Mbah Ghibah yang kocak tapi sering bener, mau curhat dooong. Jawabnya yang bener ya Mbah, karena aku bener-bener udah pusing harus gimana.
Jadi ceritanya gini, namaku Dida, umur sudah matang lah, beberapa tahun ini aku pacaran, Mbah. Pacarku ini cantik banget deh, Mbah. Aku udah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama dia. Kulitnya juga putih mulus, mungkin karena banyak makan sayuran ya, Mbah. Eh, Mbah hobi makan sayur nggak? Kulit mbah mulus nggak? Coba sini, aku raba dulu ya, Mbah.
Kok kita malah main raba-rabaan sih. Hiiii.. Balik ke curhatku aja ya, Mbah…
Sayangnya, kami terhalang restu orang tuaku, mbah. Orang tuaku nggak setuju. Pertama, dia cewek Sunda. Katanya cowok Jawa dilarang menikah sama cewek Sunda. Kata bapakku, menikah sama cewek Sunda itu akan banyak ributnya. Persepsi ini konon akibat lamaran Prabu Hayam Wuruk ke putri Sunda Diah Pitaloka yang mengakibatkan Perang Bubat itu, Mbah.
Padahal kejadian itu kan udah lama ya. Sudah dari jaman Majapahit. Masak iya semua orang Jawa yang menikah sama orang Sunda pasti menimbulkan keributan. Kan enggak to, Mbah?
Yang kedua, berdasarkan hitungan weton, katanya aku dan pacarku itu nggak cocok Mbah. Dia lahir hari Rabu Wage dan aku Sabtu Pahing. Katanya ini weton ge-hing itu nggak boleh menikah karena perbedaan sifat akan membuat rumah tangganya penuh konflik dan pasti bercerai, Mbah. Hiks.
Tolong Mbah, apa yang harus kulakukan? Aku dan pacarku sudah saling mencintai dan kami sudah pacaran lama. Masak harus bubar hanya karena hal-hal seperti ini sih? Sedih banget deh.
Jawaban Simbah aku tunggu ya. Jangan lama-lama ya, Mbah, apalagi sampai seribu tahun, keburu pengen nikah, Mbah. Terima kasih.
Mas Dida bukan Duda, tinggal di Kota Seribu Bunga.
*****
Salam, Mas Dilda, eh, Dida ya.
Saat Simbah membaca curhatmu ini kipas angin di samping Simbah hanya bisa godek-godek. “Weleh-weleh ada ya yang curhat kayak gini,” kipas angin kok ya sempat komentar kayak gitu. Maklum, masalah cinta, Simbah sudah selesai semua, tinggal yang belum selesai saja.
Kadang Simbah sering berkhayal ingin mengadakan sosialisasi kepada para orang tua di seluruh pelosok Nusantara. Mbok yao, kalau tahu anaknya sudah dewasa, sudah mengenal cinta mereka dikasih kisi-kisi harus cari pasangan yang bagaimana. Kalau ABG sudah tahu kisi-kisinya kan mudah. Tinggal nanya:
“Maaf sebelum cinta ini merambat ke hati, beritahu dong wetonnya.”
“Kenalin, Mbak, Saya Dida saya jamin saya bukan anak pertama atau ketiga.”
“Mbaknya lahirnya bukan di Selasa Kliwon kan, Mbak?”
Nah, kalau gini kan solutif dan ide ini dari Simbah lho. Lain waktu Simbah akan patenkan agar tidak diplagiat. Jika itu dipraktekkan, dan kalau Mas Dida mendapatkan jawaban yang tidak sesuai kan bisa langsung undur diri pelan-pelan meskipun sakit itu tak terelakkan.
“Lha kalau itu terlanjur terjadi, Mbah?”
Hmmmm … Ini yang agak sulit, Mas. (Biarin, Simbah suka Mas Dida kebingungan)
Simbah lagi-lagi teringat sebuah adegan di film favorit Simbah, Harry Potter. Di salah satu sekuelnya yang berjudul The Prisoner of Azkaban, Harry dihadapkan dengan dua pilihan. Dengan tongkat sihir di tangannya, Harry harus memilih melumpuhkan Snape, gurunya atau Sirius Black, orang yang selama ini dicari dementor mengerikan dari Azkaban.
Pilihan Harry tidaklah mudah, dengan ditekan kedua temannya, Hermione dan Ron untuk melumpuhkan Black dan misteri Peter Pettigrew akan terkubur selamanya atau melumpuhkan Severus Snape dengan mempertaruhkan nyawanya.
Simbah bahkan sempat menduga Si Harry ini akan melumpuhkan Black, tapi kenyataannya adalah sebaliknya. Harry akhirnya tidak menyesal atas pilihannya, dan Simbah pun bahagia.
Sayangnya Mas Dida bukan Harry Potter. Nggak pas bila namanya diganti Dida Potter, kan?
Simbah akan mencoba membantu analisis atau memperkirakan apa yang terjadi atas pilihan Mas Dida.
1# Kekasih
Simbah yakin Mas Dida akan bahagia bersanding dengan pasangan yang selama ini Mas Dida sayangi.
Bersama mengarungi samudera rumah tangga penuh ceria, karena ada yang setia. Seakan seluruh hidup Mas Dida ke depan penuh warna merah muda. Pink pink, gitu, Mas. Uwuwu banget, kan?
Namun, sebuah BANK penyelenggara KPR tiba-tiba menampar Simbah dengan mottonya “karena hidup bukan cuma tentang hari ini”.
Motto yang memuakkan bagi Simbah. Coba deh, bayangkan misalnya Mas Dida memilih kekasihnya dan yang terjadi adalah orang tua Mas Dida yang selalu mengungkit pilihan Mas Dida. Ya kalau diungkit sesekali, kalau seumur hidup setiap kali Mas Dida tersandung masalah. Duh, ini hidup cap apa?
Belum lagi misalnya nanti, Ibunda Mas Dida nggak mau menggendong cucunya, duh, Mas, itu menyakitkan sekali. Simbah bisa pastikan rasanya memang sakit. Masak nggak percaya sama Simbah?
Masih banyak aral melintang yang lain yang sebenarnya bisa Simbah sebutkan di sini. Namun, untuk keselamatan mental Mas Dedi sebaiknya saya sebutkan nanti di bawah.
2# Orang tua
Ini yang bisa dibayangkan terjadi bila Mas Dida memenuhi saran orang tua. Kelak bila Mas Dida sudah berumah tangga, orang tua akan dengan sigap membantu segenap kebutuhan mulai dari peralatan dapur, sofa, bahkan rumah.
“Wah bisa dicap anak yang nggak mandiri dong Mbah?”
Emang kita hidup di dunia ini di atas cap tetangga? Halah.
Bukan hanya materi, bisa saja nanti Mas Dida mempunyai masalah dengan istri, orang tua siap menjadi pemberi solusi yang pas. Komplit dah, lahir-batin, partikular-universal, akar-cabang. Paket komplit.
Orang tua dan mertua terlihat sayang sekali dengan keluarga Mas Dida. Mas Dida akhirnya bisa leluasa menjenguk dengan modal kaleng Kong Ghuan isi rengginang pulang dengan sekarung beras dan bawang. Lhoos.
Namun, bayangkan juga bila Mas Dida tidak bersama sang kekasih yang dicintai, selamanya.
Se-la-ma-nya ingat, Mas. Se-la-ma-nya.
Bila akun medsos Mas Dida masih follow akun mantan, nomor WA masih tersimpan setiap hari Mas Dida akan “tersiksa” dengan kebersamaan semu yang menggemaskan hati.
Hampir setiap hari Mas Dida akan menemukan wajahnya seakan bertebaran seantero lini masa, Facebook, IG, Twitter, story WA, dan lain sebagainya. Itu sangat meresahkan hati sekali lho, Mas. Masak nggak percaya sama Simbah lagi? Kebangetan kamu, Mas.
“Terus Dida harus gimana, Mbah?”
Mas Dida harus memilih seperti Harry Potter itu tadi, saya tidak bisa kasih solusi, kalau solasi, ada. Dan kini dipindah di lemari gara-gara cucu Simbah yang sudah suka resah dengan barang-barang yang tertata rapi.
Untung anak Simbah dulu manut saat Simbah nikahkan dengan Nduk Murni, anak teman Simbah. Meskipun Simbah sampai sowan ke Kiai mohon doa agar anak Simbah bisa cepat move on. Muahahahaha.
Maafkan Simbah, Mas Dida, hanya bisa memperuncing masalah Mas Dida. Salah sendiri masih meragukan kulit Simbah yang masih dan akan tetap putih dan mulus ini.
Selamat memilih.
Simbah