Gadis Bercaping Kropak

“Tiba-tiba Randu memeluknya tanpa aba-aba. Begitu sadar, mereka segera saling melepaskan pelukan. Meski hanya sekian detik, itu merupakan pelukan pertama sekaligus terakhir bagi mereka.”

Hampir tiap hari selama dua pekan ini Randu dibuat penasaran. KKN di desa dekat pantai ternyata membuatnya kerasan. Ia seakan kembali ke kampung halaman, meski sesungguhnya di desa ini lebih indah pemandangan alamnya. Selain gunung dan persawahan hijau, pasir putih di sepanjang pantai merupakan keindahan yang tak terkatakan.

Udara yang sejuk dari angin pantai hingga aroma pasir basah memantik kerinduan akan kenangan masa kecil. Betapa bebasnya bermain pasir dengan teman-teman tanpa ada yang melarang. Mandi di pantai juga tak ada yang menghardiknya. Pantai seolah tempat bermain nomor satu yang menyenangkan di masa kanak-kanak Randu.

Dari semua teman masa kecilnya, hanya beberapa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Ada yang menjadi pedagang sukses, ada yang menikah muda dan ada juga yang kini menjadi guru mengaji. Hanya satu dua teman yang ia lupa sejak Randu mengikuti abangnya di daerah lain sepeninggal orang tuanya.

***

Setiap sore menjelang Magrib gadis itu lewat di depan rumah pak Pak Lurah tempat Randu tinggal selama KKN. Gadis semampai yang berjalan pelan sambil menenteng dua rantang yang biasa untuk wadah bekal makan. Caping kropak kuning gading sedikit buram selalu di kepalanya meski ia sudah berkerudung, sehingga wajahnya sedikit tertutupi. Mungkin untuk melindungi diri dari teriknya mentari di siang hari. Mungkin pula sebagai pelengkap busana yang ia kenakan.

Dari cara berjalannya, Randu seakan pernah mengenalnya. Ya, kira-kira beberapa tahun silam. Lebih-lebih ketika Randu sempat mendengar suaranya kala disapa Bu Lurah dan ia menjawabnya dengan sangat santun. Suara itu membuat Randu yakin akan dugaannya yang sempat membuat penasaran beberapa hari ini. Ternyata hampir tiap hari gadis itu pergi ke sawah mengawasi orang-orang yang bekerja menggarap sawah mertuanya. 

“Aku harus mengikuti abangku dan kuliah di kota,” kata Randu suatu hari kepada Delima, kekasih hatinya.

“Pergilah, aku akan tetap di sini menemani ibuku yang sudah sakit-sakitan,” kata Delima dengan sorot mata yang kosong sambil membuang muka dari Randu. Namun Randu masih bisa menangkap kilatan kedua mata Delima yang basah oleh tangis yang ditahan.

Bibir Delima bergetar ingin mengucap sesuatu tapi tak jadi. Ia menunduk. Jatuhlah air matanya tak jauh dari tanah tempat kakinya berpijak. Tiba-tiba Randu memeluknya tanpa aba-aba. Begitu sadar, mereka segera saling melepaskan pelukan. Meski hanya sekian detik, itu merupakan pelukan pertama sekaligus terakhir bagi mereka.

Peristiwa itu yang selalu diingat Randu. Beberapa kali ia menghubungi Delima ketika kuliah namun tak pernah ada balasan. Dua tahun kemudian Randu mendengar Delima telah disunting Edo, putra juragan mebel di kota ukir. Randu pasrah dan mengisi hari-hari patah hatinya dengan kesibukan di kampus.

“Namanya Delima, Mas Randu. Ia perempuan baik-baik, halus budi dan santun kepada siapa saja,” jelas Bu Lurah suatu hari saat memergoki Randu melihat Delima lewat jendela sambil melongo.

“Eh! Ya, Bu. Sepertinya saya pernah mengenalnya.” Randu berkata hati-hati sambil menahan malu.

“Ia jadi menantu Haji Umar. Juragan mebel terkenal yang memiliki sawah luas berhektar-hektar. Putra semata wayangnya, Edo, sama sekali jauh dari karakter sang ayah. Banyak yang bilang Edo itu suka minum, judi, dan ringan tangan.” Bu Lurah cerita panjang lebar membuat Randu diam terpaku bagai patung.

“Pernah ibu melihat wajah Delima memar-memar biru. Warga lain juga sempat cerita secara tak sengaja menyaksikan Delima dibanting suaminya saat mabuk. Cerita-cerita tentang KDRT sering ibu dapat dari karyawan Haji Umar,” tambah Bu Lurah.

Bagai bumi dan langit antara Edo dengan ayahnya. Menurut cerita yang didengar Randu, Haji Umar yang dermawan tak pernah pilih kasih terhadap para karyawannya. Edo yang temperamen selalu menghabiskan harta orang tuanya untuk berfoya-foya. Punya istri cantik dan berbudi tak membuatnya berubah. Hampir setiap dini hari pulang dalam keadaan mabuk dan Delima menjadi sasaran empuk tangan kasarnya.

“Oh, Delimaku. Benarkah cerita yang kudengar ini?” Randu berbisik lirih pada dirinya sendiri.

Sebelum Bu Lurah melanjutkan cerita, Randu ingat di malam sebelumnya Pak Lurah juga bercerita tentang Delima. Kapan Delima menjadi janda dan kapan suaminya ditemukan warga sudah tak bernyawa. Cerita yang bagi Randu cukup membuat hatinya merinding. Namun ia berusaha tampak tenang meski dalam hati menginginkan cerita tentang gadis pujaannya itu sedetail mungkin.

Masih cerita Pak Lurah, hari itu masih remang-remang karena mentari belum menampakkan diri. Di pertigaan jalan orang-orang berkerumun melingkar mengelilingi sesosok tubuh yang sudah diam membisu. Ada memar di dada dan beberapa bagian tubuh lainnya. Terlihat bekas-bekas duel di tubuh itu. Semua orang mengenalnya.

Beberapa warga segera membawanya ke rumah sakit setelah polisi datang, dan sebagian lagi lari ke rumah Haji Umar untuk memberi kabar.

“Sebagai janda kembang yang cantik, tentu banyak pria yang melirik ingin mendapatkannya. Apalagi kini sudah melewati masa iddah, siapa pun boleh meminangnya.” Terang Bu Lurah tanpa tahu gemuruh di dada Randu. Sempat tumbuh di lubuk hati yang terdalam untuk kembali merajut kasih dengan Delima. Keinginannya begitu kuat apalagi selama ini ia belum menemukan tambatan hati sebagai pengganti. Namun Randu merasa ragu, masihkah Delima punya rasa seperti yang ia rasa?

***

Tepat tengah malam Randu terjaga lalu keluar menuju serambi. Cerita Bu Lurah membuatnya gelisah tak bisa tidur, terus mengganggu pikirannya padahal sudah beberapa hari berlalu. Ia sedikit terkejut ketika menuju serambi dilihatnya ada beberapa orang sedang bicara lirih, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ditutup-tutupi. Pak Lurah tampak mengangguk-angguk sambil sesekali memegang dagunya.

Orang-orang tersebut bergantian bicara dan tak lama mereka pun mohon diri. Sebelum masuk ke dalam, Pak Lurah sempat bercerita singkat kepada Randu.

Pak Lurah terpaksa merelakan salah satu warganya digelandang polisi. Misteri pembunuhan Edo sudah terungkap. Orang terdekat, terbukti sebagai otak pembunuhan karena sudah tak tahan atas perlakuan Edo setiap harinya. Gelimang harta dan derita lahir batin yang sedemikian tak tertahankan telah membuat sebuah rencana jahat mulus terlaksana.

***

Setelah tragedi memilukan itu, hanya tinggal satu harapan Randu. Tugas dari kampus segera selesai. Ia tak ingin mengecewakan abang dan kedua orangtuanya. Juga tak ingin bertemu lagi dengan si gadis bercaping kropak.

Angan-angannya bersanding dengan pujaan hati pupus sudah. Ia berupaya mengubur masa lalunya dengan kesibukan di kampus demi cita-cita masa depan. Biarlah kandas kisah cintanya, asal tidak hancur cita-cita dan masa depannya.

Wurry Srie. Ibu rumah tangga yang suka menulis. 

Editor: Dessy Liestiyani, Bhagaskoro.