“Aku seperti memakai topeng yang lengket di muka. Kalau aku cabut, mungkin wajah asliku ikut terkelupas.”
Di ruangan ber-AC ini, dingin terasa sampai ke tulang. Bukan dingin yang menyegarkan seperti angin malam di pangkalan ojek dulu, tapi dingin yang membekukan sesuatu di dalam dada. Aku duduk di kursi empuk ini—kursi direktur yayasan—dengan kertas-kertas berserakan di atas meja jati. Setiap lembar dokumen itu bertuliskan namaku: Aminadab, S.H., gelar yang tak pernah kukejar. Ijazah yang tak pernah kukuliahkan.
Di luar jendela, halaman yayasan dipenuhi orang. Mereka datang sejak pagi, mengantre bantuan sembako. Aku mengamati mereka dari balik kaca satu arah—sebuah hak istimewa yang terasa seperti mengintip dari luar kehidupan.
Ada tiga tipe manusia di sana.
Pertama, yang benar-benar papa. Matanya sayu, tubuhnya ringkih, tapi mereka justru berdiri tegak, malu-malu menunjukkan KTP dan kartu keluarga. Mereka bicara lirih, nyaris tak terdengar. Seolah meminta maaf karena masih hidup dan perlu makan.
Kedua, yang pandai memerankan kemiskinan. Memakai baju lusuh, rambut dikusutkan, suara dibuat parau. Mereka tahu persis pose apa yang paling menyentuh hati para donatur. Aku mengenali tipenya karena—maafkan aku, Tuhan—aku juga sedang memerankan seseorang yang bukan diriku.
Ketiga, yang datang dengan senyum lebar, menyebut namaku berulang-ulang. “Pak Aminadab baik hati,” kata mereka. “Pak Aminadab dermawan.” Mereka tak pernah mengenalku sebagai Ami, supir ojek yang dulu mangkal di lampu merah Pasar Minggu. Mereka tak tahu aku pernah tidur di teras pertokoan karena tak bisa pulang ke kontrakan kehabisan bensin. Yang mereka tahu: Pak Ketua Yayasan, penyandang dana, orang penting yang layak dijilat ludahnya.
Aku ingin tertawa. Atau menangis. Entahlah.
***
Belum genap setahun lalu aku masih duduk di atas jok motor, pantat pegal menunggu order masuk. Minggus—teman setiaku—selalu ada di samping, bercerita tentang klien-klien aneh yang kami temui. “Ami, kamu pikir Aku bakal jadi sopir seumur hidup?” tanyanya suatu malam, di bawah guyuran lampu jalan yang temaram. “Aku mau jadi konglomerat, beli semua ojek online, terus kamu Aku jadikan sopir pribadi.”
Kami tertawa keras, berdeham-deham kena asap knalpot.
Lalu suatu siang, hidupku berbelok tanpa rem. Seorang lelaki tua menyeberang sembarangan, dan aku hampir menabraknya. Bukan hampir—stang motorku menyenggol pinggangnya sampai dia jatuh. Panik, aku turun, siap dimaki, siap bayar ganti rugi. Tapi lelaki itu malah tertawa.
“Kamu selamatkan saya,” katanya, aneh sekali.
Dialah Heri. Bukan sembarang orang—pemilik perusahaan besi beton, pengusaha properti, orang yang katanya masuk daftar orang terkaya di provinsi ini. Mobil mewahnya mogok di tengah kemacetan, katanya, jadi dia memilih berjalan kaki. Ketika aku hampir menabraknya, ternyata sebuah motor matic melaju kencang dari arah berlawanan, persis di belakangnya. Senggolan stangku membuat dia terhuyung ke depan, menghindari tabrakan maut.
“Kamu pahlawanku,” kata Heri, sambil membersihkan debu dari jas mahalnya.
Seminggu kemudian, dia menemuiku di pangkalan. Menawarkan pekerjaan aneh: menjadi ketua yayasan. Yayasan amal milik perusahaannya. “Untuk efisiensi pajak,” bisiknya terus terang. “Kamu hanya perlu tanda tangan, hadiri rapat, pakai baju bagus. Semua Aku urus. Ijazah, gelar, semuanya.”
Gajinya sepuluh kali lipat dari pendapatanku sehari-hari. Rumah dinas di pinggiran kota dengan halaman luas. Mobil operasional. Dan Lena, istriku yang setia, ikut pindah, jadi pengurus yayasan yang mengatur jadwal para penerima bantuan.
“Kamu pantas dapat ini, Ami,” kata Heri. “Keberuntungan adalah hak mereka yang siap. Dan kamu—kamu siap karena kamu jujur.”
Aku percaya itu dulu. Sekarang aku tak tahu lagi.
***
“Kamiu kenapa, Ami?” Minggus duduk di sampingku di bangku taman yayasan. Aku minta sopir pribadiku menjemputnya. Minggus datang dengan celana jeans belel dan jaket ojek—pakaian yang dulu juga kukenakan. “Kamu kurusan. Matamu kayak orang linglung.”
Aku tak bisa menjawab. Di depan kami, dua staf yayasan sedang mengatur antrean penerima bantuan. Mereka memanggilku “Pak Direktur” dengan hormat. Minggus melihatnya, lalu menatapku lama.
“Aku iri, Ami,” katanya pelan. “Tapi Aku juga kasihan.”
“Kasihan kenapa?”
“Kamu dulu suka ketawa. Sekarang kayak patung. Mulut kamu tersenyum, tapi matamu—maaf, Ami—matamu mati.”
Aku ingin membantah, tapi lidahku kelu. Minggus berdiri, menepuk pundakku. “Aku pulang dulu. Besok kerja pagi. Kamu jaga diri.” Dia melangkah pergi, dan aku melihat punggungnya yang dulu selalu di sampingku, kini menjauh.
***
Malam itu Lena memasak sup kesukaanku. Dapur rumah dinas ini lebih luas dari kontrakan kami dulu. Tapi entah kenapa, aromanya tak sama. Atau mungkin hidungku yang bermasalah.
“Sayang,” Lena duduk di depan meja makan, menatapku serius. “Aku mau bicara.”
Aku meletakkan sendok. Menanti.
“Kamu tahu, sejak kita pindah ke sini… aku merasa kehilanganmu.” Suaranya bergetar, tapi dia berusaha tegar. “Dulu, saat kita masih di kontrakan, tidur beralas koran, makan nasi telur tiap hari—kamu lebih hadir. Sekarang kamu di rumah ini, di kursi ini, tapi rasanya kamu pergi entah ke mana.”
“Le…”
“Biarkan aku selesaikan, Am.” Matanya berkaca-kaca. “Aku ikut kamu ke sini bukan karena rumah besar atau mobil. Aku ikut karena aku istri kamu. Tapi Aminadab yang dulu kukenal—lelaki yang suka cerita soal penumpangnya yang lucu, yang ketawa keras kalau nonton lawak di YouTube—dia hilang. Yang ada sekarang orang asing dengan baju rapi dan senyum palsu.”
Aku menunduk. Di dadaku, sesuatu seperti diremas perlahan.
“Minggus bilang kamu kayak patung,” lanjut Lena. “Dia benar. Tapi patung setidaknya punya bentuk. Kamu sekarang seperti… bayangan. Ada, tapi tak tersentuh.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” Suaraku parau. “Kembali jadi tukang ojek?”
“Bukan soal pekerjaan, Am. Ini soal kamu.” Lena meraih tanganku. Tangannya hangat, kasar karena pekerjaan rumah, tapi hangat. “Aku tak peduli kamu jadi direktur atau sopir. Yang kucinta adalah Aminadab—yang dulu, sekarang, nanti. Tapi aku ingin Aminadab yang sungguhan. Yang bisa tertawa, yang bisa menangis, yang bisa memeluk istrinya tanpa memikirkan gelar atau ijazah palsu.”
Udara di ruangan ini terasa berat. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa bisa bernapas.
“Aku tak tahu siapa diriku lagi, Le,” bisikku. “Setiap hari aku tanda tangan dokumen, hadiri rapat, sambut tamu—semua orang memanggilku Pak Ketua, Pak Direktur. Tapi di dalam sini—” kutukuk dadaku. “—kosong. Aku seperti memakai topeng yang lengket di muka. Kalau aku cabut, mungkin wajah asliku ikut terkelupas.”
Lena mengusap punggung tanganku.
“Kamu cukup jadi Aminadab.”
Aku mengangkat wajah. Menatap matanya yang teduh.
“Cukup jadi Aminadab,” ulangnya. “Bukan karena gelarmu, bukan karena jabatanmu. Tapi karena kamu adalah lelaki yang dulu kupilih jadi suami. Lelaki yang rela kehujanan cari nasi bungkus buatku saat aku demam. Lelaki yang meski cuma punya uang dua puluh ribu, tetap belikan aku es krim. Itu Aminadab-ku. Dan dia tak butuh ijazah palsu atau ruangan ber-AC buat jadi berharga.”
***
Malam semakin larut. Lena sudah tertidur di kamar, mungkin setelah lelah menangis. Aku duduk di beranda belakang, memandang langit pinggiran kota yang masih menyisakan sedikit bintang. Di kejauhan, sesekali terdengar klakson mobil—suara yang dulu akrab di pangkalan ojek.
Aku ingat pagi-pagi bersama Minggus, minum kopi tubruk sambil menunggu orderan. Aku ingat tawa kami yang keras, keluhan kami yang pura-pura, mimpi-mimpi kami yang tak masuk akal. Mereka bukan sekadar teman. Mereka adalah saksi hidupku yang nyata. Dan sekarang, di rumah besar ini, tak ada satu pun saksi yang tersisa—kecuali Lena.
Di dalam tasku, ijazah palsu itu tersimpan rapi dalam map plastik. Gelar S.H., yang tak pernah kukejar. Kertas-kertas itu mungkin bisa membuka pintu ke ruangan ber-AC, ke meja jati, ke antrean orang yang menyebut namaku dengan puja. Tapi kertas-kertas itu tak bisa membawaku pulang—ke diriku sendiri.
Aku ingat sesuatu yang dikatakan Heri di awal: “Kamu beruntung, Ami.” Dulu kukira keberuntungan itu soal bertemu orang tepat di waktu tepat. Sekarang aku mulai paham: keberuntungan sejati bukan tentang menjadi kaya atau berkuasa. Keberuntungan sejati adalah ketika kita masih bisa pulang kepada diri sendiri sebelum terlambat.
Lena bilang, “Kamu cukup jadi Aminadab.”
Mungkin dia benar. Mungkin selama ini aku sibuk menjadi orang lain—yang punya gelar, yang dihormati, yang kaya raya—hingga lupa bahwa Aminadab yang dulu, yang sederhana, yang suka ketawa bareng Minggus, sebenarnya sudah cukup. Cukup buat Lena memilihku. Cukup buat hidup berarti.
Aku menarik napas panjang. Di langit, satu bintang jatuh—cepat, hampir tak terlihat. Seperti hidup ini, mungkin. Singkat. Sekejap. Lalu apa yang tersisa?
Cinta, mungkin. Dan kehadiran sederhana orang-orang yang sungguh-sungguh melihat kita.
Besok aku akan bicara dengan Lena. Lalu dengan Minggus. Lalu dengan Heri. Aku tak tahu apa yang akan terjadi—apakah aku akan kembali ke pangkalan ojek, atau tetap di kursi ini dengan cara baru. Yang kutahu, untuk pertama kalinya dalam setahun, aku ingin menjadi diriku yang sesungguhnya.
Angin malam berhembus, dinginnya merayap ke kulit. Tapi kali ini, dingin itu tak membekukan. Hanya mengingatkan: aku masih hidup. Masih punya rasa. Masih bisa pulang, dan tetap menjadi Aminadab.
Lalu, kalaupun aku tetap menjadi Kepala Yayasan? Kenapa tidak? Bukankan kebanyakan orang di dunia ini cenderung hidup berpura-pura? Dan untuk mencapai sebuah kebenaran, seseorang terpaksa bersandiwara sepanjang hidupnya. Sebuah cara yang cukup menyakitkan tetapi rasa sakit itulah yang terbaik. [red/DD]
Krismanto Atamou, Guru di Kabupaten Kupang NTT.