“Keberhasilan itu tidak lahir dari kebetulan. Ia hasil dari strategi publik yang sistematis, pendanaan jangka panjang, perlindungan hak cipta, kurikulum seni di sekolah, dan promosi budaya yang terintegrasi.”
*Catatan seorang ARMY yang percaya masa depan ekonomi bisa lahir dari kreativitas
Ketika Kim Namjoon, atau RM, leader BTS, berbicara di APEC CEO Summit 2025 di Gyeongju, dunia seolah berhenti sejenak. RM tidak sedang membawakan lirik atau koreo BTS, melainkan pesan bahwa budaya adalah kekuatan ekonomi dan diplomasi paling cepat menjangkau hati manusia.
Pidato itu terasa istimewa, terutama bagi Indonesia, sesama anggota APEC yang tengah mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Di tengah forum yang biasanya penuh istilah teknis seperti supply chain dan macroeconomic stability, RM berbicara tentang empati, keragaman, dan imajinasi.
Sebuah keberanian yang mungkin tampak sederhana, tapi sesungguhnya revolusioner: mengingatkan dunia bahwa ekonomi tak hanya bergerak oleh angka, tetapi juga oleh makna.
Dan tahun depan, pada Maret 2026, BTS dijadwalkan untuk comeback setelah masa wajib militer mereka berakhir. Bagi banyak orang, ini sekadar kabar hiburan. Namun bagi yang melihat dari sisi lain, itu juga momentum ekonomi global, gelombang konsumsi, promosi, dan diplomasi budaya yang berputar lintas negara. Sebuah bukti hidup, bahwa budaya–ketika dikelola serius–bisa menjadi mesin ekonomi.
Dari krisis menuju kreativitas
Kisah Korea Selatan sudah sering dikutip, tapi selalu layak diulang karena pelajarannya jelas. Setelah krisis moneter Asia 1997, pemerintah mereka mengubah arah pembangunan: dari industri berat menuju investasi besar di budaya, teknologi, dan pendidikan seni.
Dua dekade kemudian, Hallyu atau Korean Wave menjelma menjadi fenomena ekonomi bernilai miliaran dolar, menggerakkan ekspor musik, film, pariwisata, bahkan gaya hidup.
Keberhasilan itu tidak lahir dari kebetulan. Ia hasil dari strategi publik yang sistematis, pendanaan jangka panjang, perlindungan hak cipta, kurikulum seni di sekolah, dan promosi budaya yang terintegrasi. Sebuah model yang menunjukkan bahwa kreativitas bukan hanya ekspresi, tetapi juga kebijakan.
Kreativitas sebagai sumber daya ekonomi
Indonesia memiliki potensi yang tak kalah besar. Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat, ekonomi kreatif menyumbang 7,4 persen terhadap PDB nasional, lebih dari Rp1.300 triliun, dan menyerap hampir 20 juta tenaga kerja. Namun, sebagian besar kontribusi masih datang dari kuliner, fesyen, dan kriya, sementara musik, film, animasi, dan gim digital tertinggal jauh.
Kondisi ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, kreativitas telah terbukti bernilai ekonomi nyata. Kedua, nilainya belum optimal karena kebijakan pembiayaan belum melihat budaya sebagai aset strategis.
Sebagian besar pelaku kreatif masih mengandalkan modal pribadi. Sistem perbankan belum memiliki instrumen untuk menilai intangible assets seperti hak cipta atau ide kreatif. Akibatnya, banyak gagasan besar berhenti di tahap konsep, tanpa sempat berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Dari hibah menuju investasi
Masalahnya, kebijakan ekonomi dan fiskal di Indonesia masih memperlakukan budaya sebagai “penerima hibah”, bukan sebagai sektor yang layak diinvestasikan. Padahal, hibah bersifat konsumtif; investasi bersifat produktif.
Beberapa inisiatif sudah muncul, Dana Indonesiana, LPDP Ekonomi Kreatif, hingga uji coba pembiayaan berbasis Hak Kekayaan Intelektual. Langkah ini menunjukkan arah positif, namun masih berjalan terpisah. Indonesia membutuhkan ekosistem finansial kreatif yang terhubung dan berkelanjutan, bukan proyek yang berhenti setelah konferensi atau festival selesai.
Penelitian UNCTAD (2023) memperkuat urgensinya: ekonomi kreatif global tumbuh dua kali lebih cepat dibanding ekonomi konvensional, dengan nilai ekspor mencapai US$1,1 triliun. Negara yang sukses, seperti Korea, Inggris, Meksiko, tidak menunggu seniman sukses dulu baru memberi dukungan. Mereka berinvestasi agar kesuksesan itu mungkin terjadi.
Jalan ke depan
Ada tiga hal yang bisa mempercepat langkah Indonesia. Pertama, membentuk lembaga intermediasi keuangan kreatif, yang menjembatani seniman dan wirausaha kreatif dengan investor. Korea memiliki KOCCA yang efektif menyalurkan pendanaan berbasis HKI sambil melatih manajemen bisnis dan pemasaran global.
Kedua, mengembangkan skema matching fund antara pemerintah dan swasta, agar risiko investasi terbagi dan modal mengalir lebih cepat. Dan yang ketiga, memperkuat diplomasi budaya sebagai strategi ekonomi luar negeri. Produk budaya bukan hanya komoditas, tetapi soft power, cara halus untuk menegaskan identitas nasional di tengah persaingan global.
Bahasa masa depan
Seruan RM di APEC agar dunia memberi dukungan finansial bagi kreator sebenarnya sejalan dengan kebutuhan Indonesia. Dukungan itu tak cukup berbentuk penghargaan atau festival; yang dibutuhkan adalah reformasi kebijakan fiskal agar kreativitas memiliki akses pembiayaan yang adil.
Budaya bukan cerita masa lalu. Ia adalah bahasa masa depan yang menyatukan ekonomi dan empati, kebanggaan dan daya saing, diplomasi dan mimpi. Dan ketika BTS kembali berdiri di panggung pada Maret 2026, mungkin itu juga saat yang tepat bagi Indonesia untuk menyadari bahwa masa depan ekonomi bisa dimulai dari sebuah lagu, film, atau ide yang lahir dari kreativitas bangsanya sendiri. [RW]
Listra Mindo Lubis, Ibu rumah tangga dengan 2 anak. Tinggal di Depok.