“Ironisnya, di tengah dunia digital yang katanya makin ramai, interaksi nyata justru makin sepi.”
Kalau dipikir-pikir, generasi kita tuh unik. Kita sempat merasakan masa kecil tanpa notifikasi, tapi juga kebagian masa remaja dengan segudang aplikasi. Dulu, sehabis Maghrib identik dengan buka buku, bukan buka TikTok. Orang tua juga punya aturan sakral. Minimal 15–20 menit harus belajar. Mau nggak mau, ya kita harus nurut.
Sekarang? Ceritanya agak beda.
Anak-anak zaman sekarang yang sering kita sebut generasi Alpha sepertinya lahir sudah langsung kenal gadget. Kalau dulu kita kenalan sama teknologi, mereka tuh langsung jadian. HP bukan lagi barang asing, tapi sudah menjadi bestie sehari-hari.
Masalah muncul ketika waktu untuk belajar kalah pamor sama scroll media sosial. Niat awal membuka gadget untuk mencari referensi tugas, eh ujung-ujungnya malah nyasar ke video random sampai lupa waktu. Fenomena ini bukan sekadar cerita receh, tetapi jadi masalah serius dalam dunia pendidikan, terutama soal konsentrasi belajar anak SD bahkan mahasiswa perkuliahan..
Teknologi, Bikin Pintar atau Bikin Bodoh?
Era teknologi seperti sekarang ini ibarat dua sisi mata koin. Di satu sisi membantu belajar menjadi lebih praktis, materi bisa diakses kapan saja, dan pembelajaran jadi lebih menarik. Tapi di sisi lain, teknologi juga punya jebakan halus (distraksi tanpa batas). Nggak heran kalau penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan gadget berlebihan, kurangnya pengawasan, dan waktu belajar yang nggak teratur jadi penyebab utama turunnya konsentrasi siswa. Jadi sebenarnya, masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi penggunaanya yang sering kebablasan.
Kalau dilihat di lapangan, realitanya juga nggak jauh beda. Banyak anak yang kelihatannya sedang belajar, padahal fokusnya ke mana-mana. Tugas sudah dibuka, tapi malah pindah main game. Niat mencari materi, tapi malah scroll media sosial. Multitasking sih iya, tapi nggak jelas arahnya. Kondisi ini semakin diperparah karena sekarang banyak tugas berbasis digital, jadi celah distraksi makin lebar dan kontrol makin sulit. Apalagi kalau pengawasan dari orang tua kurang, sementara guru juga tidak bisa memantau secara penuh. Akhirnya, anak jalan sendiri dan seringnya malah nyasar tidak jadi mengerjakan tugas.
Perlu dipahami bahwa turunnya konsentrasi belajar bukan cuma soal gadget atau label “anak malas”. Faktornya jauh lebih kompleks. Dari dalam diri anak sendiri, ada pengaruh mood yang naik turun, kondisi fisik dan mental, sampai motivasi belajar yang berbeda-beda. Dari luar, lingkungan pertemanan juga punya peran besar, kalau temannya lebih sering ngajak main daripada belajar, ya arah kebiasaannya ikut ke situ. Ditambah lagi metode pembelajaran yang kurang menarik dan minimnya media inovatif bikin anak makin gampang kehilangan fokus. Jadi kalau di kelas masih monoton, jangan heran kalau layar HP terasa lebih menarik dibanding papan tulis.
Kalau kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya juga mulai kelihatan pada anak zaman sekarang. Fokus belajar makin pendek, disiplin waktu menurun, dan interaksi sosial jadi berkurang. Bahkan, dalam beberapa kasus, penggunaan media sosial juga bisa memicu perilaku negatif seperti cyberbullying. Ironisnya, di tengah dunia digital yang katanya makin ramai, interaksi nyata justru makin sepi.
Scroll Boleh, Lupa Belajar Jangan
Meski begitu, solusinya bukan berarti harus anti gadget. Yang dibutuhkan justru keseimbangan. Orang tua dan guru perlu kerja sama dalam mengawasi penggunaan teknologi. Bukan cuma sekadar melarang tapi juga memberi batasan yang jelas. Di sisi lain, pembelajaran juga harus dibuat lebih hidup dan relevan dengan dunia digital supaya anak nggak merasa belajar itu membosankan.
Guru pun dituntut untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi, agar tidak kalah menarik dibandingkan konten digital yang dikonsumsi siswa sehari-hari. Selain itu, penting juga membiasakan anak untuk mengelola waktu sejak dini. Mereka perlu tahu kapan harus belajar, kapan boleh bermain, dan kapan harus berhenti scroll. Karena pada akhirnya, disiplin bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tapi hasil dari kebiasaan yang dibentuk secara konsisten.
Teknologi itu ibarat pisau, bisa membantu tapi juga bisa menyakiti kalau salah memakainya. Tantangan terbesar bukan lagi akses belajar, tapi mengelola fokus. Kalau anak lebih sering bilang “sebentar lagi” saat disuruh belajar, padahal lagi asyik scrolling, itu tanda bahaya kecil yang nggak boleh diremehkan.
Kuncinya ada 3 hal : pengawasan, pembiasaan dan pemanfaatan teknologi secara bijak. Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan anak yang anti gadget, tapi anak yang punya kendali atas gadgetnya. [red/RR]
Rianita Muttofi`ah, tertarik dengan isu-isu kehidupan peserta didik di era digital.