Menjalin hubungan pertemanan yang berkualitas dalam pergaulan sehari-hari kedengarannya hal yang sepele. Hubungan pertemanan dapat terjalin dengan baik asalkan menjaganya dari perkara yang buruk. Misal, tidak bersikap sombong, apalagi sampai meremehkan orang lain. Karena, tentu saja setiap orang menginginkan pengakuan dan diakui keberadaannya.
Pengakuan dari orang lain, membuat diri kita merasa lebih bernilai. Menumbuhkan perasaan berharga di mata orang lain dan lingkungan. Sehingga kita, atau orang lain mulai menempuh banyak cara demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial tempat kita tinggal.
Maraknya media sosial pada hari ini, kita selaku pengguna media sosial berusaha untuk mendapatkan respon “like” sebagai pengakuan dari sesama pengguna media sosial lainnya. Sudah merupakan suatu hal yang lazim saat ini apabila kita ingin menjadi pusat perhatian di media sosial.
Apa Itu Mencari Pengakuan?
Mencari pengakuan dari orang lain kita sebut dengan “validasi”. Sebagai orang yang mandiri, barangkali kita tidak selalu memerlukan validasi dari orang lain. Kenyataannya kita tetap membutuhkan validasi sebagai umpan balik atau feedback. Kebutuhan atas bentuk validasi ini, cukup kita dapatkan dari diri sendiri tanpa harus bergantung pada validasi orang lain.
Menurut Sherry Gaba, LSCW., seorang psikoterapis yang berlisensi dalam menangani depresi, trauma, dan kecemasan, validasi adalah bagian dari saling ketergantungan, dalam mengandalkan umpan balik sebagai dorongan dari orang lain.
Tentu saja setiap manusia membutuhkan validasi, tetapi bukan berarti terus-menerus mencari dari orang lain. Haus akan sebuah validasi dari orang lain, ingin terus menerus menjadi pusat perhatian dapat membuat hubungan pertemanan menjadi tidak sehat. Pergaulan sosial menjadi rentan dan hubungan dalam pertemanan seringkali menjadi renggang. Sehingga, hal ini mempengaruhi kesehatan mental lingkungan pertemanannya.
Krisis Pengakuan pada 3 jenis gangguan kepribadian
Dalam dunia kesehatan mental, krisis pengakuan biasa terjadi pada 3 gangguan kepribadian. Pertama adalah kelainan perilaku histrionik. Melansir dari hellosehat.com, gangguan kepribadian histrionik adalah gangguan kepribadian yang menyebabkan kesulitan dalam memahami citra diri. Orang dengan gangguan histrionik selalu membutuhkan pengakuan, dan pujian dari orang lain. Pengakuan dan pujian adalah sebuah tolok ukur mereka sebagai validasi diri. Selain itu, bagi histrionik menjadi pusat perhatian dalam sebuah pergaulan adalah suatu keharusan.
Yang kedua adalah Megalomania. Gangguan kepribadian ini memiliki kemiripan dengan gangguan narsistik. Megalomania atau disebut megalomaniak adalah gangguan mental yang membuat seseorang memusatkan perhatian hanya pada dirinya saja. Hal ini membuat mereka merasa lebih hebat daripada orang lain. Megalomania bukan sekedar orang yang hanya keras kepala saja. Mereka adalah orang yang haus akan kekuasaan, pujian, pengakuan, dan harus selalu menjadi pusat perhatian.
Narcissistic personality disorder (NPD), adalah orang yang terkesan sangat percaya diri, baik dari segi penampilan, keahlian, atau pengetahuan. Selalu menyombongkan dirinya yang paling hebat, sehingga penderita gangguan ini adalah orang yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Melansir dari Psychology Today, penderita narsistik tidak memiliki empati terhadap orang lain. Mereka juga harus selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari lingkungan sosialnya.
Seorang narsistik hidup di dalam dunia fantasi yang mereka ciptakan sendiri. Menciptakan dunia khayalan, untuk menutupi rasa hampa pada diri mereka sendiri. Seorang narsistik membutuhkan pengakuan dan pujian secara terus-menerus. Mereka juga tidak segan-segan untuk mengintimidasi, dan mengontrol orang lain. Dengan tujuan agar orang lain selalu memenuhi setiap keinginan mereka.
Dampaknya dalam Pergaulan dan Hubungan Pertemanan
Krisis pengakuan erat kaitannya dengan kesehatan mental, dan dampaknya dalam pergaulan sehari-hari tidak dapat kita remehkan. Selalu membutuhkan validasi, atau pengakuan dari lingkungan sosial, tentu berdampak buruk bagi hubungan pertemanan. Membuat pertemanan jadi tidak menyenangkan, dan orang yang selalu mencari pengakuan cenderung sulit menjadi teman pada umumnya. Sifat dan karakter mereka yang dominan, membuat pertemanan berjalan tidak harmonis.
Pencari pengakuan tidak dapat menerima kritikan dari orang lain, selalu merasa benar sendiri, dan merasa tindakan mereka rasional. Krisis pengakuan membuat mereka sangat sensitif, terutama dalam menerima kritikan. Karakternya yang senang menghakimi orang lain membuat pertemanan jadi tidak nyaman. Selalu merasa benar sehingga tidak sungkan menyalahkan pendapat, dan tindakan orang lain.
Mereka dengan gangguan kepribadian ini, menemukan kesalahan orang lain merupakan kepuasan tersendiri. Menjadi suatu kebanggaan setelah mengetahui kelemahan dan ketidaksempurnaan yang terdapat pada orang lain. Gangguan kepribadian yang membuat penderitanya memiliki rasa percaya diri berlebihan. Mereka bahkan merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Perilaku obsesif dan haus akan pengakuan membuat mereka sangat mudah kecewa. Perasaan kecewa ini tentu saja membuat mereka mudah stress dan depresi.
Ciri lainnya adalah sikap sombong, tidak tahu terima kasih, dan suka membesar-besarkan masalah. Gangguan kepribadian yang disebabkan atas sikap narsistik, histrionik dan megalomania, membuat penderitanya sangat sulit menjadi teman atau bahkan pasangan. Orang-orang dengan gangguan perilaku ini, sangat peka atas penolakan orang-orang, sehingga ketidaksesuaian ini memicu mereka berperilaku agresif.
Berteman dengan orang yang memiliki perilaku agresif, tentu berdampak pada emosi, dan kesehatan mental diri sendiri. Mereka tidak ragu-ragu mengancam lawan bicaranya, bahkan melakukan tindak kekerasan fisik maupun psikologis. Rendahnya rasa empati, membuat mereka sulit merasa bersalah jika menyakiti orang lain. Gangguan kepribadian yang membuat penderita menjadi mudah frustasi, depresi, bahkan yang lebih parah melakukan tindakan bunuh diri.
Meskipun kita sebagai sesama manusia, seringkali berusaha untuk menolong mereka, pada akhirnya justru menjadi korbannya. Efeknya mulai dari gangguan kecemasan sosial, serangan panik, depresi, dan merasa rendah diri. Menurut penelitian terbaru, ahli saraf telah menemukan kerusakan otak berupa penyusutan hipokampus, dan bengkak pada amigdala. Ini terjadi bila berhubungan secara jangka panjang dengan seseorang dengan gangguan narsistik
Sayangnya mereka tidak menyadari gangguan perilaku yang mereka derita, sehingga menyulitkan orang-orang sekitar dalam memberikan dukungan. Walaupun sebagai manusia kita dapat membantu mereka, namun lebih baik memilih menghindar saja. Memutuskan hubungan pertemanan yang toxic bukan berarti tidak memiliki kepedulian. Memilih mendoakan yang terbaik, dan tidak berhubungan lagi agar kesehatan mental kita tetap terjaga.
Arum Weni. Tukang kue yang ingin terus menulis.
[red/rien]