, mulutku tak bisa tidak seketika bungkam.
Ivy Sudjana, ibu dua anak kelahiran Jakarta, saat ini mendampingi si bungsu melaksanakan pendidikan jarak jauh dengan berinduk ke Salam Yogyakarta. Suka membaca, menulis dan travelling.
[red/TC]