Mengharapkan moral dan etika kok kepada orang-orang yang suka memanfaatkan kemiskinan.
Di awal tahun ’90-an, ada seorang lelaki muda yang mengalami semacam krisis identitas. Ia risau karena merasa bahwa kota tempat kelahirannya kurang dikenal orang. Dalam sebuah kesempatan, dia pernah mengatakan bahwa saat masih kuliah di IKIP Surabaya, dirinya sering mendapat olok-olok karena berasal dari kota yang namanya asing dan tak pernah didengar oleh teman-teman kuliahnya, terutama yang berasal dari luar provinsi Jawa Timur.
“Jember itu di mana sih?” atau, “Jember itu ada nggak di peta?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Patut diakui bahwa nama Jember saat itu memang tidak seterkenal Malang yang kaya akan tempat wisata, atau Kediri yang selalu diasosiasikan dengan pabrik rokok Gudang Garam, atau kota-kota lainnya di Jawa Timur. Tak ada satu hal yang layak diingat oleh orang luar daerah tentang Jember, karena memang tak ada yang istimewa.
Berangkat dari kegelisahannya itu, si lelaki muda kemudian berusaha mewujudkan sebuah gagasan untuk mencari ciri khas kota Jember, sekaligus memperkenalkan identitas tersebut ke berbagai tempat. Kebetulan lelaki itu adalah sarjana seni rupa, sehingga ia menggunakan pendekatan seni. Kebetulan juga, ia juga lulusan ESMOD Jakarta, yang membantunya menelurkan ide untuk menggabungkan unsur seni dengan mode dalam bentuk semacam parade di jalanan, menjadikan jalan raya sebagai panggung catwalk.
Ya, orang yang aku maksud di atas adalah Dynand Fariz (almarhum), penggagas sekaligus presiden pertama Jember Fashion Carnaval (JFC).
Meskipun sekarang kota Jember sudah mulai dikenal orang, salah satunya berkat adanya event peragaan busana terpanjang di dunia itu, namun jalan yang ditempuh Dynand Fariz pada awalnya sama sekali tidak lancar-lancar saja. Segala macam cemoohan, olok-olok, hingga pelarangan oleh beberapa warga yang merasa aneh bahkan terganggu dengan kegiatan itu, sering ia alami.
Karena dianggap aneh dan mengganggu, selain sulit mendapatkan sponsor, juga sedikit sekali orang yang mau mengikuti ide gila Dynand Fariz. Di tahun-tahun awal JFC memulai langkah kecil, Dynand hanya bisa merekrut anak-anak muda dari kampung-kampung yang hanya melihat kegiatan itu karena asyik dan unik saja, tak lebih dari itu. Tak ada anak-anak dari kalangan orang berada, karena siapa sih yang mau didandani sedemikian rupa, memakai kostum yang berat dan gerah untuk melintasi jalanan kota Jember yang panas?
Bahkan, sebelum berani tampil secara resmi di jalan raya utama kota Jember pada tahun 2003, Dynand dan beberapa orang dalam jumlah terbatas hanya berani tampil di jalan-jalan kecil atau gang-gang sempit di tengah kota. Salah seorang teman bermainku di kampung dulu, Belly Jean, adalah angkatan pertama parade jalanan itu sebelum resmi bernama JFC.
Dalam perjalanan waktu, JFC semakin banyak dikenal orang. Levelnya semakin naik, dari parade jalanan kelas kampung, menjadi ikon Jember hingga menginspirasi kota-kota lain untuk mengadakan kegiatan serupa (yang mana Dynand Fariz dan JFC berperan sebagai konsultannya), hingga kemudian menjadi ferstival kelas dunia, saat itulah segala sesuatunya sudah mulai berubah.
Tak ada lagi anak-anak muda kampung yang terlibat menjadi talent, atau mungkin ada tapi jumlahnya semakin sedikit. Itulah konsekuensi yang mau tak mau harus dihadapi oleh JFC ketika namanya sudah mulai dikenal sampai manca negara. Kualitas kostum, desain, para talent, defile, hingga keseluruhan pagelaran harus prima dan maksimal. Tentu ada rupa, ada harga. Berbeda dengan dulu saat masih berpawai keluar masuk gang dengan kostum seharga puluhan hingga ratusan ribu, sekarang, ketika namanya sudah mendunia, nilai kostum para talent-nya sudah jutaan, belasan, hingga puluhan juta.
Ketika dulu nggak ada anak-anak orang kaya yang mau bergabung, sebaliknya, saat ini para talent JFC banyak berasal dari kalangan itu. Sebenarnya nggak ada yang salah, sah-sah saja. Apalagi dunia mode dan fashion, apa boleh buat, sudah telanjur dicap glamor dan mewah sehingga praktik kapitalisme mau tak mau menjadi tak dihindarkan.
Itulah mengapa, ketika belakangan ini mulai ramai soal Citayam Fashion Week (yang awalnya adalah gerakan spontanitas para anak muda pinggiran yang juga ingin tampil dan “menduduki” SCBD) sebagai salah satu ikon yang sedang viral di Jakarta, yang kemudian digusur dan mulai dikuasai oleh anak-anak muda dari kalangan atas (bahkan para selebritis), aku sama sekali nggak merasa terkejut.
Aku tak segalau orang-orang yang sejak kemarin menuliskan caption “created by the poor, stolen by the rich” itu. Sebabnya, sepanjang hidupku aku telah menyaksikan hal seperti itu berulang kali, ketika orang-orang kecil harus minggir dan semakin minggir karena yang kaya mendesak mereka keluar untuk menggantikan tempatnya. Bahkan SCBD yang sekarang megah itu pun bisa jadi pada tahun 50 hingga 60-an adalah “tempat jin buang anak” milik penduduk asli Betawi yang pada akhirnya tergusur juga dari daerah itu karena kekuatan uang.
Termasuk soal pasangan Baim-Paula yang tiba-tiba meluncurkan produk fashion berlabel Citayam Fashion Week dan berencana mematenkannya (walau kemudian urung dilakukan). Mungkin banyak orang yang menghujat mereka dengan alasan nilai-nilai moral dan etika. Tapi harus dimaklumi bahwa yang mereka lakukan itu sah-sah saja secara sosial dan ekonomi. Secara hukum juga tidak ada larangan terhadap langkah yang diambil oleh pasangan YouTuber papan atas Indonesia itu.
Kalian saja yang aneh. Mengharapkan moral dan etika kok kepada orang-orang yang suka memanfaatkan kemiskinan dan mimpi indah kaum jelata sebagai konten-konten YouTube-nya.
Eko Bambang Visianto. The right man on the left place.
[red/bp]