“Presiden pun pada akhirnya pensiun, lalu dilupakan. Aku dulu pernah jadi orang, sekarang cuma penjual koran. Dua-duanya cuma topeng. Mana yang asli?”
Di persimpangan lampu merah itu, aku duduk bersila di atas aspal yang memantulkan panas. Tumpukan koran di pangkuanku, terik matahari di ubun-ubun, dan debu yang menari di antara mobil-mobil yang berhenti.
Kulihat seorang pengendara motor di sebelah kanan. Setelan jas, dasi longgar, keringat mengucur di pelipis. Matanya gelisah menatap lampu merah. Kakinya siap menginjak gas, badannya condong ke depan. Ingin cepat sampai. Tapi ke mana? Ke ruang rapat yang sama membosankannya dengan kemarin? Kesia-siaan.
Di sebelah kirinya, seorang ibu dengan dua anak di belakangnya, motornya reyot, tas belanjaan menggantung. Wajahnya lelah, tapi tenang. Mungkin ia sudah lelah dengan dagangan yang tak laku, dengan ongkos sekolah anak yang terus naik. Tapi ia sabar. Untuk apa? Kesia-siaan juga, pikirku.
Lalu melintas sebuah mobil mewah. Aku tahu itu pejabat, atau bos besar. Dari balik kaca buram, aku bisa merasakan raut cemasnya. Bukan cemas soal macet, tapi cemas soal kekuasaan yang mungkin lepas, soal proyek yang mungkin tak jadi, soal rekening yang mungkin dibekukan KPK. Kaya raya, tapi gelisah. Kesia-siaan.
Aku ingat Salomo. Raja paling bijaksana, paling kaya, paling berkuasa. Tapi akhirnya? Ia punya tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik. Perempuan-perempuan asing itu mencondongkan hatinya kepada berhala. Salomo yang bijaksana, pada akhirnya jadi penyembah berhala.
Lalu untuk apa?
Semua yang enak dimakan, cuma sensasi di lidah. Semua pengaruh manusia, cuma ilusi sosial. Semua kekuasaan, cuma halusinasi dalam kelas masyarakat. Presiden pun pada akhirnya pensiun, lalu dilupakan. Aku dulu pernah jadi orang, sekarang cuma penjual koran. Dua-duanya cuma topeng. Mana yang asli?
***
“Wih…, Bar, melamun terus…!”
Desmon, penjual tisu di lampu merah sebelah, menghampiri sambil mengibas-ngibaskan tisu. Ia duduk di sampingku.
“Kamu lagi pikir apa dari tadi?” tanyanya.
“Ah, tidak, Mon. Cuma…” Aku menghela napas. “Apa kamu pernah merasa, semua yang kita lakukan ini percuma?”
Desmon mengerutkan kening.
“Kamu jualan tisu, aku jualan koran. Setiap hari. Panas-panasan, hujan-hujanan. Kadang dapat seribu, kadang tidak. Apa yang berubah? Apa dunia jadi lebih baik karena kamu jual tisu? Atau kita cuma menghabiskan waktu sampai mati?”
Desmon tertawa. “Ya elah, Bar. Hidup ya seperti itu. Jalani saja. Yang penting makan. Kamu tidak usah sok bijak. Kamu kira kamu siapa? Raja Salomo?”
Aku tersenyum pahit. “Aku cuma Bartolomeus. Penjual koran. Tapi justru karena aku penjual koran, aku bisa melihat semuanya. Orang-orang kaya, orang miskin, pejabat, preman—semua lewat. Dan mata mereka tidak ada yang tenang beneran. Semua kayak mengejar sesuatu.”
“Ya mengejar duitlah,” Desmon memotong. “Simpel.”
“Terus duit buat apa?”
“Buat beli rumah, mobil, liburan.”
“Terus? Habis itu mati. Dan semua itu tidak ada artinya.”
Desmon menatapku lama. Lalu tiba-tiba ia berdiri. “Wi, Bar. Kamu depresi, ya? Ayo jualan! Lampu sudah merah tuh!”
Ia berlari kecil. Aku masih duduk, memandangi tumpukan koran. Di halaman depan, ada berita tentang pejabat yang tertangkap KPK. Aku kenal wajahnya. Dulu, dia sering datang ke kantorku.
***
Malam harinya, aku pulang ke kontrakan. Sebuah petak di belakang pasar Inpres. Dinding tripleks, lantai semen, lampu pijar lima watt. Tapi cukup terang untuk melihat wajah istriku—Wati—yang sedang memasak di dapur. Aku duduk di kursi plastik, melepas sandal jepit yang hampir putus.
“Bar, sudah pulang?” suaranya dari dapur. “Sebentar ya, sayurnya belum matang.”
Wati keluar membawa dua piring. Wajahnya tetap cantik meski lelah. Dulu, waktu aku masih punya perusahaan, ia pakai perhiasan, tas branded. Sekarang rambutnya diikat asal, bajunya beli di pasar loak.
“Lho, kok kamu diam saja? Capek, ya?” Ia duduk di depanku.
“Wati,” aku memulai, suaraku serak. “Kamu percaya tidak, semua yang kita alami ini ada artinya?”
Ia berhenti menyendok nasi. Menatapku.
“Maksudku… kita dulu kan kaya raya. Sekarang di sini. Kontrakan. Jualan koran. Kamu pikir itu semua kebetulan? Atau semua cuma mainan?”
Wati meletakkan sendoknya. “Ini soal Pak Hartono lagi, ya?”
Aku terdiam.
Nama itu selalu membuat dadaku sesak. Hartono, mantan partner bisnisku. Pejabat Dinas Cipta Karya. Ia datang dengan proyek besar, dan aku bodohnya percaya. Aku investasikan semua. Rumah, tabungan, bahkan pinjaman bank. Tapi di ujung jalan, ia bilang proyeknya dialihkan. Aku tahu itu bohong. Ia main sama kontraktor nakal. Ketika aku protes, ancaman datang. Aku takut keluargaku terancam. Maka aku mundur. Bangkrut. Semua ludes.
“Aku lagi mikir, Ti,” kataku pelan. “Salomo itu bijaksana, kaya raya, tapi akhirnya murtad. Hartono itu pejabat, punya kuasa, tapi korup. Aku dulu pengusaha, sekarang begini. Apa bedanya? Semua sia-sia?”
Wati menggenggam tanganku. Tangannya kasar karena saban hari menggoreng.
“Bar,” katanya lembut. “Aku tidak mengerti soal Salomo. Tapi aku ingat, dulu waktu kita kaya, kamu sering pulang malam. Sibuk rapat, sibuk urus proyek, sibuk sama pejabat-pejabat itu. Kita punya rumah besar, tapi kamu jarang di rumah.”
Ia menghela napas.
“Sekarang, kamu pulang tiap malam. Laporkan jualanmu. Kadang cuma dapat dua puluh ribu. Tapi kamu ada di sini. Kita makan bareng. Mungkin ini bukan kesia-siaan, Bar. Mungkin ini Tuhan memberi kita kembali: waktu.”
“Waktu? Buat apa?”
“Buat saling menemani. Buat mengerti bahwa kita tidak butuh semua harta itu. Kita cuma butuh cukup. Dan kita punya cukup sekarang. Kita masih makan, masih punya atap, masih sehat. Bukankah itu juga anugerah?”
Aku terdiam. Kata-katanya merambat masuk ke hati yang selama ini beku.
“Tapi… Hartono…” aku terbata.
“Aku tahu kamu sakit hati. Aku juga. Tapi dendam cuma bikin kamu tambah menderita. Lihat Hartono sekarang. Kamu baca koran, kan? Dia tertangkap KPK. Proyeknya bermasalah. Dia di sel. Kita di sini, bebas.”
Aku mengangkat kepala. Benar. Hari ini di koran yang kujual, ada berita itu. Hartono ditahan. Wajahnya muram, tangan diborgol. Dulu ia tampak perkasa, sekarang ringkih.
“Kamu lihat, Bar?” Wati melanjutkan. “Semua yang kamu katakan soal kesia-siaan itu mungkin benar buat orang yang mengejar dunia. Tapi buat kita yang cuma mau cukup dan tenang, mungkin itu justru berkah. Salomo di akhir hidupnya sadar bahwa takut akan Tuhan adalah awal pengetahuan. Mungkin kamu tidak perlu jadi Salomo. Kamu cukup jadi Bartolomeus.”
Aku memandang Wati. Wanita ini, yang dulu manja dan suka belanja, sekarang jadi filsuf di dapur kontrakan.
“Aku sayang kamu, Ti,” kataku tiba-tiba.
Ia tersenyum. “Aku juga. Ayo makan, sudah dingin.”
Kami makan dalam hening. Tapi hening itu berbeda. Bukan hening kosong, tapi hening penuh. Seperti setelah badai reda.
***
Keesokan harinya, aku kembali ke lampu merah. Matahari sama teriknya, debu sama banyaknya, mobil-mobil sama macetnya. Tapi ada yang berbeda. Aku melihat wajah-wajah itu lagi: yang gelisah, yang sabaran, yang cemas di balik kaca gelap. Dan kali ini, aku tersenyum.
Bukan senyum sinis. Tapi senyum yang lahir dari pengertian baru. Bahwa belajar dari Salomo: memang semua kesia-siaan. Tapi mungkin, justru karena semua sia-sia, kita bebas memaknai. Bebas memilih untuk tidak larut dalam gelisah. Bebas memilih untuk bersyukur meski hanya punya cukup.
Aku bukan Salomo. Aku bukan Hartono. Aku cuma Bartolomeus.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku menjual koran bukan karena terpaksa, tapi karena aku memilih. Memilih untuk ada. Memilih untuk pulang ke Wati, dan berkata bahwa sop buatannya hari ini paling enak sedunia.
Karena mungkin, di tengah semua kesia-siaan, cinta adalah satu-satunya yang tidak sia-sia. [red-DD]
Krismanto Atamou, Guru di Kabupaten Kupang NTT.