Menjadi Tenar Itu Mudah dan Itu Tidak Bhercyandaaa

“Berkat media sosial juga, untuk menjadi terkenal atau dikenal, manusia tidak lagi perlu pamer prestasi secara nyata.”

Mulanya hanyalah sebuah video wawancara. Lalu bergerak ke aneka media sosial. Lalu lama kelamaan ia hinggap di televisi. Sebelumnya, ia juga sempat bekerja sama dengan jenama kenamaan tanah air. Kini, aneka versi rekaman suaranya menghiasi aneka reels, video, atau Instagram story.

Itu semua tidak ia dapatkan lewat adu prestasi, kepintaran, atau mempertunjukkan skill kelas dewa. Ia cukup bercanda ria dalam sebuah wawancara lalu mengucapkan kata “bercanda” dengan aksen lucu dan menggemaskan. Betapa lucu dan menggemaskan hingga pegiat bahasa Indonesia pasti bingung kenapa harus ada huruf “c”, “y”, dan “h” dalam kata “bercanda”.

Jika dengan begitu saja seseorang bisa terkenal, maka orang lain dengan prestasi lebih besar 

pasti juga bisa lebih terkenal. Mana mungkin orang berprestasi dengan ide brilian kalah tenar dengan orang yang sekadar mengucapkan kata plesetan? Ah, itu mungkin cuma pikiran negarif saja. Sayangnya, itu tidak berchyandaaaa.

***

Hampir 2 dekade belakangan, terutama sejak kemunculan aneka media sosial, peradaban manusia kian ramai dengan polah tingkah beberapa oknum manusia. Berkat media sosial juga, untuk menjadi terkenal atau dikenal, manusia tidak lagi perlu pamer prestasi secara nyata. Mereka tinggal mencari celah untuk dibicarakan seluas mungkin, oleh sebanyak mungkin orang.

Dahulu, seorang Isaac Newton perlu merenung dan bereksperimen panjang hingga penemuannya menjadikannya termasyhur. Dahulu, seorang Titiek Puspa harus berkelana dari panggung ke panggung untuk menjadi terkenal. Atau yang paling kiwari, seorang Nopek Novian harus belajar stand-up comedy selama bertahun-tahun sebelum menjadi seterkenal sekarang.

Lalu, media sosial beserta aneka sistem algoritma di dalamnya datang dan mendegradasi pandangan manusia akan kepopuleran. Tenar bukan lagi melulu soal pencapaian atau prestasi. Jauh lebih sederhana, parameter tenar berpindah pada likes, comment, dan engagement suatu unggahan media sosial. Hadirnya media sosial juga menawarkan satu kata tandingan untuk kata tenar, terkenal, dan populer. Ya, viral, suatu kata yang sering menjadi kiblat banyak orang hari ini.

Banyak orang bilang itu semua terjadi karena demam narsisme akut. Sayangnya, pandangan itu tidak selamanya mutlak benar. Ketenaran di media sosial kadang berbanding lurus dengan peningkatan popularitas. Sementara, popularitas bisa mendekatkan seseorang pada sumber penghasilan baru. Entah lewat tawaran menjadi brand ambassador, endorser, atau–kalau beruntung–diundang stasiun TV. Agaknya, urusan penghasilan ini yang kadang ikut diincar sebagian kalangan.

Orang-orang dengan keinginan seperti itu tidak sedang bercanda ataupun berbual semata. Puluhan orang telah membuktikan bagaimana media sosial bisa mengorbitkan mereka. Ade Londok, Denise Chariesta, Bowo Alpenliebe, dan Bonge Citayam Fashion Week sudah membuktikannya. Lihatlah, apa prestasi yang mereka miliki hingga menjadi sedemikian tenar?

Sayangnya, degradasi makna dari popularitas juga mempengaruhi kualitas dari tahapan-tahapan di dalamnya. Sebagaimana adagium mengatakan bahwa media sosial membuat orang-orang bisa memiliki medianya sendiri, urusan kurasi menjadi sedemikian kacau. Meminjam istilah Mas Iqbal Aji Daryono, ini adalah era matinya kepakaran. Bahwa, semua orang bisa menjadi apa saja di media sosialnya, termasuk jika ingin menjadi pakar dan ini tidak berchyandaaa.

Apalagi, algoritma media sosial beserta kultur para penggunanya tidak terlalu mementingkan kualitas. Semua orang punya kesempatan meraih engagement. Terserah mau dengan menjual gagasan, hoaks, menjadi buzzer, atau sekadar bertingkah lucu dan menggemaskan. Beberapa bahkan tidak malu-malu memasang citra diri sebagai sosok polos dan bodoh demi menjadi tenar.

Para bijaksana mungkin akan bilang bahwa pengguna media sosial yang cerdas harus bisa memilih. Kadang, kata-kata itu terasa kosong belaka. Mereka mungkin lupa, aneka konten sampah sudah menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang. Di kereta, di waktu luang, di ruang kelas, di sela rapat kantor, konten-konten viral ditonton dan diperbincangkan. Jikalau dijumlahkan, waktu untuk menonton konten semacam itu jauh lebih banyak dibanding waktu seorang murid mendengarkan gurunya.

Alam bawah sadar manusia secara tidak langsung terbentuk. Untuk apa menjadi pintar seperti guru atau dosen? Toh, hidup mereka begitu-begitu saja. Sementara di layar gawai, mereka melihat orang-orang yang berlaku aneh, konyol, tidak masuk akal, pamer kenakalan, dan bercanda kurang pantas, justru terlihat keren, hidup dalam kemewahan, dan bergelimang harta.

Akhirnya, tidak heran jika hari ini banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa, bermimpi menjadi youtuber. Sebagaimana dahulu televisi menjadi parameter kesuksesan dan kepopuleran, hari ini Youtube juga berada di tempat yang sama. Muncul di kanal Youtube dengan jutaan pelanggan sepertinya lebih menarik bagi para anak-anak sekolah dibandingkan menjadi juara kelas.

Memang, ada kalanya hal viral di media sosial tidak melulu tentang konten menyebalkan. Misalnya, konten tentang kisah sukses seorang anak orang sederhana yang bisa lulus kuliah atau aneka kisah mengharukan atau menginspirasi lainnya. Sayangnya, konten-konten semacam itu tetap tidak bisa bertahan lama. Salah satu sebabnya, sulitnya celah untuk melakukan reproduksi konten.

Coba bandingkan dengan kata “berchyanda” tadi. Kata yang diucapkan dengan nada khas tersebut tiba-tiba menjadi latar belakang suara untuk aneka konten. Wajah si pemilik suara bahkan sudah menghiasi aneka konten.

Selain itu, sulit pula bagi orang-orang untuk mengikuti jejak viralnya kisah inspiratif atau mengharukan. Tentu sulit untuk harus mengaku miskin atau yatim. Jalan lebih sederhana adalah dengan berlomba-lomba menguasai algoritma. Entah lewat unggahan foto, video dengan musik hits, atau dengan menjual keindahan fisik.

Akhirnya, sisi lain media sosial adalah menguatnya perlombaan semacam itu. Kreativitas menciptakan konten tidak selamanya berarti positif. Kadang, makna kreativitas berubah menjadi sangat sempit, sekadar bagaimana caranya agar viral dan terkenal.

***

Ada kalanya dunia ini memang tidak adil dan itu tidak berchandyaaa. Seorang guru yang sudah mencerdaskan ratusan anak atau seorang pekerja sosial belum tentu bisa meraih ketenaran setara dengan seseorang yang mengatakan sepatah kata lalu tenar. Dunia tentu tidak sedang bercanda kala menunjukkan itu.

Hari ini, keinginan menjadi tenar dan viral sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia-manusia modern. Entah dengan cara apa, entah setelah viral akan jadi apa, itu semua tidak penting. Yang penting, bisa merasakan panggung dan sorotan lampu peradaban bernama viral.

Hari ini, menjadi tenar sejatinya hal mudah. Namun, karena kemudahan itu pula manusia-manusia menjadi sedemikian gila. Ora edan ora keduman, begitu kata seorang pujangga Jawa, dan mungkin itu sangat benar adanya.

Syaeful Cahyadi, penulis dan pekerja sosial, tinggal di Yogyakarta.

Editor: Ulinnuha, Bhagaskoro Pradipto