“Algoritma yang seharusnya netral di ruang digital, pada akhirnya harus berhadapan langsung dengan realitas pembagian wilayah yang sangat dipengaruhi oleh faktor manusiawi.”
“Mbak, kalau tetap masih di situ, gausah pesan ojol.” Pesan itu muncul di layar ponsel saya pagi itu, tepat setelah saya keluar dari stasiun kereta api. Saya baru saja memesan ojek online dan sedang menunggu di lokasi penjemputan yang saya anggap paling terjangkau persis di depan pintu keluar stasiun. Sebagai mahasiswa baru yang baru mulai kuliah dan terbiasa mengandalkan kereta serta ojek online, saya mengira masalahnya sederhana. Kemungkinan si pengemudi ojek enggan melewati jalur perlintasan kereta yang memang terkenal padat di wilayah tersebut’.
Ternyata, masalahnya bukanlah kemacetan, melainkan masalah teritori atau batasan wilayah operasional. Soal siapa yang “diizinkan” atau “berhak” mengambil penumpang di lokasi tersebut. Pengalaman yang awalnya saya anggap remeh itu pada akhirnya menyadarkan saya tentang kerumitan tersembunyi di balik layanan transportasi yang tampak mudah, sekaligus menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan kita mengenai hal tersebut.
Di lokasi depan stasiun tersebut, sudah ada kelompok pengemudi ojek pangkalan yang beroperasi secara tradisional sejak lama. Mereka biasa menunggu penumpang di tempat itu, bertransaksi secara langsung dengan sistem tatap muka dan negosiasi harga. Bagi para pengemudi ojek pangkalan ini, kawasan stasiun adalah “zona eksklusif” atau wilayah operasional yang wajib mereka pertahankan. Oleh karena itu, kehadiran ojek online di area tersebut bukan hanya dianggap sebagai pesaing, melainkan sebagai penyerobotan atau pelanggaran batas wilayah operasional mereka.
Penelitian Rahayu (2019) dalam Journal of Development and Social Change menunjukkan bahwa konflik antara ojek pangkalan dan Gojek di Surakarta sejak 2016 bukan hanya disebabkan oleh penurunan pendapatan, tetapi juga karena ojek pangkalan merasa wilayah operasional mereka diambil alih. Konflik ini terjadi dalam dua bentuk: konflik terbuka seperti perkelahian dan perebutan atribut, serta konflik tertutup berupa kecemburuan dan kekecewaan yang tersimpan.
Ojek pangkalan sudah lama beroperasi dan telah membangun komunitas yang memiliki seperangkat aturan main yang disetujui bersama, termasuk cara membagi wilayah operasi. Masuknya teknologi layanan ojek online tidak langsung menghilangkan tatanan yang sudah ada. Sebaliknya, hal ini malah menimbulkan konflik atau ketegangan antara sistem lama yang mengutamakan batasan wilayah dan kekompakan kelompok, dengan sistem baru yang bisa beroperasi tanpa terikat batas-batas geografis.
Pengemudi ojek online yang saya pesan sebenarnya bersedia mengantar saya. Namun, dia enggan menjemput langsung di lokasi yang merupakan “kekuasaan” ojek pangkalan. Hal ini bukan hanya didasari rasa takut, melainkan karena ia menghormati adanya kesepakatan tidak tertulis di sana, atau mungkin karena pengalaman konflik sebelumnya yang membuatnya bersikap lebih waspada.
Aplikasi ojek online menawarkan kemudahan. Cukup dengan buka ponsel, tentukan lokasi, dan dalam hitungan menit pengemudi akan segera datang. Akan tetapi, teknologi canggih ini tidak mampu menghilangkan atau menggantikan tatanan sosial yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Oleh karena itu, algoritma yang seharusnya netral di ruang digital, pada akhirnya harus berhadapan langsung dengan realitas pembagian wilayah yang sangat dipengaruhi oleh faktor manusiawi.
Pengalaman itu membuka mata saya. Selama ini kita tidak pernah diajarkan untuk memahami ruang publik secara lebih dalam. Di sekolah, pelajaran geografi cuma bahas gunung, sungai, iklim, dan baca peta. Tidak ada yang mengajarkan tentang dinamika sosial di ruang publik. Tentang siapa yang menguasai wilayah mana, bagaimana kelompok-kelompok berbeda memperebutkan tempat, bagaimana mereka bertahan hidup.
Akibatnya, banyak dari kita yang tidak paham tentang hal-hal seperti ini. Saya sendiri waktu itu cuma mikir praktis: pesan ojek, naik, sampai kampus, selesai. Tidak terpikir bahwa ada cerita panjang di balik layanan transportasi yang terlihat sederhana itu.
Pengalaman sederhana di depan stasiun itu akhirnya jadi pelajaran berharga. Saya belajar bahwa di balik aplikasi yang praktis, ada manusia dengan cerita hidup mereka masing-masing. Ada kepentingan yang harus dihormati, ada wilayah yang harus dipahami. Teknologi memang mempermudah hidup kita. Tapi teknologi tidak bisa selesaikan semua masalah, apalagi masalah sosial yang sudah mengakar puluhan tahun. Aplikasi ojek online memberi solusi transportasi yang praktis, tapi juga menciptakan masalah baru yang butuh penyelesaian bersama.
Sekarang, setiap kali memesan ojek online di dekat stasiun, terminal, pasar atau tempat yang biasa ada basis ojek pangkalan, saya akan jalan sedikit ke tempat yang lebih netral. Bukan karena takut, tapi karena paham. Saya tahu bahwa pilihan saya bisa berdampak ke orang lain, ke driver ojek online yang sedang mencari nafkah, atau ke ojek pangkalan yang berusaha bertahan. Pemahaman ini penting untuk hidup di kota. Kita tidak cukup hanya tahu cara pakai teknologi. Kita juga perlu paham konteks sosial di mana teknologi itu bekerja. Kita perlu tahu bahwa di balik layanan yang terlihat sederhana, ada dinamika sosial yang rumit. Ada manusia dengan perjuangan, aturan dan harga diri mereka. [RW]
Nazwatun Hasanah. Mahasiswa tinggal di Kota Tangerang.