“Jika nanti kau temukan rumahku kosong dan orang-orang menagih janji ke tempatku, tanyakan kembali kepada mereka, siapa sebenarnya yang berutang?”
Dalam bayangan Gogh, ia terus menyangka jika kematian serupa ilusi. Surga dan neraka hanya karangan manusia dalam kitab suci. Hidupnya di Zundert, hanyalah sebuah warisan silsilah sebagaimana hewan terus beranak, sebagaimana biji tumbuhan terus bertunas. Apalagi sejak ia dituduh melakukan hal yang tak pernah diperbuatnya. Seolah mereka yang menuduh juga tak percaya hari pembalasan perbuatan baik dan buruk.
Theo datang dan melihat Gogh terkapar di atas tumpukan jerami gandum. Sudah pasti kakaknya mabuk semalam. Ada tutup botol yang tergelimpang di antara serpih potongan jerami gandum yang berserak. Ia tak habis pikir, kenapa harus dengan jalan seperti ini untuk menyelesaikan setiap masalah. Seharusnya kakaknya yang mengajari hidup dalam kebenaran. Kenapa malah sebaliknya?
“Kau ingin menceramahiku lagi? Kau ingin bilang jiwaku penuh dosa karena tak pernah pergi ke gereja? Kau ingin katakan jika aku sepantasnya jadi seorang misionaris dan jadi pelayan Tuhan seutuhnya? Memangnya kau sudah pernah melihat neraka? Apa kau pernah tahu seperti apa rasanya tinggal semenit saja di surga? Semua yang ada dalam kitab suci hanyalah karangan manusia.”
Seseorang yang bertubuh lebih kecil di depannya menggeleng. Namun, rambutnya lebih jarang dan lebih pirang. Serupa surai di pucuk bonggol jagung. Sedari tadi ia berjongkok. Melihat kakaknya ternyata masih bisa dibilang sadar untuk mengutarakan segala keluh kesahnya. Sebuah tawaran darinya untuk lebih dekat dengan Tuhan ditolak mentah-mentah. Ia tahu kakaknya selalu gagal dalam urusan asmara. Apalagi setelah ia melukis gadis yang memanen gandum. Lalu dituduh melakukan hal tak senonoh pada gadis itu. Namun, kakaknya terus menyangkal. Ada yang tidak suka dengan dirinya. Itu yang sering diceritakan untuknya.
“Aku rasa kakak bisa menjual lukisan-lukisan itu.”
“Seni di zaman ini bukan untuk melihat sisi keindahan. Namun, seni yang dibutuhkan adalah upaya bertahan hidup dan perut terisi setiap hari. Kau masih terlalu polos untuk paham hidup ini.”
Segala yang Theo katakan seolah selalu salah. Ia mengambil galah besi yang biasa ia gunakan untuk menarik dan merapikan jemari. Lalu dengan cepat ia memukul tiga botol di bawah yang masih bergelimpangan. Pecah. Isinya muncrat mengenai tumpukan jerami. Busa mengalir ke mana yang ia mau. Aroma aneh menusuk-nusuk hidung Theo. Ia belum pernah sekalipun mencicipi air aneh itu. Ia lebih suka minum kopi, susu, atau teh. Itulah sebabnya ia tak punya banyak teman di Zundert ini.
“Besok Minggu aku mau ke gereja. Jika kakak mau, aku akan membawa kakak ke sana. Tak usah malu. Semua juga selalu mengatakan begitu. Namun, nanti lama-lama juga biasa. Tuhan selalu merasa senang pada manusia yang selalu punya banyak kesalahan. Tuhan jadi teman curhat terbaik. Sama sepertiku. Orang-orang menganggap itu. Padahal betapa mereka tak tahu aib yang telah Tuhan tutupi. Mereka tak tahu.”
“Tiga botol kau pecahkan, berarti enam puluh gulden kau ganti hari ini. Aku tak mau hari penangguhan. Terserah kau mau bayar pakai apa. Uangku habis di rumah Greg.”
“Kakak melakukan hal itu lagi? Sudah kukatakan, jika kita mau kaya dan jadi orang makmur, ya bekerja. Bukan judi.”
“Heh, kau kira kakakmu seburuk itu? Orang Zundert sudah tahu Greg bisa menggandakan uang yang kita setor. Sebulan yang lalu kakak menerima pengembalian itu. Lebih banyak. Aku penasaran dan menyetor lagi. Bulan kedua, ketiga, keempat, terus mengalir keuntungan. Aku bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Greg bilang ia menanamkan modal ke para pemilik kebun-kebun gandum. Nanti keuntungan akan dibagi rata kepada semua penyetor uang ke Greg. Hitungannya sudah kulihat dengan jelas. Aku tak mau terjerumus di tempat yang salah lagi.”
Sejatinya Theo sudah merasa bahagia jika kakaknya mulai sadar. Namun, ia tetap penasaran. Ia tahu Greg juga seorang dukun yang bisa menyembuhkan sakit. Begitu kata orang-orang. Saat dokter dan ahli kesehatan butuh waktu berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan bagus di kota, Greg selalu jadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan. Entah obat apa yang ia racik. Namun, semua orang percaya dengan ilmunya. Toh rata-rata juga sembuh dan tak ada komplain. Untuk masalah uang, Theo tak yakin.
Theo gegas ke sana, melangkah cepat menuju rumah Greg. Penasaran. Sampai di sana, Theo lebih merasa kaget, orang-orang berbondong dan berdiri di depan rumah Greg. Ia menyelinap di antara riuh dan umpatan orang-orang. Mencaci dan berkata, “Kembalikan uang kami penipu!” Theo melihat beberapa polisi dari pusat kota sudah datang. Pintu terus digedor-gedor, tetapi Greg tak kunjung muncul.
“Bulan pertama sampai ketiga lancar. Bulan keempat uang kami kemungkinan dibawa kabur. Kurang ajar!” Theo sedikit menguping dari bisik-bisik orang yang berkerumun di sampingnya. Sebelum pergi ke rumah ini, Theo mendengar dalam gumam lirih, saat pikiran kakaknya dipenuhi angan-angan dan halusinasi, “Kembalikan uangku bajingan!”
Theo pulang mengabarkan ini. Namun, sampai di dalam gudang, ia menemukan kakaknya tertidur dalam posisi aneh. Theo mengira ia sedang tidur. Ia lebih heran dengan sebuah surat di laci lemari tua samping kakaknya terkapar. Sebuah kertas cokelat tua menonjol. Tertulis dengan tinta hitam basah, Greg mengatakan uang yang ia setor tak sebanding dengan utang Gogh yang lebih banyak. Gogh kakaknya hobi judi dan mabuk-mabukan. Ia sering mengutang pada Greg. Demi untuk itu, Greg mencari akal agar Gogh mau mencicil utang itu. Dibuatlah skenario menanam uang, agar Gogh mau menyetor untuknya. Hitung-hitungan itu masih kurang banyak dengan jumlah utang Gogh pada Greg. Untuk itu, Greg membawa semua lukisan ketika Theo pergi. Ada sebuah ucapan yang membuat Theo sejenak berpikir lama.
“Anggaplah surat ini sebuah surat dari Tuhan agar kakakmu sadar. Aku tahu jalan yang kupilih tentu berisiko. Namun, bukankah utang memang harus dibayar? Jika nanti kau temukan rumahku kosong dan orang-orang menagih janji ke tempatku, tanyakan kembali kepada mereka, siapa sebenarnya yang berutang? Mereka juga punya kelakuan sama buruknya dengan kakakmu. Seolah yang terjadi di dunia ini hanya kebetulan. Sungguh tak mungkin. Apalagi dengan perlakuan kakakmu pada adik perempuanku. Sungguh kakakmu pandai berkelit. Serupa belut yang licin. Memutar balik kata-kata. Jika kau menginginkan perhitungan, datanglah segera. Aku tidak akan mengatakannya. Kau hanya perlu membuka selembar kertas belakang. Akan kau lihat gambar di mana aku berada saat ini.”
Theo segera membalik kertas. Di sana ada gambar satu rumah dari papan, sungai kecil di samping. Pohon ek di depan. Tentu ia akan kesulitan menemukan rumah dengan gambar sederhana seperti itu. Ia duduk termenung di teras. Bahkan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tak punya cukup uang untuk melakukan perjalanan demi menemukan Greg yang kabur. Betapa ia sedih berlipat-lipat. Kakaknya sering menamai setiap lukisannya. Stary Night, The Harvest, Self Potrait … semua seolah hidup untuk Theo jika kakaknya tak ada, sekarang semua lukisan itu lenyap. Ada yang bergemuruh hebat di dadanya.
Ia kembali masuk dan menyadari hal aneh ketika Theo tak sekalipun mendengar dengus napas Gogh. Ia membalik tubuh kakaknya yang tertelungkup. Begitu kaget melihat dua kupingnya teriris. Darah segar mengalir membasahi jerami gandum. Tangan Theo gemetar. Meremas-remas kertas pesan dari Greg. Seolah mengejek dan mengatakan, “Orang yang tuli terhadap kebenaran tak sepantasnya punya telinga. Jika kau mengira aku yang membunuhnya, cari rumahku dan kita akan duduk bersama tentang kebenaran itu. Lalu tanyakan pada adikku apa yang telah diperbuat kakakmu itu.” [red-BP]
Dody Widianto, lahir di Surabaya. Ratusan karyanya tersiar di berbagai media massa nasional.