Biar generasi berikutnya tahu, pernah terjadi peristiwa paling memilukan di dalam pengelolaan kompetisi sepakbola.
Bicara tentang fanatisme ingatan saya kembali ke masa dulu, sekitar 25 tahun yang lalu. Saat itu, saya pernah “kecewa” perihal sepakbola. Sebagai anak “ingusan” yang masih sekolah rendahan, saya tidak boleh ikut menonton. Kalau tidak salah, pada saat itu, PSPL–nama klub bola kampung saya–akan mengikuti turnamen di kecamatan tetangga.
Saat itu, yang masih saya ingat, pemuda dan pemudi ramai-ramai di depan Meunasah. Meunasah adalah tempat sembahyang yang ukurannya lebih kecil dari Mesjid. Ada yang tertawa, ada yang sibuk mondar-mandir, ada yang mengecek pemain, ada yang duduk. Yang jelas, tidak ada yang main handphone. Pada saat itu, jangankan handphone, televisi saja masih hitam-putih, belum ada yang berwarna apalagi yang layarnya flat. Itulah masa-masa yang saya kira cukup ampuh untuk mempersatukan pemuda-pemudi di kampung saya.
Pada saat itu, meunasah bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat kegiatan masyarakat dan pemuda. Jarang sekali ada anak muda yang tidur di rumah. Ramai-ramai tidur di meunasah, disertai dengan “kenakalan” khas anak muda. Paling jauh juga “mencuri” tebu untuk sekali kenyang. Meunasah juga menjadi tempat rapat, tempat latihan Ratoh (salah satu jenis seni di Aceh), Dike, dan berbagai kegiatan lainnya.
Saya membayangkan, betapa asyiknya kehidupan pada saat itu. Hubungan sosial masih sangat erat. Keeratan itulah yang menghasilkan berbagai prestasi di bidang olah raga dan seni. Pada masa itu, PSPL dikenal seantero negri, minimal dalam lingkup kabupaten. Selain bola sepak, kerja sama anak muda pada saat itu juga menghasilkan kekompakan dan kekuatan di olahraga lain yaitu volly.
Pada saat itu, Dike, Ratoh Dong dan Ratoh Duk, Silek, yang dimainkan oleh anak-anak muda desa juga menghidupkan geliat seni. Itu cerita dulu. Sebelum konflik bersenjata yang dilanjutkan dengan “konflik” teknologi informasi menyerang bumi.
Di antara yang sibuk itu, salah satunya adalah Cek Pudin yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah saya. Namanya Syafruddin, entah kenapa, semua orang di kampung, baik usia muda maupun usia tua memanggilnya Cek. Cek itu, secara istilah merupakan panggilan untuk adik ayah atau adik ibu, kurang lebih seperti paman. Pudin itu adalah namanya, disingkat dari Syafruddin. Jadilah ayah saya terkenal dengan Cek Pudin.
Hari itu, saya menangis, meminta ikut menonton PSPL bertanding. Ayah merupakan pengurus pemuda dan olahraga di desa, lebih separuh dari usianya dihabiskan untuk mengurus desa. Mulai Ketua Olahraga, Ketua Pemuda, hingga menjadi Ketua Tuha Peut (Badan Permusyawaratan Desa). Mengurus desa pada saat itu sepenuhnya amal jariyah, tidak ada gaji. Ayah adalah seorang guru, dan hobi mengurus hal-hal kemasyarakatan, juga melek politik. Mungkin hal itu juga yang mengalir kepada saya, di kemudian hari.
Saya tidak dikasih ikut. Saya memaksa ala anak kecil. Jurus saya menangis. Tangisan saya tidak ada gunanya. Mobil angkutan bak terbuka yang seyogyanya mengangkut barang itu hilang dari hadapan saya, dengan lambaian tangan para pemain, official dan supporter yang seolah-olah mengejek saya yang tidak diijinkan ikut.
Sepakbola yang Mempersatukan
Begitulah, bagaimana sepakbola telah menjadi “perangsang” yang mempersatukan. Pemicu fanatisme, termasuk untuk anak kecil seperti saya saat itu. Tidak mudah untuk mencari tujuan bersama yang dapat menyatukan banyak manusia itu, dan sepakbola adalah salah satunya.
Setiap manusia memiliki sisi rasional sekaligus irasional. Pada hal-hal tertentu, manusia bisa bersikap rasional, namun untuk beberapa hal justru irasional. Sebagai contoh, manusia menggunakan akal-pikirannya untuk mengkonsumsi sesuatu yang murah dan memiliki kualitas baik. Namun, pertimbangan-pertimbangan itu tidak berlaku untuk hal-hal tertentu. Manusia cenderung tidak mau memperdebatkannya.
Dari sejarah kita bisa melihat, manusia berperang demi agama. Demi membela tanah air, rakyat Indonesia yang bersenjata bambu runcing melawan penjajah yang bersenjata modern. Demi mengembalikan kedaulatannya, rakyat Aceh berperang melawan serdadu Republik. Demi sepakbola, para supporter rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket, merchandise, menghabiskan waktu, dan mengorbankan sesuatu untuk klub kesayangannya. Mengapa itu semua bisa terjadi? Itulah dampak dari fanatisme, yang mampu membangkitkan jiwa yang terpendam menjelma menjadi semangat yang membara.
Mungkin, dalam taraf yang berbeda, masih banyak hal-lain yang membuat manusia cenderung menerima sebagai kebenaran mutlak, terutama yang menyangkut dengan Ketuhanan. Di sinilah pangkalnya. Dalam khasanah ilmu pengetahuan, tidak ada yang absolut. Sebuah kebenaran, akan melahirkan kebenaran lainnya. Sebagaimana Plato dengan pendekatan utopis dan abstraknya. Sementara muridnya, Ariestoteles lebih cendrung empiris, praktis dan logis. Tradisi saling “kritik” ini lumrah dalam ilmu pengetahuan, terutama di kalangan filsuf.
Berbeda dengan “wilayah” yang irasional tadi. Jangan sekali-kali Anda mengkritik klub bola, saya pastikan supporternya akan marah. Dari pada Anda kritik, lebih baik ajak ngopi atau makan Mie Aceh, misalnya.
Sepakbola sebagai Lahan Bisnis
Mereka tidak peduli bahwa timnya itu sudah menjadi sebuah lahan bisnis, sudah menjadi Perseroan Terbatas. Bagi suporter, tim kesayangannya adalah yang terbaik, tidak ada tawar-menawar.
Rasa “cinta” itulah yang membuat panas terik matahari tidak terasa, antri yang mengular jadi biasa. Agaknya, fanatisme adalah soal rasa. Apakah Fanatisme ini berbahaya?
Justru, sebab fanatisme inilah sepakbola menjadi industri yang sangat menguntungkan bagi sebagian orang. Lihatlah klub sepakbola Indonesia yang berada pada rating tinggi, pasti memiliki basis supporter yang fanatik. Sebut saja secara acak: Persija, Persib, Persebaya, PSM, Arema, dan seterusnya.
Lihat juga jersey mereka, penuh dengan logo sponsor, bandingkan dengan klub yang tidak memiliki basis suporter fanatik, nyaris tanpa sponsor. Begitulah logika bisnis bekerja.
Fanatisme: Modal Besar Memajukan Sepakbola
Seharusnya, fanatisme suporter ini menjadi modal besar dalam memajukan sepakbola Indonesia. Federasi dan operator liga jangan hanya berfikir laba.
Perihal tragedi Kanjuruhan beberapa waktu yang lalu, menjadi tamparan keras untuk federasi, operator liga, panitia pelaksana, dan pihak keamanan. Mereka tidak punya strategi. Hanya bisa berfantasi.
Kalau boleh saran, untuk para suporter, mari kita mulai kebiasaan baru. Ketika kecewa dengan manajemen klub, tidak usah datang ke stadion, tidak usah beli merchandise. Unjuk rasa model begitu rasa-rasanya memang kurang biasa, tidak salah juga untuk kita coba.
Suporter sepakbola sebaiknya mendirikan tugu pejuang reformasi sepakbola Indonesia. Mungkin bisa diinisiasi oleh Aremania, mengajak partisipasi suporter yang lain. Tugu itu untuk mengenang. Biar generasi berikutnya tahu, pernah terjadi peristiwa paling memilukan di dalam pengelolaan kompetisi sepakbola. Tugu itu juga untuk menghormati korban kebrutalan dan kebodohan pengelola sepakbola. Dari tugu itulah kita berharap perbaikan terhadap kualitas persepakbolaan di Indonesia.
Pemerintah, klub, pengelola liga, federasi, harus bertanggungjawab. Mengakui kesalahan, dan meminta maaf. Memberikan kompensasi untuk keluarga korban. Mungkin, masing-masing pihak harus melakukan secara simultan sesuai peran.
Peristiwa tragedi Kanjuruhan, kembali membuka memori saya. Itulah alasan, kenapa ayah tidak membolehkan saya ikut. Namun, rasa-rasanya, pengelolaan kompetisi antarklub kampung saya lebih “profesional” daripada pengelolaan Liga 1. Setidaknya jika diukur dari ada tidaknya korban jiwa. Kompetisi klub kampung saya berlangsung aman tanpa ada “tragedi kemanusiaan yang memilukan” seperti halnya yang terjadi di Kanjuruhan.
Alja Yusnadi, Ghibaher, Suporter PSPL.
[red/rien]