It’s Ok Not To Be Ok: Gangguan Mental Bukanlah Kegagalan Pribadi

ghibahin

“..saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya manusia lebih takut pada kehidupan daripada kematian..”

“Baik-baik saja,” adalah jawaban yang seringkali kita berikan, ketika ada seseorang yang menanyakan kabar. Bisa jadi, sebenarnya keadaan kita sedang kurang baik. Tetapi karena takut dianggap lemah dan tidak mampu, “baik-baik saja” seolah menjadi ungkapan wajib untuk menggambarkan keadaan kita saat itu.

Padahal sebenarnya tidak apa-apa jika kita terlihat tidak baik-baik saja. Bersifat terbuka itu berdampak jauh lebih positif bagi kesehatan mental. Menurut beberapa penelitian, saat mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, orang lebih mampu mengatur emosi.

Gangguan mental seringkali dianggap sebagai masalah yang tidak serius oleh sebagian orang. Terkadang kita takut untuk mengungkapkan kondisi yang sebenarnya hanya karena takut dianggap sebagai lelucon. Padahal seiring bertumbuh dewasa, kita perlu menyadari bahwa hidup ini harus seimbang. Tidak hanya perihal tawa, namun juga perihal luka. Dari rasa sedih kita bisa belajar bahwa tidak selamanya tawa itu harus ada. 

Sesekali kita perlu menangis dan meluapkan segala emosi. Sebagian orang kerap berkata, “jangan menampakkan kesedihan, kamu harus terlihat kuat dan baik-baik saja.” Namun saya tidak setuju. Jika sedih, menangislah. Tak usah berpura-pura sebaliknya. 

Saya ingin mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini untuk tidak menahan diri jika ingin mengeluh, menangis, berteriak sekuatnya, menulis sesukanya, bercerita atau minta tolong, kepada psikolog atau orang lain yang dipercaya. Tidak apa-apa, lakukan saja bila itu bisa membuat kamu merasa lega. 

Saat menghadapi masalah, penting bagi kita untuk bersikap jujur dan minta pertolongan jika dibutuhkan

Tidak dapat dimungkiri, sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain. Sebagai individu, manusia ternyata tidak mampu hidup sendiri. Manusia saling membutuhkan dan perlu bersosialisasi. Demikian juga seharusnya ketika menghadapi masalah atau persoalan hidup yang rumit. 

Tidak mengapa untuk mencari teman bercerita. Jangan pernah merasa takut untuk speak up, karena gangguan mental itu bukanlah kegagalan pribadi. Kita juga membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar seperti keluarga, teman, orang tua, dan orang lain yang kita percayai sebagai tempat bercerita. 

Mengapa kita perlu bersikap jujur? Berdasarkan penelitian yang terbit dalam Journal of Psychosmatic Research, emosi yang sering dipendam bisa meningkatkan risiko timbulnya penyakit kanker dan gangguan jantung. Emosi yang ditekan mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperburuk mental. Karena itu, amat penting untuk belajar bersikap lebih terbuka dan berbagi kesedihan dengan orang yang dipercaya.

Menurut Jonathan Rottenbarg, peneliti dan profesor psikologi dari University of South Florida, rasa sedih merupakan sinyal penanda yang kita berikan kepada orang lain bahwa kita rapuh dan butuh berbagi. Rapuh adalah kondisi emosional yang wajar. Tidak selamanya manusia harus kuat. Pada saat dan kondisi tertentu, menunjukkan rasa sedih adalah hal yang wajar.

Gangguan mental bukanlah kegagalan pribadi

Banyak yang berpendapat bahwa gangguan mental disebabkan oleh kegagalan pribadi seseorang dalam mendidik jiwanya. Ada juga orang yang tidak mau tahu dengan kondisi terburuk orang lain. Padahal, perlu kita ketahui bahwa gangguan mental justru seringkali timbul gara-gara orang-orang terdekat. Ironis bukan? Alih-alih menjadi obat, orang-orang terdekat malah menjadi penyebab gangguan pada seseorang. 

Gangguan mental juga bisa timbul jika tidak ada dukungan dari orang-orang sekitar, ketika seseorang sedang berada dalam kondisi terburuknya. Tanpa kita sadari, pertanyaan sederhana seperti, “ada cerita apa hari ini?” bisa jadi sangat berpengaruh bagi kesehatan mental seseorang. Pada dasarnya orang akan merasa senang jika diperhatikan dan dipedulikan. 

Perlu digarisbawahi bahwa gangguan mental bukanlah murni kegagalan pribadi. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, dan penderitanya membutuhkan dukungan dari orang lain agar proses penyembuhan bisa jauh lebih cepat.

Namun sayang, masih banyak orang yang belum sadar akan pentingnya kesehatan mental. Masih banyak orang yang menganggap bahwa gangguan mental hanyalah bawaan dari diri pribadi. 

Ada beberapa kasus yang belakangan ini menarik perhatian masyarakat. Pertama, kasus seorang ibu dari Jawa Tengah yang menggorok leher anaknya, dan mengakibatkan satu dari tiga orang anaknya meninggal dunia. Tujuannya adalah agar anaknya tidak merasakan kesulitan dan kesedihan seperti yang ia alami di dunia. Jika dilihat dari kacamata psikologi, tentu ada masalah dalam kejiwaan si ibu. Sedangkan dukungan dari suami dan keluarga sangatlah minim, bahkan bisa dibilang tidak ada.

Gangguan mental yang ia derita disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain, ia dipaksa atau terpaksa untuk terlihat baik-baik saja, padahal ada banyak masalah dalam rumah tangganya. Dalam menghadapi masalah rumah tangga, kekompakan dengan pasangan juga bisa menentukan baik atau buruknya kesehatan mental seseorang. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan komunikasi yang baik, berbagi peran, dan saling mendukung dalam berumah tangga. 

Kedua, kasus bunuh dirinya seorang mahasiswa yang diduga depresi karena skripsinya tidak kunjung selesai, sedangkan ia sudah memasuki semester kedua belas. Di samping itu, diduga ia juga memiliki beberapa masalah lain. Sayangnya, ia tidak punya tempat untuk bercerita. Segala sesuatu ditanggungnya seorang diri, hingga akhirnya kesehatan mentalnya benar-benar terganggu. 

Hal ini memberi pelajaran kepada kita bahwa people don’t fake depression,they fake being okay. Orang tidak memalsukan depresi, melainkan berpura-pura bahwa mereka baik-baik saja. Karena itu, jangan segan untuk bersikap baik kepada orang lain. Sesekali lihatlah keadaan orang-orang terdekat kita. Beri mereka perhatian, karena kita tidak pernah tahu seberapa berat masalah yang sedang mereka hadapi.

Berkaca dari kasus-kasus di atas, saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya manusia lebih takut pada kehidupan daripada kematian. Manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar. Karena itu, mulailah untuk peduli pada orang-orang di sekitar kita yang sedang menghadapi persoalan. Setidaknya, jika tidak bisa banyak membantu, kita bisa menjadi pendengar yang baik. 

Bagi kamu yang sedang mengalami permasalahan yang terasa berat, jangan sungkan untuk berbagi cerita. Kamu juga bisa memilih untuk pergi ke psikolog. Jangan hanya diam, karena jika kamu memilih diam, maka masalah itu akan tetap ada. 

Siapa pun yang membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa kamu sangat berharga. Kamu sangat berarti. Kamu hebat sudah melalui hari-hari buruk kemarin. Terima kasih sudah menjadi support system bagi orang-orang lain. Terima kasih untuk terus bertahan hidup meski rasanya sulit sekali. [red/jie]

Helma Winda, asal Riau, Mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.