Ironi Kejantanan Knalpot Bising

Knalpot

“Eksistensi menurut manusia-manusia pengguna knalpot bising ini, agaknya punya kedekatan dengan maskulinitas. Tidak semua lelaki sepakat dengan ini, tapi ada alasan tertentu yang membuat saya mencurigainya demikian.”

Di siang yang panas, sebuah motor yang tak lagi jelas wujudnya menyalip dari sebelah kiri. “Ooo… Wedhus!” Umpat saya perlahan, tersentak oleh bunyinya yang bikin pekak telinga. Toh mengumpat dengan berteriak juga percuma karena saya berada di dalam mobil. Si pengendara motor juga tak akan mendengarnya, saking nyaring bunyi knalpotnya.

***

Beberapa waktu belakangan, pembicaraan tentang toa masjid telah menghangatkan linimasa. Meski banyak orang terjebak untuk mereduksi wacana ini sebagai penistaan terhadap adzan, awetnya pembicaraan ini menunjukkan bahwa keresahan terhadap polusi suara memang nyata adanya.

Omong-omong tentang polusi suara, bunyi knalpot bising mestinya juga tak luput diikutsertakan dalam wacana ini. Meski sudah dilarang, pengguna knalpot jenis ini tetap ada dan berlipat ganda. Rasanya cukup aman untuk berasumsi bahwa mayoritas umat manusia yang memiliki indera pendengaran sepakat kalau suara knalpot modifikasi ini punya reputasi sebagai sesuatu yang mengganggu. 

Pengalaman saya di awal tadi, besar kemungkinannya juga dialami banyak orang. Seringkali, meski kaget dengan bunyi knalpot yang nyaring, kita justru tertegun bahwa kecepatan motornya justru biasa-biasa saja. Bukankah ini pola yang menarik?

Pengalaman yang berulang dengan suara knalpot ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana knalpot bising ini bisa punya tempat dalam kebudayaan manusia? Mengapa bisa ada sekelompok orang yang menggemari suara bising seperti itu? Berikut analisis saya.

***

Jalanan, sebagaimana ruang publik lainnya, adalah medan tempur atas makna-makna. Begitu juga knalpot yang pada dasarnya punya kontestasi maknanya sendiri.

Knalpot bising, knalpot racing, knalpot brong, knalpot brot, atau sebutan-sebutan lainnya, pada dasarnya merujuk pada corong pembuangan sisa pembakaran pada kendaraan bermotor, yang merupakan modifikasi dari standarnya. Modifikasi ini dimaksudkan untuk membuat bunyi motor lebih nyaring ketika digeber.

Saya menduga, knalpot bising adalah cara bagi para penggunanya untuk menggapai eksistensi. Seperti yang dikatakan Sartre, manusia tidak punya hakikat bawaan, sehingga apa yang dia lakukan di dunia adalah upaya menemukan eksistensi, yang akhirnya membawanya kepada esensi sebagai manusia.

Eksistensi menurut manusia-manusia pengguna knalpot bising ini, agaknya punya kedekatan dengan maskulinitas. Tentu, tidak semua lelaki sepakat dengan representasi maskulin dari knalpot bising ini, tapi ada alasan tertentu yang membuat saya mencurigainya demikian.

Jika Roland Barthes berpendapat bahwa fashion sesungguhnya adalah sistem yang memproduksi makna yang membagi jenis-jenis pakaian dengan mengisi detil-detil estetik lewat pemaknaan-pemaknaan tertentu yang menghubungkannya dengan kepentingan duniawi. Maka, saya menduga bahwa knalpot bising juga merupakan bagian dari fashion menurut Roland Barthes ini.

Meski, tentu saja knalpot bukan garmen dan terbuat dari logam, namun sebagaimana fashion dalam berbusana, yang ditawarkan oleh knalpot bising bukan hanya fungsinya sebagai saluran pembuangan sisa pembakaran. Tapi, justru makna yang diwakilkannya.

Saat SMA, saya pernah bertanya kepada seorang teman, “Biar apa gitu (memakai knalpot bising)?” Ia menjawab dengan enteng, “Ya biar garang suaranya, to.” Lebih mudah membayangkan ‘garang’ sebagai bagian dari representasi maskulin daripada feminin, sebagaimana di masa lalu tato dan cambang pernah dikonstruksikan sebagai representasi macho alias jantan.

Dan tentu saja, setelah saya usut, ia menganggap suara bising knalpot itu keren dan mampu menarik lawan jenis seumurannya. Walau juga besar kemungkinan knalpot bising itu justru menjauhkannya dari jodoh. hehehe.

Bagi remaja puber, knalpot bising bisa jadi serupa dengan tarian burung merak saat mengembangkan bulu-bulunya pada musim kawin, atau suara dengung kodok di fase yang sama. Suara bising knalpot seakan-akan mewakili penggunanya berteriak, “Lihatlah aku!” yang meski jarang gagal mendapatkan perhatian orang-orang, banyak dari kita ragu untuk memandangnya sebagai sesuatu yang positif.

Rata-rata orang yang saya temukan menggunakan knalpot bising ini juga punya kebiasaan serupa, yakni menggeber gas di saat yang tidak perlu, demi menonjolkan bunyi berisik knalpot kesayangannya itu. Memangnya buat apa simbol-simbol maskulin ini dikonsumsi, jika tidak untuk dipamerkan?

Jika masih ragu dengan kedekatan knalpot dengan maskulinitas, maka kita perlu mengingat bahwa knalpot, si tabung panjang yang mengeluarkan asap, juga sering dijadikan istilah untuk menyebut kemaluan laki-laki. “Wah, gede banget knalpotnya,” begitu kira-kira model celetukannya. Tentu ini bisa dipandang seksis dan bias gender bagi sebagian orang, tapi, ya, begitulah konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.

Sayangnya, knalpot bising justru lebih sering terlihat berukuran pendek, bahkan ada yang dipotong, demi suara yang ‘garang’ tadi. Sudah pendek, berisik pula. Betapa ironis perbandingannya.

Simbol maskulin pada kenyaringan bunyi motor ini juga tak lolos dari pertentangan kelas antara sesamanya. Saya melihat pemakaian knalpot modifikasi ini awalnya merupakan negosiasi atas ketidakmampuan penggunanya untuk memiliki kendaraan baru. Sehingga, ketimbang membeli motor baru, lebih baik mengganti, memodifikasi, atau menambah bagian-bagian kendaraan yang sudah ada. 

Modifikasi seperti ini menimbulkan sensasi kebaruan yang mirip dengan membeli motor baru, dengan harga yang jelas lebih terjangkau. Meskipun, dalam banyak kasus, modifikasi yang dilakukan terus-terusan, pada akhirnya membuat motor malah semakin tak karuan. Alias ambyar.

Khusus modifikasi knalpot bising, saya menduganya sebagai sebuah usaha untuk tampak relevan dalam persaingan kelas melawan kendaraan bising lain yang kasta sosialnya lebih tinggi.

Ketika membicarakan knalpot bising, kita sering luput membicarakan beberapa jenis motor sport dan motor gede semacam Harley Davidson. Meski bukan cuma knalpotnya saja yang bersuara nyaring, ukuran mesin yang besar juga menimbulkan kebisingan yang acapkali sama tidak nyamannya. Bahkan bisa dibilang, knalpot bising yang digunakan oleh kelas sosial di bawah motor gede tadi, pada dasarnya merupakan simulasi dari suara menggelegar dari motor-motor ber-cc besar ini.

Dalam pandangan saya, pembedanya hanyalah bagaimana motor-motor dengan cc besar tersebut mewakili kelas sosial tertentu, yang standarnya—begitu pula citra dan kepentingannya—lebih mudah dinegosiasikan dengan peraturan yang berlaku.

Pendapat ini mungkin akan dianggap sebagai ekspresi sirik belaka. Tapi, bagaimanapun, saya sulit memahami mengapa knalpot bising bisa dikategorikan tidak memenuhi standar, sementara beberapa jenis motor gede—yang cc-nya sedemikian besar, begitu pula komponen lainnya ikut membesar, termasuk bunyinya—dianggap memenuhi standar dan cukup aman untuk dikemudikan. Padahal dari ke-“besar”-annya saja membuat motor-motor ini sulit dikuasai, sehingga membutuhkan skill khusus.

Memang, agak membingungkan untuk memahami bagaimana standar ini bekerja. Bagaimanapun, toh ini urusan lain, yang mungkin juga bergantung pada “kebijaksanaan” demi mengakomodasi kebutuhan pasar dan konsumennya.

Pada akhirnya, motor dengan knalpot bising adalah kelas yang terkalahkan dalam kontestasi kegarangan yang maskulin ini. Ia mesti bergerilya di antara gang-gang agar lolos dari razia polisi, membisingi seisi kampung, meski sesekali tak terhindarkan nongol di jalan raya. Sementara motor-motor gede yang disimulasikan bunyinya justru sering terlihat dikawal dalam iringan konvoi, menerobos rambu-rambu. [red/pap]

Bhagaskoro Pradipto, stay at home dad, redaktur ghibahin.id, menulis sambil memikirkan yang tidak-tidak. Tinggal di Badung, Bali

One thought on “Ironi Kejantanan Knalpot Bising”

Comments are closed.