Membayangkan Nikmatnya Nasi Padang Babi: Double Kill!

Esai

“Kata yang tepat untuk cara bersikap adalah tahu diri. Dalam artian, bisa menempatkan diri, peka terhadap psikologi sosial masyarakat sekitar, baik dalam skala kecil, maupun yang lebih luas.”

Berita tentang menu nasi padang babi berhasil memicu riuh rendah suara netizen di linimasa media sosial. Melansir detikcom, Andre Rosiade, Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang, mendengar tentang keresahan masyarakat Minang yang disebabkan restoran bernama Babiambo. Restoran itu mengolah daging babi menjadi masakan berupa rendang. Keresahan tersebut berlanjut, bahkan sampai membuat legislator bersuara.

Anggota DPR fraksi PAN, dari Dapil Sumbar 2, Guspardi Gaus. Dia bertanya tentang maksud dan motif pemilik restoran yang menyediakan makanan nonhalal dengan menggunakan nama menu khas Minangkabau.

Alhasil, sang pemilik resto pun dipanggil untuk memberi keterangan di Polsek Kelapa Gading, Jakarta Utara. Padahal pemilik resto mengaku bahwa usaha yang dirintis mulai awal tahun 2020 dan hanya dijual secara online itu cuma bertahan selama tiga bulan.

***

Dalam dunia kuliner, kita perlu mengingat kembali, bahwa rendang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia versi CNN Travel pada tahun 2017. Nggak main-main lho prestasi menu satu ini. Bahkan Gordon Ramsay pun sampai datang ke Padang, belajar cara membuat rendang, dari seorang William Wongso.

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa rendang adalah wujud nyata pertemuan beragam rasa yang dapat dinikmati lidah manusia di bumi. Ia menjadi titik temu bagi preferensi beragam orang dengan latar belakang yang berbeda. Saat saya berkumpul dengan teman berlatar Batak, Jawa, dan Tionghoa, daripada bingung mencari tempat makan, saya akan mengajak mereka ke rumah makan padang. Dan semuanya dapat menikmati sajian daging rendang khas Minang, dengan lahap.

Itu tentang rendang.

Nah, sekarang kita beralih ke babi. Anda mungkin pernah mendengar orang yang berpendapat bahwa daging babi adalah daging ternikmat di dunia ini. Sebagai penikmat babi, saya harus katakan bahwa itu benar adanya. Sekujur tubuh babi dapat dinikmati dengan sensasi rasa dan tekstur yang berbeda-beda. 

Lihat saja babi guling utuh yang menjadi makanan khas di Bali. Mulai dari kepala sampai ekor, daging bagian luar sampai jeroan, semua dapat dilahap dan rasanya tak pernah mengecewakan.

Menu olahan daging babi pun sangat variatif. Mulai dari sop, babi kecap, babi guling, babi panggang, dll. Maka, saya dapat memahami bila ada orang yang ingin berinovasi dengan membuat rendang babi. 

Kalau tadi dikatakan bahwa rendang adalah makanan terenak, dan selanjutnya, babi adalah daging ternikmat, rasa macam apa yang akan dihasilkan bila rendang dan babi dipadukan? Double kill, tentu saja! 

Nikmat yang tiada tara. Nikmat yang bikin penasaran, nikmat yang pada akhirnya bikin nama resto Babiambo di Kelapa Gading Jakarta Utara menjadi viral.

Menjadi viral, karena babi diharamkan oleh mayoritas penduduk negeri ini. Lebih lagi bila dipadukan dengan rendang, yang merupakan masakan khas dari Minang, yang mayoritas beragama Islam. Selesai itu barang!

Sebagian dari Anda mungkin menganggap reaksi itu berlebihan dan tidak menjunjung keberagaman. Namun, menurut saya, reaksi tersebut dapat menjadi barometer bagi kita dalam melihat hal-hal ini: alam demokrasi dan model toleransi macam apa yang ada di negeri ini? Batasan apa saja yang sebaiknya tidak dilanggar saat melakukan sesuatu?

Sangat jauh bila kita ingin menyamakan alam demokrasi dan toleransi kita dengan Amerika Serikat, misalnya. Sangat berbeda pula kultur kita dengan negara tetangga Singapura. Lalu bagaimana kita harus bersikap?

Saya rasa, kata yang tepat untuk cara bersikap tersebut adalah: tahu diri. Dalam artian, bisa menempatkan diri, peka terhadap psikologi sosial masyarakat sekitar, baik dalam skala kecil, maupun yang lebih luas.

Ambil contoh, kemarin saat bertugas di Manado, Sulawesi Utara, saya mengambil gambar babi putar, lauk yang dihidangkan oleh panitia. Gambar tersebut sempat ingin saya unggah di media sosial, namun pada akhirnya niat tersebut saya urungkan. 

Tentu teman-teman akan memaklumi kalau saya mengunggah gambar tersebut. Namun, ada beberapa pertanyaan di hati saya saat akan melakukannya: “Apakah semua teman dapat menerima gambar ini dengan baik?”; “Apakah ada yang akan terusik dan pada akhirnya mempengaruhi hubungan pertemanan kami?”

Ya. Untuk saat ini, mungkin pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang dapat menyelamatkan relasi satu sama lain, sesuai alam demokrasi dan model toleransi di Indonesia. Dan sebagai manusia, tentu nantinya kita harus terus beradaptasi dengan perubahan-perubahan kultur yang masih mungkin akan terjadi.

Saya berharap, penerimaan terhadap keberagaman di negeri ini akan semakin terbuka lebar, dan tidak justru makin menyempit.

Ah, babi memang dahsyat! Meski sudah tak bernyawa dan diolah menjadi masakan, tetap bisa bikin orang meradang. Jadi penasaran, rasa rendang babi itu seenak apa. Hehehe. 

Yesaya Sihombing, penggemar rendang penikmat babi.

[red/af-sk-rien]