Antre Memang Terlihat Sepele, Namun Tanpanya Tidak ada Kehidupan yang Tertib dan Damai

“Antrean bukan hanya barisan orang menunggu giliran, ia adalah aturan main yang mengatur hubungan sosial di ruang publik.”

Suatu ketika saya sedang mengantre di Pasar modern, tiba tiba ada seorang bapak-bapak tergesa-gesa ingin masuk di tengah antrean. “Mas, saya hanya beli sedikit, boleh ya? soalnya saya buru-buru” kata bapak tersebut dengan cepat-cepat sambil mencoba melewati jalur. Namun, orang-orang yang telah lama berdiri dekat saya dengan sangat sabar mencoba memberitahu bapak tersebut dan orang lain bahwa antrean itu penting agar semua orang memiliki giliran yang sama. 

Saya kemudian ikut bergabung dengan mereka dan ikut menyuarakan, “Pak, ayo antre dulu, biar semua dapat giliran yang sama, kan capek kalau harus rebutan. Kalau dibilang buru-buru semua juga buru-buru Pak”. Pada awalnya, bapak itu terlihat memang agak kesal, tetapi akhirnya mengangguk dan kembali ke tempatnya di belakang rombongan sesuai antrean.

***

Antre mungkin terlihat sepele dan seringkali dianggap remeh oleh banyak orang. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, antre adalah ritual sosial yang amat penting dan punya peran besar dalam menciptakan kehidupan yang tertib dan damai. Di kehidupan sehari-hari, antrean ditemukan di mana-mana. Mulai dari pasar tradisional sampai modern, minimarket, bank, hingga tempat pelayanan umum seperti kantor-kantor pemerintahan maupun tempat wisata. 

Antrean bukan hanya barisan orang menunggu giliran, ia adalah aturan main yang mengatur hubungan sosial di ruang publik. Masyarakat yang antre, menunjukan kesadaran kolektif dalam menghormati hak dan kesempatan orang lain. Meski kadang membosankan dan terkesan membuang waktu. 

Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih sulit menerapkan budaya antre secara konsisten. Seringkali kita melihat orang berebut dan memotong antrean. Ini adalah bukti bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya antrean masih rendah. Persoalannya adalah tentang bagaimana mengubah persepektif masyarakat. Dan ini menjadi PR bersama. 

Pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan budaya antre sejak dini. Kita bisa melihat best practice bagaimana di negara-negara yang pendidikannya sudah maju menanamkan budaya antre sejak TK. Bahkan di Singapura, pejabat, polisi, perdana menteri antre di kantin umum atau transportasi publik, sehingga memberikan visual yang kuat sebagai teladan.

Menurut penelitian Chairilsyah (2015), menemukan bahwa budaya antre merupakan komponen penting dari etika sosial yang telah berkurang dalam masyarakat Indonesia. Karena budaya antre mengandung minat dan kebutuhan bersama, keterbatasan sumber daya pelayanan, dan kesepakatan sosial dalam menghormati giliran, studi ini menekankan bahwa budaya antre harus diajarkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan moral dan karakter. 

Untuk tetap relevan dan mempertahankan ketertiban sosial dalam masyarakat modern yang semakin kompleks, diperlukan pemahaman ulang dan adaptasi budaya antre sebagai akibat dari perubahan zaman dan globalisasi. Chairilsyah juga menekankan betapa pentingnya pendidikan karakter dalam membangun budaya antre supaya menjadi kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara sadar dan sesuai dengan norma ataupun etika moral.

Peran pemerintah juga diperlukan dalam menciptakan budaya antrean yang tertib. Pemerintah bertanggung jawab untuk menetapkan dan menerapkan aturan yang jelas, memberikan pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, menyediakan fasilitas antrean yang memadai, mengawasi, dan menindaklanjuti pelanggar. 

Lalu, peran masyarakat dengan sikap dan tanggung jawab juga tidak kalah penting untuk keberhasilan budaya antrean yang harmonis dan tertib, karena mereka harus mematuhi aturan antrean dengan disiplin, menunjukkan kesabaran dan menghormati sesama pengguna layanan, dan berperan aktif melaporkan pelanggaran untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama.

Dalam konteks yang lebih luas, antrean juga menyampaikan pelajaran penting tentang kesetaraan dan keadilan. Bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk dilayani, jadi menunggu dengan tertib adalah cara untuk menghormati hak itu. Meskipun kadang-kadang terasa rumit dan menyebalkan, menunggu adalah bagian dari cara kita saling menjaga rasa hormat dan keadaban bersama. Bagaimana kehidupan sosial yang lebih besar dapat berjalan dengan baik jika antrean saja tidak dapat tertib? [RW]

Anindita Aulia Razma, berambisi cumlaude atau pulang rumah cuma buat tidur sebentar.