Tempe Benguk, Makanan Khas Kulon Progo yang Mulai Dilupakan

“Makanan tradisional bukan cuma soal rasa, tapi juga identitas budaya yang harus dijaga.”

“Bu, ini namanya makanan apa? Aku nggak mau makan!”

Kalimat seperti itu sering sekali terdengar saat saya mengajak anak-anak mencoba makanan tradisional. Begitu melihat bentuknya yang asing, mereka langsung menolak. Kali ini yang kami kenalkan adalah tempe benguk, makanan khas Kulon Progo yang katanya, “Bukan orang Kulon Progo kalau nggak doyan tempe benguk.”

Sayangnya, generasi sekarang makin jauh dari makanan tradisional. Mereka lebih akrab dengan nugget, sosis, mie instan, atau jajanan kekinian yang viral di TikTok. Sementara ketika ditawari tempe benguk yang dibungkus daun pisang, dengan warna hitam keabu-abuan dan bumbu putih, mereka buru-buru menutup bungkusnya lagi.

Kalau kita lihat ke belakang, makanan tradisional dulunya jadi bagian dari keseharian orang Kulon Progo. Tempe benguk, geblek, growol, sampai jadah tempe selalu ada di meja makan. Sekarang, makanan-makanan itu justru mulai langka. Bukan karena tidak ada yang bisa membuat, tapi karena peminatnya menurun.

Banyak anak-anak bahkan tidak tahu namanya, apalagi rasanya. Ironis kan? Tinggal di Kulon Progo tapi nggak kenal kuliner khas daerah sendiri. Padahal makanan tradisional bukan cuma soal rasa, tapi juga identitas budaya yang harus dijaga.

Pentingnya Peran Sekolah dan Orang Tua

Menurut saya, sekolah punya peran penting untuk mengenalkan makanan tradisional sejak anak usia dini. Misalnya, di PAUD atau TK bisa dibuat snack time seminggu sekali dengan menu khas daerah. Hari ini tempe benguk, minggu depan geblek, minggu depannya lagi growol.

Selain mencicipi, guru bisa menceritakan sejarah dan proses pembuatannya. Anak-anak jadi tidak hanya tahu rasa, tapi juga tahu cerita di balik makanan itu. Belajar pun jadi menyenangkan. Kalau sejak kecil sudah terbiasa, besar nanti mereka tidak akan asing lagi dengan makanan khas daerahnya.

Tugas ini jelas tidak bisa hanya ditanggung guru. Orang tua juga harus ikut mengenalkan makanan tradisional di rumah. Sesekali ajak anak jajan di pasar tradisional. Biarkan mereka memilih lupis, gethuk, atau nagasari. Beri contoh dengan ikut makan, supaya anak merasa makanan itu enak dan layak dicoba.

Kalau ada waktu luang, orang tua bisa mengajak anak masak bareng. Membungkus nagasari dengan daun pisang atau membuat geblek dari singkong bisa jadi aktivitas seru. Anak belajar bahwa makanan tradisional dibuat dengan proses yang unik, bukan sekadar beli instan dari minimarket.

Soal Kesehatan, Kemasan, dan Pelestariannya

Selain melestarikan budaya, makanan tradisional juga lebih sehat. Dibanding makanan instan yang penuh pengawet, jajanan lokal umumnya terbuat dari bahan alami. Tempe benguk, misalnya, kaya protein nabati dan serat. Sangat baik untuk tumbuh kembang anak.

Anak-anak yang terbiasa dengan makanan instan cenderung lebih mudah sakit, gampang lelah, bahkan berisiko obesitas. Sementara mereka yang mengonsumsi makanan alami biasanya lebih aktif dan sehat. Jadi mengenalkan makanan tradisional sejak dini bukan hanya menjaga budaya, tapi juga menjaga kesehatan generasi muda.

Masalahnya, anak-anak sekarang cenderung visual. Jadi kemasan makanan tradisional juga perlu diperhatikan. Tempe benguk misalnya, bisa dikemas dengan wadah yang lebih modern tanpa kehilangan ciri khasnya. Atau bisa dipromosikan lewat media sosial dengan cara yang lebih kekinian.

Sekolah, komunitas, dan UMKM lokal juga bisa berkolaborasi membuat acara bazar makanan tradisional. Anak-anak bisa melihat langsung cara membuatnya, sekaligus mencicipi berbagai makanan khas. Ini akan jadi pengalaman seru yang tak terlupakan.

Bayangkan kalau 10–20 tahun lagi tempe benguk hanya tinggal cerita karena generasi muda enggan melestarikannya. Rasanya sayang sekali. Kuliner tradisional adalah warisan yang seharusnya terus hidup, bukan sekadar pajangan di museum atau konten nostalgia orang tua.

Jadi mari kita mulai dari hal kecil: mengenalkan tempe benguk dan makanan tradisional lain kepada anak-anak kita. Dari sekolah, dari rumah, dari pasar, bahkan dari unggahan sederhana di media sosial.

Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? [RR]

Nur Anisa Budi Utami, Guru TK yang tinggal di Kulon Progo, suka ngopi, menulis, dan jalan-jalan.