“Bila dirasanya tangan sang kakak mulai gemetar, ia akan mengusap lembut punggung tangan Jasmin dan mulai membicarakan hal-hal menyenangkan.”
Undangan via email dari Rena seperti suguhan buah simalakama. Menyenangkan sekaligus bagai surat hukuman mati. Senang karena sahabat masa kecilnya itu akan menempuh hidup baru, tetapi gelisah karena tiket pesawat bertuliskan namanya terlampir di sana.
Beberapa jam kemudian Rena menelepon.
“Jasmin, ingat janjimu ya, Dear, apa pun yang terjadi, kita akan saling menghadiri hari bahagia masing-masing.” Suara Rena sedikit terputus-putus, tapi gelombang suka citanya tetap tertangkap telinga Jasmin.
“Aku nggak datang tapi kuganti pakai kado paling mahal pilihanmu, boleh?” tanya Jasmin seraya mengingat saldo di rekening rahasianya.
“Kehadiranmu tak tergantikan, Sayangku. Tiketnya juga tak bisa dikembalikan. Kamu boleh ajak Rosa si centil itu. Sudah umur berapa dia sekarang, Jas?”
“Sembilan belas.”
“Ya ampun, berarti kita nggak ketemu langsung sudah hampir sepuluh tahunan, Jas! Time flies so fast. Aku ingin kita gila-gilaan lagi sebelum aku resmi jadi nyonya. Janji datang, ya? Ya? Ya?”
Jasmin mengulum senyum sembari geleng-geleng kepala. Sifat mendesak khas Rena rupanya tidak berubah.
“Tunggu aku kalau begitu.”
“Yeayyy …”
Sungguh, Jasmin merasa dikhianati lidahnya sendiri.
***
“Kak, something wrong? Dari tadi mondar-mandir melulu.”
Jasmin berhenti dan menatap Rosa sejenak, kemudian melanjutkan gerak tak tentu arahnya. Sekitar dua menit kemudian akhirnya ia menyerah dan duduk di samping sang adik.
“Kamu kok bisa tenang, sih, menghadapi perjalanan jauh kita minggu depan?”
“Kenapa? Bukannya kita pergi untuk bergembira? Kenapa mesti cemas? Kakak punya dana untuk kita shopping di sana, kan? Aku mau kulineran.”
“Naik pesawat itu bahaya ….”
“Kak, naik becak juga bahaya. Apalagi kalau rem becaknya blong.”
“Kamu itu selalu punya segudang jawaban, ya. Kakak jadi penasaran, kira-kira kapan kamu mati kutu.”
“Ya nggak bakalan, lah, karena aku tak punya kutu.”
Jasmin tergelak dan tangannya mendekati pinggang Rosa untuk mencubitnya sedikit. Sayang kalah cepat. Adiknya sudah berlari keluar kamar.
***
“Jasmin, wajahmu pucat sekali. Tugas dari bos kebanyakan? Ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak, Wid, Semuanya sudah beres. Sepertinya aku salah makan atau masuk angin, nih.”
“Untung besok kamu cuti. Istirahat sampai puas. Lumayan kamu dapat izin dua minggu.”
“Iya. Semoga habis cuti nanti aku bisa masuk lagi dan tetap sehat.”
Widya memandang bengong kepada Jasmin yang dianggapnya memberi jawaban aneh.
***
“Kamu wakilkan Kakak, ya, Sa? Kakak tak sanggup terbang. Lebih baik batal daripada nanti kamu repot. Sekarang saja rasanya sudah sesak napas dan agak mual.”
“Kakak nonton film komedi atau putar lagu favorit dulu biar tenang. Rosa mau cek driver. Semoga dia tidak terjebak macet.”
“Sa….”
“Percaya sama Rosa, deh. Pesawat kita aman.”
“Sa….”
“Bukan pesawat yang ditumpangi Mami, Papi, dan Chrys.”
“Sa….”
“TOLONG JANGAN BERLEBIHAN, KAK.”
“Kakak tidak takut mati, Sa. Kakak takut kamu yang mati.”
Tangis Jasmin meledak dan pelupuk mata Rosa digenangi air mata. Mereka berpelukan.
***
Tujuh tahun lalu, mereka sekeluarga mudik. Papi memilih membawa Mami, Jasmin, Rosa, dan Chrys menumpang angkutan udara demi mempersingkat waktu perjalanan. Mudik waktu itu merupakan kali pertama mereka bepergian bersama si bungsu Chrys, yang masih berusia enam tahun.
Sepanjang jalan menuju bandara Chrys terus bertanya segala hal yang menarik perhatiannya. Hujan tipis tapi lebat tak menghalangi keceriaannya. Ia juga terlihat tak sabar untuk naik ke pesawat. Sikap Jasmin kebalikan sikap sang adik. Baginya, hujan adalah tangisan alam. Alam menangis karena ada peristiwa yang membuatnya sedih. Ia tak suka berangkat diiringi tangisan.
Di bandara, Papi membelikan pastry kesukaan Jasmin dengan harapan putrinya tak terlalu murung. Tak berhasil. Selain murung, Jasmin bahkan terlihat tegang dan sedikit pucat.
“Di dalam pesawat nanti ada tv, lho. Kamu bisa nonton film seru. Ada jual mainan dan perhiasan juga. Kamu boleh pilih apa saja yang kamu suka.”
Jasmin duduk seakan tak mendengar tawaran Papi. Matanya menerawang. Papi menarik napas panjang. Ia tahu putri sulungnya tak suka naik pesawat, tetapi ia tak tahu apa alasannya. Tiap ditanya, jawaban Jasmin selalu saja ‘naik pesawat itu bahaya’.
Senyum manis pramugari yang menyambut penumpang di pintu masuk pesawat tak juga menenangkan hati Jasmin. Ia malah merasa seperti sedang memasuki wahana rumah hantu.
Perutnya mulas, detak jantungnya terasa makin cepat, dan telapak tangannya mulai berkeringat.
Baru saja lampu tanda kencangkan seat belt dipadamkan, perut Jasmin memberontak. Papi hampir terlambat membuka kantong muntah. Dalam semenit, semua makanan yang tadi tersimpan di lambung gadis empat belas tahun itu telah pindah ke kantong di tangan sang ayah. Rosa dan Chrys membuang muka dan menutup hidung. Mami menyodorkan minuman. Setelah minum Jasmin merasa sangat lemas. Ia tertidur pulas.
Jasmin terbangun oleh raungan sirene. Ia mendapati dirinya berselimut debu dan hampir seluruh tubuhnya terasa sakit. Suara-suara panik, memerintah, dan seruan minta tolong berseliweran di sekitarnya. Ia baru benar-benar sadar setelah neneknya datang dan membawanya pulang.
***
Kehilangan tiga anggota keluarga sekaligus menggoyahkan sendi-sendi kehidupan Jasmin.
“Kakak masih punya aku,” ujar Rosa mengingatkan.
“Benarkah aku masih hidup, Sa?” tanya Jasmin lelah. “Terkadang kurasa nyawaku sudah ikut dengan Mami, Papi, dan Chrys. Bagaimana kamu bisa merelakan mereka begitu cepat?”
“Karena aku yakin, suatu saat nanti kita semua akan berkumpul kembali.”
Suara klakson menghentikan percakapan mereka. Rosa bergegas menyambut supir taksi online yang menjemput mereka, sementara Jasmin setengah berlari masuk ke kamar mandi.
***
Mulai turun dari taksi hingga boarding, Rosa hampir tak melepas genggaman tangannya pada tangan Jasmin. Bila dirasanya tangan sang kakak mulai gemetar, ia akan mengusap lembut punggung tangan Jasmin dan mulai membicarakan hal-hal menyenangkan.
Di dalam pesawat, wajah Jasmin memucat. Kenangan buruk itu seakan diputar di depan matanya. Tubuhnya gemetar hebat. Senyuman Papi, tatapan Mami, ocehan Chrys, tergambar silih berganti.
“BERHENTI! AKU MAU TURUN! Aku mau turun. Berhenti.”
“Ssh… Kak, Kak, Kak Jasmin! Tidak apa-apa, Kak. Ada aku di sini. Kakak kutemani.” Rosa memeluk dan mengusap-usap punggung kakaknya yang baru bulan lalu genap berusia 24 tahun tersebut.
Tubuh Jasmin bergetar dan terasa tegang.
Sambil memeluk, Rosa memalingkan wajah dan meminta maaf kepada penumpang di sekitarnya. Ia juga meminjam selimut pada pramugari.
“Aku di sini, Kak. Kita akan menghadiri pernikahan Rena. Rena yang suka jahil dan meletakkan kodok di kepalaku.”
Seulas senyum hadir di bibir Jasmin. Perlahan ia mulai merasa tenang. Benaknya menampilkan aneka keusilan sahabatnya itu. Mulai dari menyimpan kecoak di tasnya, menempelkan ulat bulu ke topi sekolah dan bilang bahwa ulat itu hewan paling manis sedunia, hingga menusukkan jarum jahit ke ujung jari masing-masing, menyatukan tetesan darah mereka, dan berjanji untuk bersahabat sampai mati. Janji yang di dalamnya juga termasuk menghadiri pernikahan salah satu dari mereka di mana pun acaranya berlangsung.
Ingatan itu ditambah pelukan Rosa mendamaikan hati Jasmin. Kepalanya terkulai dan napasnya mulai teratur. Rosa menghirup udara dan menahannya sejenak. Landing masih sekitar lima jam lagi.
***
Tanjungpandan, 30 April 2022.
Fifi Alfida adalah ibu rumah tangga yang senang mengamati perilaku orang-orang di dekatnya dan menuangkan hasil pengamatannya dalam fiksi. Beberapa tahun belakangan mulai belajar menulis dengan serius. Ia dapat dihubungi di laman Facebook Fifi Alfida. Email: jifisaamin@gmail.com.
[red/yukrasan]