“Karakter yang tertanam memerlukan sentuhan jiwa yang nantinya akan menjadikan kebiasaan tersebut sebuah perilaku yang jika tidak dilakukan akan menimbulkan rasa kurang dalam dirinya.”
Usianya kini 17 tahun dan ia duduk di kelas 3 SMA. Namun, setiap kali memasuki masjid, Ia tak pernah lalai memasukkan sebagian uang dari dompetnya ke kotak amal. Kebiasaan itu terbentuk secara alami, tanpa panduan dari orang lain di sekitarnya.
Cerita tersebut merupakan kisah seorang anak bernama Syifa. Ia memiliki kepribadian yang unik, karena setidaknya memiliki dua jenis ritual yang menjadi kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya merupakan hal yang terlihat sederhana, namun telah tertanam kuat dan kini menjadi ciri khas proses tumbuh kembangnya.
Pertama, setiap hendak melakukan perjalanan, Syifa selalu mengucapkan doa yang bacaan di dalamnya adalah sebuah permohonan yang ditujukan kepada Allah SWT.
Bunyi doa tersebut, “Bismillahirrahmanirrahim, niat ingsun talabul ilmi karena Allah semoga Allah rida”, yang artinya, Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih dan penyayang, saya berniat mencari ilmu karena Allah, semoga Allah memudahkan.
Kedua, ketika memasuki masjid atau musala, tak pernah terlewat memasukkan sebagian uang dalam rangka beramal.
Setelah diselidiki lebih lanjut, kebiasaan tersebut merupakan perilaku yang tidak terbangun dengan sendirinya. Apa yang menjadi kebiasaan Syifa saat ini merupakan hasil dari investasi panjang semasa kecil.
Jadi, setiap berangkat sekolah taman kanak-kanak, Syifa yang diantarkan oleh kakaknya selalu diminta mengikuti membaca doa. Setiap waktu bepergian selain pulang pergi dari sekolah, doa itu pun menjadi bagian rutin yang dilakukan sepanjang waktu. Makanya, hingga saat ini, kebiasaan tersebut terbawa hingga kini.
Begitupun dengan kebiasaan mengisi kotak amal, rutinitas tersebut terbangun oleh kebiasaan yang dibangun oleh keluarganya setiap Syifa pulang dari sekolah. Setiap kali pulang sekolah di taman kanak-kanak, kakak Syifa selalu menyempatkan mampir di masjid, lalu meminta tolong Syifa kecil untuk memasukkan uang ke kotak amal.
Rutinitas sepanjang waktu pulang sekolah tersebut rupanya menjadi fondasi kebiasaan yang kini masih terpelihara dengan baik.
Menerapkan Pendidikan Karakter Thomas Lickona
Karakter seorang anak terbangun tidak melalui cara yang instan, membutuhkan proses pembiasaan. Seorang anak juga tidak tumbuh dengan proses hafalan sebuah teori kemudian mengingatnya dalam perilaku, namun karakter yang tertanam memerlukan sentuhan jiwa yang nantinya akan menjadikan kebiasaan tersebut sebuah perilaku yang jika tidak dilakukan akan menimbulkan rasa kurang dalam dirinya.
Bapak pendidikan karakter Thomas Lickona menyebutkan bahwa karakter seorang anak akan tumbuh dengan baik setelah melewati 3 bagian penting dalam prosesnya.
Pertama, mengetahui kebaikan (knowing the good); kedua, mencintai kebaikan (desiring the good); dan ketiga, melakukan kebaikan (doing the good) (Lickona, 2019). Ketiga unsur tersebut harus menjadi sebuah kesatuan yang terangkai dalam penanaman nilai-nilai karakter dalam diri seorang anak.
Pengetahuan moral sebagai unsur pertama dalam pendidikan karakter Thomas Lickona menjadi unsur awal memperkenalkan nilai kebaikan kepada anak.
Pada tahapan pertama, diharapkan orang tua memberikan sebuah contoh yang baik kepada anak, sehingga melalui panca indranya anak akan merekam kebaikan yang dilakukan orang tuanya. Melalui panca indranya kemudian anak menjadi memahami bahwa apa yang berulangkali dilakukan oleh orang tuanya merupakan sebuah kebaikan yang bisa dirasakan manfaatnya.
Selain memperlihatkan kebaikan melalui perilaku, orang tua juga perlu menyampaikan nilai manfaat dari perilaku baik tersebut kepada sang anak.
Unsur kedua dalam tahapan ini adalah mencintai kebaikan. Urutan ini menjadi sebuah langkah baru setelah anak memahami nilai kebaikan yang diajarkan orang tuanya melalui perilaku dalam keseharian. Setelah anak memahami manfaat dari kebaikan tersebut maka rasa cintanya terhadap kebaikan mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.
Nilai kebaikan yang diserap dari perilaku orang tuanya tidak hanya merupakan sebuah kebiasaan yang tertangkap panca indranya, namun sudah meresap pada jiwanya. Maka setelah unsur pertama dan kedua tertanam dengan baik, meningkatlah pada bagian ketiga dalam konsep pendidikan karakter Thomas Lickona, yaitu melakukan kebaikan.
Seorang anak pada tahap ini sudah mulai tertarik untuk turut serta melakukan kebaikan yang selama ini dilihatnya dari kebiasaan baik orang tuanya, sehingga hal tersebut ingin menjadi bagian dari perilakunya. Jika seorang anak telah sampai pada tahapan ketiga dalam penerapan nilai kebaikan, maka tugas orang tua selanjutnya Adalah mendampingi anak agar pola perilaku ini berlangsung secara terus menerus.
Konsistensi yang terbimbing dari orang tua akan menghasilkan sebuah kebiasaan yang tidak hanya terlaksana dengan baik bagi seorang anak, namun akan menjadi kebiasaan yang melekat erat bahkan hingga seorang anak tersbeut tumbuh dewasa. Kebiasaan baik yang terus dilakukan dan bahkan mampu terlaksana meskipun tanpa bimbingan dari orang tuanya akan menjadi perilaku yang berpengaruh terhadap kesuksesannya dimasa depan.
Seorang anak dengan nilai karakter baik dalam dirinya akan mampu menghadapi situasi dan tantangan dengan pemecahan masalah melalui dasar nilai-nilai kebaikan yang dimiliki, sehingga dia akan mampu berpikir, bertindak, berperilaku, dan mengambil keputusan dengan pedoman pada nilai-nilai kebaikan tersebut sepanjang kehidupannya.
Maka sudah sepatutnya orang tua mendampingi anak tidak hanya melalui nutrisi makanan yang baik, melainkan juga pendampingan terhadap tumbuh kembang nilai-nilai karakter dalam dirinya. [red-Nuha]
Anis Fuadah Z. Penulis, pendiri Yayasan Anis Badrus Jaya Inisiatif, dan pengajar di UIN Jakarta
Sumber bacaan:
Lickona, T. (2019). Educating for Character Mendidik untuk Membentuk Karakter Bagaimana Sekolah Dapat Memberikan Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Tanggung Jawab (J. A. Wamaungo & U. Wahyudin, Eds.; keenam, Vol. 1). PT Bumi Aksara.