“Sudah dapat dilogika jika dia dapat terkena serangan stroke, mengingat Indri seorang pemikir. Apapun selalu dipikir.”
Pagi itu adalah hari pertama sejak hari libur nasional. Seperti biasa, hari pertama pasca liburan selalu terasa sangat sibuk, tak terkecuali fasilitas pelayanan kesehatan. Pasien yang tertunda berobat pada hari libur seakan berjanji untuk datang bersamaan pada hari itu. Meskipun Ilsanti bukan seorang petugas kesehatan, tugas di bagian administrasi juga tak kalah padat. Sebabnya, tak banyak rekannya yang mau dan mampu berkutat pada bidang kerja itu.
Hari itu Ilsanti sedang sakit, dia terkena alergi yang selalu muncul setiap kali dia stres dan kelelahan. Dulu ketika Ilsanti masih mahasiswa, ia sering batuk pertusis parah yang tidak akan berhenti kalau belum 100 hari. Di usianya yang sekarang alergi itu berubah menjadi sesak nafas, bahkan kemarin ia pulang diantar ambulans karena kepalanya sakit bukan kepalang.
Dia masih menyempatkan diri untuk menengok Indri, salah satu teman baiknya ketika SMA, yang sedang dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja.
Kemarin, anak Indri, Naira kirim pesan kepadanya, “Tante, hari ini mama masuk RS Saras Waluyo.”
Ilsanti kaget, “Kenapa mama, Dek?”
Naira menjawab, “Mama tiba-tiba tidak sadar, Tante. Waktu itu Mama sedang melayani pesanan orang-orang lewat ponselnya.”
Kondisi Indri cukup memilukan ketika Ilsanti menengok ke ruang ICU. Indri dalam keadaan setengah sadar. Matanya terbuka dengan tatapan kosong lalu terpejam lagi.
Terlihat dia mosak-masik seakan menunjukkan rasa sakitnya sambil sesekali mengerang. Tidak berapa lama ia menangis memanggil nama almarhum neneknya. Selang oksigen, selang infus terpasang di bagian tubuhnya. Indri terkena stroke hemoragik. Sebelah kanan tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Indri adalah ibu rumah tangga yang rajin. Keahliannya meramu segala macam resep masakan membuatnya tidak pernah sepi pesanan. Terakhir, dia menawari Ilsanti es sultan yang dia buat sendiri, bahkan dia rela mengantar pesanannya jauh sampai ke luar kota. Sering juga ia mendapat pesanan dari kantor-kantor terdekat. Indri cukup puas dengan jerih payahnya, tetapi dia lupa tubuhnya butuh istirahat.
Ilsanti merasa sangat iba. Dia tahu Indri masih butuh tambahan penghasilan dalam hidupnya. Pembicaraan terakhir dengannya menyiratkan keadaan yang belum kondusif. Sudah dapat dilogika jika dia dapat terkena serangan stroke, mengingat Indri seorang pemikir. Apapun selalu dipikir, membersamai kesibukannya membantu suami dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Alhasil, tubuhnya terabaikan dan mengakibatkan naiknya gula dan tekanan darah.
Kabar sakitnya Indri segera beredar di grup WhatsApp teman-teman satu sekolah. Semua teman prihatin dan mendoakan Indri. Beberapa teman baik yang lain sudah mendapat kabar melalui Naira atau Fitri, dua anak Indri. Grup ramai dengan pemberitaan tentang Indri, ada juga yang mengirim pesan pada Ilsanti menanyakan seberapa parah kondisi Indri.
Royke sang ketua berkata, “Teman-teman, Alhamdulillah telah terkumpul dana yang cukup sebagai ungkapan prihatin kita buat Indri. Besok kita organisir teman-teman yang akan menengoknya bersama”.
Grup Kembali ramai. “Aku besok ikut jenguk,” kata Wirda.
“Aku juga,” kata Tinuk. Disambung Widi, Yori, Risna, Een, Sofia, dan beberapa teman lain. Jumlahnya ada delapan orang.
“Tapi kita mau naik apa, ya? Di antara kita tidak ada yang punya mobil.” Semua terdiam. Beberapa terkekeh menertawakan diri sendiri.
“Aku ada mobil tetapi nggak ada yang bawa, aku nggak bisa nyetir,” kata Risna.
Setelah agak lama, teman-teman akhirnya dapat supir. Alhamdulillah. Sekarang giliran teman-teman ribut lagi karena tidak tahu RS Saras Waluyo. Rumah sakit kecil di perbatasan daerah, tetapi bangunannya banyak dan luas. Hal itu akan memakan waktu bagi pengunjung yang baru pertama datang. Belum lagi jika mengingat bahwa kunjungan ini dilakukan di luar jam besuk, sementara penjagaan rumah sakit cukup ketat.
Ilsanti berpikir, mestinya butuh orang dalam untuk mengakses masuk.
Tiba-tiba dia berkata, “Tenang teman-teman, nanti aku yang mengawal teman-teman ke sana. Aku akan izin ke petugas untuk bisa masuk di luar jam besuk. Teman-teman perlu dipandu untuk masuk ke area perawatan. Nanti aku juga minta suami buat antar kalian. Jadi pas, ya, ada dua mobil untuk berangkat ke sana,” kata Ilsanti menawarkan diri.
“Alhamdulillah, makasih Santi,” kata teman-teman.
Malam itu grup menjadi tenang. Teman-teman yang semula menyatakan tidak jadi membesuk karena tidak ada kendaraan, kembali bermunculan menyatakan diri untuk ikut membesuk lagi. Mereka semua sayang pada Indri, dan ingin menyemangati serta mendoakannya dari dekat.
Ilsanti bertekad mengantar teman-temannya, padahal sebenarnya dia ada acara kondangan ke luar kota. Kepalanya masih nggliyeng. Awalnya dia menyetujui berangkat karena berpikir akan sembuh pada hari H-1. Perkembangan berkata lain, rasanya dia tidak mungkin menghadiri pernikahan saudaranya.
“Aku akan titip Bude Wiwik saja,” katanya dalam hati. Rencana semula berangkat berenam dengan Bude Wiwik, Pakde Rusli, Siska anak Bude Wiwik, dia, Tante Yayit, dan tante Neni. Biarlah mereka berlima.
Malam itu juga Ilsanti diantar Dani, suaminya, menemui Bude Wiwik.
“Bude, saya mau matur kalau besok saya nggak jadi ikut. Ini surat sakit dari dokter, Bude. Saya belum sehat untuk bisa ikut pergi ke nikahan Dek Bimo,” papar Ilsanti.
Hasilnya di luar dugaan. Bude Wiwik mendadak meradang, wajahnya memerah, mulutnya tidak berhenti untuk merutuki seperti kereta cepat yang meluncur tak terkendali.
“Kenapa kamu tidak bilang dua hari sebelumnya kalau tidak bisa datang, Santi? Bude sudah batalkan kondangan ke nikahan Bimo. Kalau tidak jadi sebenarnya Bude sudah merencanakan menjenguk Firli yang habis melahirkan.”
Ilsanti bingung. Bude seakan menyembunyikan sesuatu yang lain. Mengapa hanya karena dia batal maka semua harus gagal, entahlah.
Lama dia tercenung dan akhirnya berkata lirih, ”Iya bude, besok saya ikut Bude dan Pakde ke nikahan Dek Bimo.”
“Nggak usah. Kalau kamu memang lagi sakit nggak usah ikut,” kata Bude sambil mendengus.
“Nggak apa-apa, Bude. Insyaallah kan saya cuma hadir dan duduk saja Bude.”
Lima detik kemudian kemarahan Bude mereda. Dari perkataannya, badai topan agaknya sudah berlalu. “Sekarang minumlah, sudah disediakan air hangat kesukaanmu oleh kakakmu, Nunik.”
Ilsanti lupa bahwa sedari tadi dia menahan haus efek obat yang diminumnya. Perlahan, air dalam gelas itu berpindah ke dalam mulutnya.
Cess…. Terasa hangat mengguyur tenggorokannya.
Terasa segar, dan saat matanya menerawang ke atas, tiba-tiba kesadarannya muncul. Astaghfirullah, lalu bagaimana janjinya kepada teman-temannya? Siapa yang akan mengantar? Siapa yang akan menunjukkan tempat? Siapa yang akan meminta izin kepada petugas untuk menengok di luar jam besuk?
Mendadak tenggorokannya terasa kering. Apa yang harus dikatakan kepada teman-temannya, yang sudah menggantungkan harapan kepadanya untuk membesuk Indri? Jari-jarinya menjadi lemas, ada tujuh bintang menari-nari di atas kepalanya. Perlahan gelas kosong di tangannya jatuh menggelinding di atas karpet. Semua terasa gelap.
Afiati, Ibu dari dua orang anak.
Editor: Mahdiya Az Zahra – Bhagaskoro P.