Uyen dan Gateau Arouille: Kudapan Sederhana yang Rumit Ceritanya

“Dalam bahasa Inggris, talas disebut “taro”, kata pinjaman dari bahasa Maori, konon disumbangkan’ oleh Kapten James Cook.”

Anda pernah mendengar nama penganan gateau arouille? Dugaan keras saya, kemungkinannya kecil sekali jika kebanyakan dari Anda tahu kudapan ini. Gateau arouille, juga disebut gato arouille, dikenal sebagai jajanan yang amat populer di Mauritius.

Tentu kepopulerannya tak sampai ke telinga orang Nusantara pada umumnya, sebab nama Mauritius sendiri nyaris tak punya panggung dalam diskursus masyarakat Indonesia. Saya pun baru tahu makanan ini beberapa pekan lalu saat mendatangi warung makan bernama The Authentic Mauritius di pujasera Wanneroo Market, sebelah utara Perth.

Kudapan seperti apa itu? Jika saya sebut “uyen”, ada kemungkinan sebagian orang akan segera dapat membayangkannya. Uyen adalah camilan yang lazim dijumpai di Pontianak, Medan, dan Bangka. Berbahan utama talas yang diparut kasar, gorengan berbentuk bulat ini disajikan dengan sambal.

Nah, gato arouille yang saya kudap bersama istri nyaris sama dengan uyen yang kami kenal. Bahkan ia pun disajikan dengan sambal merah berasa asam pedas sebagai cocolannya.

Kok bisa, ya?

Penelusuran lebih jauh membawa saya pada kerabat uyen lainnya, kali ini di Amerika. Di Haiti, makanan serupa–meski tak sepenuhnya sama–disebut accra. Tidak ada jahe dalam bahannya dan saus cocolannya bukan sambal merah. Di Kuba, ada yang namanya frituras de malanga. Kedua kudapan ini menggunakan malanga, salah satu genus talas yang berbeda dari yang dipakai untuk uyen.

Korelasi uyen dan gato arouille dapat secara mudah dipahami. Keduanya menjadi makanan khas di dua lokal yang berbeda tersebut, tak lain dan tak bukan, dimungkinkan oleh peran orang Hakka.

Orang Hakka merupakan bagian dari migran yang tiba di Mauritius dalam beberapa gelombang sejak abad 18. Sumber lain menyebut penjelajah dari Cina sudah sampai di Mauritius beberapa abad sebelumnya.

Migran Hakka dari wilayah Cina ke Nusantara berlangsung dalam beberapa gelombang. Satu catatan menyebut bahwa angkatan pertama tiba di Bangka dan Belitung pada abad 18. Di gelombang belakangan, migran Hakka masuk ke bagian barat pulau Kalimantan. Diaspora mereka dapat ditemui dengan mudah di banyak wilayah seperti Pontianak, Singkawang, dan Sambas.

Baik di Mauritius dan di Nusantara, sebagian migran ini kemudian menetap dan beranak pinak, hidup dan menghidupi budaya bawaannya. Termasuk di dalamnya kudapan yang oleh komunitas Hakka disebut voo yan– ditulis uyen di Indonesia, dan disebut gato arouille di Mauritius.

Yang saya tidak tahu, atau belum tahu, adalah bagaimana dua negara kepulauan bertetangga, yakni Haiti dan Kuba punya kudapan yang serupa dengan voo yan. Apakah ada korelasi di antara mereka, dalam arti kudapan itu muncul di satu tempat dan dibawa atau diadopsi di tempat lain? Atau, justru sama sekali tidak punya korelasi historis – kebetulan saja keduanya muncul sebagai inovasi dua peradaban yang berbeda tapi punya kemiripan satu sama lain?

Untuk mengeksplorasi dua pertanyaan tersebut, patut dilihat juga bahan dasar kudapan itu sendiri: talas. Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal tanaman ini. Sebagian ilmuwan menyebut bahwa Papua, Asia Tenggara Daratan dan kawasan timur laut India kemungkinan besar adalah wilayah yang menjadi habitat asli talas. Namun, banyak penelitian mutakhir mendapati bahwa persebaran asli talas liar lebih luas daripada itu, termasuk Asia Tenggara Kepulauan.

Menariknya, temuan arkeologis menunjukkan bahwa tanaman ini sudah dieksploitasi oleh peradaban manusia sejak ribuan tahun lampau. Jejak arkeologis di Sarawak menyebutkan bahwa talas sudah digunakan pada 8.000 tahun sebelum masehi. 

Sementara, di Kepulauan Solomon justru lebih tua lagi, di atas 20.000 tahun lalu. Temuan-temuan arkeologis mengenai talas, sayangnya, masih sulit memastikan apakah pemanfaatan talas berasal dari aktivitas cocok tanam atau didapatkan dari tumbuhan liar semata.

Selain sebaran tanamannya, menarik juga melihat bagaimana sebaran istilah untuk menyebut talas. Dalam bahasa Inggris, talas disebut “taro”, kata pinjaman dari bahasa Maori, konon ‘disumbangkan’ oleh Kapten James Cook. “Taro” dan “talo” dalam berbagai variasi jamak ditemukan di bahasa-bahasa Polinesia, misalnya “taro” dalam bahasa Tahiti, “talo” dalam bahasa Samoa, dan “kalo” dalam bahasa Hawaii.

Berbagai penyebutan ini diduga merupakan turunan dari bahasa Proto-Oseanik (misalnya “dalo” di bahasa Fiji) dan Proto-Austronesian (misalnya “tales” di bahasa Jawa, “talas” di bahasa Melayu, dan “tali” di gugus bahasa Formosa). 

Lebih jauh lagi, istilah ini diduga bersumber dari bahasa-bahasa Austroasiatic alias Mon-Khmer. Beberapa contohnya adalah “sro” di bahasa Khmu di Laos, “shriew” di bahasa Khasi, dan “saru” di bahasa Odia di India.

Menariknya, istilah yang mirip-mirip ini digunakan di wilayah yang termasuk pada persebaran talas ke arah timur. Persebaran talas ke bagian utara Australia kemungkinan dibawa oleh para nelayan Nusantara. “Pacco” –sebutan talas dalam bahasa Makassar, dapat ditemui turunannya pada rumpun bahasa Yolngu di Eastern Arnhem Land, sebelah selatan laut Arafura. Dalam bahasa Mayali, talas disebut “an-patcu” dan dalam bahasa Mawng “patcung”.

Sementara itu, persebaran ke arah barat menjangkau Mesir, wilayah Mediterania, dan kawasan Afrika Timur dan Afrika Barat untuk selanjutnya melewati Samudra Atlantik, menjangkau benua Amerika dan wilayah Karibia, yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang sekarang menjadi negara Kuba dan Haiti.

Apakah persebaran tersebut membawa serta pengaruh Hakka hingga memunculkan accra dan frituras de malanga? Tentu ini bukan pertanyaan yang mudah dicari jawabannya.

Sugiyanto Widomulyono, PhD Candidate di Edith Cowan University. Tinggal di Perth, Australia.

[red/bp]