Menulis Itu (Tidak) Mudah: Sebuah Refleksi

“Menulis seperti aktivitas lainnya yang memerlukan kedisiplinan.”

Bagi sebagian orang; jika seseorang memiliki kemampuan menulis, ia dapat dikatakan mempunyai sebuah anugerah. Bahkan, ada yang menganggapnya, ia mendapatkan keajaiban yang turun begitu saja dari langit—semacam wahyu. Tapi, apakah itu benar adanya? Patutkah kita mempercayai dan menelannya mentah begitu saja? Jelas tidak!

Anggapan di atas sungguh keliru, bahkan menyesatkan! Tidak ada orang yang tiba-tiba jago menulis dalam ”satu malam”. Jangankan satu malam. Mereka yang sudah berlatih bertahun-tahun saja, kadang masih merasa kesulitan untuk menuliskan sesuatu hal. Mereka juga sering terjebak dalam keadaan apa yang disebut dengan writer’s-block.

Seorang teman—ia adalah penulis—pernah bercerita kepadaku bahwa ia pernah berjam-jam hanya memandangi layar putih! Ia butuh berjam-jam hanya untuk membuat kalimat pembuka. Tidak menyerah, akhirnya ia membuka Chat GPT, alhasil sama saja.

Ia menghapus semua kalimat pemantik yang diberikan Chat GPT. Ia tak dapat memparafrase dan mengembangkannya. Layar putih di GDocs kembali hadir. Ia mencoba lagi, mencoba memberikan perintah yang sekiranya bisa memantik idenya yang sedang buntu. Namun, sayangnya gagal. Layar putih di GDocs kembali mengejeknya.

Ia bertutur, kalau sedang sial memang susah sekali, Chat GPT yang biasanya paham perintah kita, tiba-tiba jadi tidak mudeng-mudeng maksud kita (dibaca: Chat GPT tidak menangkap prompt kita untuk menghasilkan respons yang kita inginkan).

Nah, saat terjadi kondisi seperti inilah, penulis dipaksa untuk bekerja lebih keras. Penulis harus bisa lebih kreatif ketika artificial intelligence (AI) tidak bisa memberikan suatu tawaran. Gampangnya, penulis memang harus punya kemampuan dasar menulis, serta mampu mengaplikasikan ke dalam tulisan. Ini yang sulit!

Menulis seperti aktivitas lainnya yang memerlukan kedisiplinan. Seperti pisau yang perlu diasah berkali-kali agar selalu/lebih tajam. Bagaimana kalau seorang penulis tidak disiplin? Ia bisa kehilangan feel dan touch-nya. Dan, untuk membangun sebuah feel dan touch lumayan menguras waktu. Maka, kedisiplinan itu sangat perlu bagi penulis.

Apakah kalian pernah membaca buku Atomic Habits karya James Clear? Buku itu menjelaskan bahwa atomic habit sendiri adalah kebiasaan baik kecil yang dilakukan secara rutin ternyata dapat menimbulkan impact yang besar bagi kehidupan kita. Singkatnya, kebiasaan baik yang kecil jika dilakukan rutin itu lebih baik daripada melakukan kebiasaan besar yang kemudian lenyap begitu saja. Sikap ini dapat membantu kita untuk mencapai tujuan jangka panjang.

Maka, jika kalian bercita-cita ingin menjadi penulis, tapi kalian tidak mau disiplin, saran dariku mending kalian ”balik kanan bubar jalan” saja. Karena sifat disiplin adalah ibu dari sikap konsisten. Setelah tadi, aku menceritakan kisah temanku, giliran aku sedikit menceritakan pengalamanku sendiri,

Aku bukan penulis besar. Aku hanya penulis kelas “ecek-ecek”. Namun, aku berani menjamin diriku adalah seorang penulis yang lumayan produktif. Dalam setahun di tahun 2024, aku bisa menghasilkan 11 opini di website Omong-omong, 13 tulisan di The Columnist, serta tiga puluh 33 di Kumparan di tahun 2023.

Ini belum dihitung di media lainnya, serta belum dihitung dari tulisan dari karya sastra-ku.

Nah, dari dua tahun belakangan—lebih spesifiknya satu tahun belakangan, karena kurasi di Kumparan tidak seketat di Omong-omong dan The Columnist, yang berarti untuk bisa terbit di dua media tersebut tulisanku harus lumayan bagus—aku ingin merefleksikan kehidupanku sebagai penulis.

Kalau dihitung-hitung kasar, 11+13=24, berarti aku menulis 24 tulisan dalam setahun. Dalam setahun, ada 12 bulan. Jadi, setiap sebulan aku menerbitkan 2 tulisan. Bisa juga dikatakan dalam dua minggu aku menerbitkan 1 tulisan.

Dalam dua minggu itu, aku harus menunggu kurang-lebih seminggu untuk kurasi tulisan. Kalau begitu, dalam seminggu berarti aku menghasilkan 1 tulisan. Pertanyaan, bagaimana dalam seminggu aku harus menghasilkan 1 tulisan—padahal aku lebih sibuk bengong dan sedikit sibuk kuliah?

Jawabnya, ya, karena aku konsisten. Untuk menghasilkan 1 tulisan, aku tidak ujuk-ujuk (kesurupan) dalam sehari bisa menghasilkan 1 tulisan, lalu esok harinya aku tinggal mengerjakan tugas kuliah atau tinggal bengong sepuasnya saja. Di setiap harinya, aku mencicil tulisanku.

Mencicil di setiap ada waktu luang. Misalnya, aku lagi menunggu teman di kantin kampus, sebisa mungkin, aku langsung mengeluarkan laptop untuk melanjutkan tulisanku. 

Aku selalu terngiang-giang oleh Bagja Hidayat, seorang wartawan Tempo, di blognya catataniseng.com, ia menyatakan bahwa menulis itu seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus. [red]

Muhammad Ridwan Tri Wibowo, aktif di Bengkel Sastra UNJ, Obrak-abrik Kolektif, dan Lingkar Sotoy Daksinapati.